Epidemiologi lapangan dasar: Panduan

Halaman ini adalah sebuah versi terjemahan dari halaman Basic Field Epi: Manual dan terjemahannya telah selesai 100% dari sumber terkini.

Daftar isi

Gambaran Umum Epidemiologi Lapangan

Peran paravet

Paravet di Indonesia memberikan pelayanan kepada pemilik ternak dengan memberi diagnosis banding, melakukan pengobatan, dan mencegah penyakit pada hewan. Pelayanan-pelayanan tersebut membantu meningkatkan kesehatan dan produksi ternak.

Paravet sering dipekerjakan oleh pemerintah setempat sebagai petugas kesehatan hewan di tingkat kabupaten untuk membantu kegiatan-kegiatan seperti investigasi penyakit, program pengendalian dan vaksinasi, melakukan sensus, dan penyediaan jasa pembibitan.

iSIKHNAS merupakan sistem informasi kesehatan hewan Indonesia. Kesuksesan iSIKHNAS bergantung pada kerja vital paravet dalam memberikan kontribusi data ke dalam sistem iSIKHNAS. Dengan menggunakan pesan SMS yang sederhana, paravet dapat memasukkan informasi kesehatan dan penyakit hewan dengan cepat dan efisien dari lapangan. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pengumpulan data dan menyediakan data dengan cepat kepada orang-orang yang memerlukannya untuk mengambil keputusan yang andal dengan berdasarkan bukti. iSIKHNAS membuat semua petugas yang terkait dengan kesehatan hewan termasuk paravet dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pemilik ternak dan membuat hasil yang lebih baik bagi masyarakat di mana mereka berada.

Pelatihan ini dirancang untuk mendukung tugas paravet dan meningkatkan tingkat kepuasan kerja mereka.

Apa itu epidemiologi lapangan

Epidemiologi adalah studi mengenai pola dan penyebab penyakit di dalam kelompok atau populasi hewan.

Epidemiologi lapangan mengacu pada penerapan keterampilan-keterampilan epidemiologi di lapangan - di peternakan dan dalam pekerjaan sehari-hari untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi oleh pemilik ternak.

Kemampuan epidemiologi lapangan sama pentingnya dengan kemampuan klinis veteriner ketika berhubungan dengan penyakit baik pada hewan individu maupun kelompok hewan.

Epidemiologi lapangan membantu paravet untuk melihat lebih jauh, tidak pada individu hewan tetapi lebih pada pola dan penyebab penyakit di dalam populasi yang lebih luas serta sumber informasi lainnya. Informasi yang terkumpul ini membantu paravet untuk kembali pada kasus individu hewan dan memberi perawatan yang lebih efektif, mengendalikan penyebaran penyakit, mencegah kematian atau kesakitan, dan mengurangi munculnya persoalan kronis pada ternak.

Epidemiologi lapangan juga memungkinkan paravet membantu petani dalam urusan yang berhubungan dengan produksi ternak (hal-hal seperti penambahan berat badan, produksi susu atau kesuburan) dan faktor yang mempengaruhi produksi.

Mengapa keterampilan epidemiologi berguna bagi paravet

Pelatihan epidemiologi lapangan akan membantu paravet untuk:

  • Memahami penyebab penyakit pada tingkat populasi untuk menjelaskan mengapa penyakit muncul, bahkan ketika penyebab pastinya tidak begitu jelas.
  • Memberi saran yang lebih baik kepada peternak mengenai pengobatan dan pencegahan penyakit.

Paravet menggunakan keterampilan-keterampilan veteriner klinis mereka setiap saat untuk mendiagnosa, merawat dan mencegah penyakit pada setiap hewan atau hewan dalam jumlah yang kecil.

Pengetahuan epidemiologi lapangan akan memberi keterampilan-keterampilan klinis dan memberi pemahaman yang lebih mendalam dari persoalan yang muncul dan bagaimana meresponnya.

Keterampilan-keterampilan epidemiologi juga akan membantu anda untuk menyediakan data yang baik untuk iSIKHNAS dan menggunakan informasi iSIKHNAS untuk membantu memantau, mencegah dan merawat penyakit di dalam wilayah anda.

Meningkatkan keterampilan-keterampilan dalam epidemiologi lapangan akan membantu masyarakat setempat dan meningkatkan pentingnya peran anda dalam masyarakat. Manfaat-manfaat tersebut termasuk:

  • Pencegahan penyakit dan pengelolaan hewan yang lebih baik akan menjadikan hewan-hewan sehat sehingga mereka lebih produktif.
    • Peternak akan mendapatkan hasil yang lebih dan memperbaiki keseluruhan kesejahteraan dan keamanan keuangan mereka.
  • Apresiasi dan kepercayaan yang meningkat pada layanan-layanan paravet akan membuat peternak meminta paravet setempat untuk membantu mereka lebih cepat dan lebih sering ketika mereka memiliki masalah dengan ternak mereka.
    • Paravet akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk merawat hewan dan meningkatkan penghasilan mereka jika peternak memberitahu mereka tentang ternak yang sakit
  • Desa/masyarakat akan menjadi lebih produktif dan sehat (hewan dan manusia) dengan hewan lebih sehat, peternak puas dan lebih sedikit penyakit zoonotik.
  • Pemanfaatan keterampilan-keterampilan yang lebih baik dalam investigasi penyakit, pengendalian penyakit dan pelaporan di tingkat desa, kabupaten dan provinsi akan meningkatkan:
    • identifikasi penyakit-penyakit
    • survailans kebutuhan-kebutuhan penyakit setempat dengan informasi yang tersedia untuk kepentingan tingkat
    • informasi yang berguna untuk pemerintah untuk menyediakan bantuan sumber daya untuk mengurangi penyakit (contohnya program-progrm vaksinasi) dan dampak-dampak penyakit di dalam satu kabupaten atau provinsi
    • keuntungan-keuntungan ekonomi masyarakat melalui hewan-hewan yang sehat

Sebagai contoh, keterampilan-keterampilan epidemiologi lapangan akan membantu di situasi-situasi sebagai berikut:

  • Menjelaskan dengan lebih baik mengapa penyakit yang sudah diketahui terjadi di suatu waktu dan tempat tertentu
    • Mengapa anthrax terjadi pada hewan-hewan di tempat dan waktu ini?
  • Mengidentifikasi perawatan-perawatan dan pencegahan-pencegahan
    • Anthrax - Bagaimana saya mencegah ternak supaya tidak menjadi lebih sakit dan dari kematian?
  • Investigasi dan mencegah penyakit yang sebab-sebabnya mungkin tidak diketahui atau tidak dipahami.
    • Saya tidak tahu ini penyakit apa, tapi bagaimana saya bisa mencegah supaya hewan tidak tambah sakit dan mati?
  • Jelaskan bagaimana dan mengapa penyakit bisa muncul melalui pemahaman interaksi antara berbagai penyebab penyakit
    • Mengapa selama musim hujan sapi-sapi saya selalu mengalami diare, tiga minggu setelah ternak tetangga saya sakit?

Menggunakan keterampilan epidemiologi dan kemampuan klinis secara bersamaan

Kemampuan klinis dan uji laboratorium digunakan untuk mengumpulkan informasi dari satu hewan sakit untuk mendiagnosis penyebab penyakit.

Epidemiologi mengumpulkan informasi dari kelompok hewan (sakit dan sehat) untuk menjelaskan pola yang membantu kita menentukan kemungkinan penyebab penyakit.

Pada tingkat individu hewan, keterampilan veteriner klinis digunakan untuk:

  • Memeriksa binatang sakit
  • Mengindentifikasi kondisi atau penyakit yang menyebabkan hewan sakit
  • Melakukan pengobatan untuk menyembuhkan hewan

Di peternakan Budi, satu anak sapi mengalami bengkak pada pusarnya (tali pusar menempel pada anak sapi selama kehamilan). Anak sapi ini menjadi sakit dan berhenti minum. Pak Paimin, seorang paravet yang memeriksa anak sapi ini, menemukan bengkak di pusar itu, memotongnya untuk mengeluarkan nanah dan memberinya antibiotik. Anak sapi ini sembuh total.

Epidemiologi menerapkan satu pendekatan yang terstruktur untuk menginvestigasi penyakit dan penyebab penyakit dalam kelompok hewan (populasi). Pendekatan yang paling sering digunakan adalah dengan mengumpulkan informasi pada hewan yang terdampak oleh penyakit dan hewan sejenis yang tidak sakit (hewan sakit dan hewan sehat). Informasi dari dua kelompok ini kemudian dibandingkan untuk melihat perbedaan yang menjelaskan mengapa beberapa hewan sakit dan yang lain tidak sakit.

Di peternakan Pak Soleh, ada banyak sapi betina dan banyak anak sapi yang lahir dalam satu musim. Tahun ini, sebagian besar anak sapi mengalami abses di bagian pusar. Pak Soleh ingin hewan-hewannya diobati sehingga mereka bisa sembuh dan ingin mengetahui mengapa banyak dari sapinya mengalami permasalahan tersebut tahun ini. Dia juga ingin mengetahui apa yang dapat dia lakukan untuk mencegah kejadian yang sama di tahun depan.

Paravet bernama Ibu Putri, mengujungi peternakan Pak Soleh. Dia menemukan bahwa semua anak sapi yang mengalami abses di bagian pusar lahir di halaman keil yang sangat kotor. Semua anak sapi yang lahir di di padang kecil di atas rumput dalam keadaan sehat.

Dia menyimpulkan anak sapi yang lahir di halaman yang kotor menjadi sakit karena lingkungan yang kotor membuat mereka terpapar oleh infeksi bakterial segera setelah kelahiran mereka. Dia menyarankan Pak Soleh bahwa membersihkan halaman untuk melahirkan di padang rumput yang bersih akan membantu untuk menurunkan risiko terkena abses di masa mendatang.

Alasan satu penyakit terjadi pada waktu, tempat tertentu dan hanya di beberapa hewan adalah karena penyebab untuk penyakit tersebut ada pada beberapa hewan, dan tidak ada pada yang lainnya. Jika kita dapat memahami penyebabnya maka kita mungkin dapat mengubah praktik manajemen untuk mencegah penyakit.

Dokter hewan dan paravet yang baik perlu keterampilan klinis individu dan keterampilan epidemiologi lapangan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pemilik ternak.

Bahkan ketika penyakit tertentu diketaui dengan baik dan mudah didiagnosis, keterampilan epidemiologi lapangan membuat paravet memberikan saran yang lebih baik kepada peternak mengenai mengapa suatu penyakit dapat terjadi dan bagaimana peternak dapat mencegah penyakit tersebut pada hewan yang lain di peternakan sekarang atau di beberapa tahun ke depan.

Keterampilan epidemiologi lapangan sangat berguna ketika terjadi penyakit baru atau yang belum diketahui atau ketika penyebab penyakit tidak diketahui.

Keterampilan Epidemiologis dapat membantu mencegah penyakit zoonosis

Zoonosis adalah penyakit hewan yang dapat menular pada manusia.

Keterampilan epidemiologi membantu untuk memahami bagaimana penyakit zoonosis terjadi dan bagaimana mencegah baik hewan maupun manusia terpapar dan tertular. Terdapat beberapa penyakit zoonisis di Indonesia. Beberapa contoh mencakup:

  • Rabies, brucellosis, Q-fever, leptospirosis, psittacosis, trichinosis, echinococcus, Japanese encephalitis, toxoplasmosis, salmonellosis, scabies, ringworm,virus Nipah virus dan lainnya.

Berikut ini merupakan rincian beberapa penyakit zoonosis yang lazim terjadi.

  • Rabies - Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf pusat (otak dan tulang belakang). Penularan pada umumnya melalui gigitan atau cakaran dari hewan rabies. Manusia yang terinfeksi rabies hampir selalu berakhir dengan kematian.
  • Brucellosis - Brucellosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang dapat menyebabkan sakit pada beberapa jenis hewan. Manusia tertular melalui kontak dengan hewan atau produk hewan yang terkontaminasi oleh bakteri Brucella.
  • Q fever - Q fever adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Coxiella burnetii. Q fever sebagian besar menyerang sapi, domba dan kambing. Biasanya ditularkan ke manusia melalui kontak dengan material biologis dari hewan yang terinfeksi misalnya darah, jaringan, plasenta atau ketuban.
  • Leptospirosis - Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang hewan dan manusia. Penyakit ini dapat menimbulkan berbagai gejala di manusia.
  • Psittacosis - dikenal juga dengan nama parrot fever dan ornithosis, adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri bernama Chlamydia psittaci, beberapa species burung yang berbeda dapat terkena dan menyebarkan penyakit ini. Pada manusia, penyakit ini dapat menyebabkan pneumonia yang parah dan masalah-masalah kesehatan lainnya yang serius.
  • Trichinosis - disebut juga trichinellosis adalah penyakit parasit yang ditularkan ke manusia melaui konsumsi daging mentah atau tidak matang dari hewan yang terinfeksi oleh larva trichinella worm. Infeksi oleh trichinella biasanya ternjadi pada hewan karnivora liar (pemakan daging) tetapi dapat juga terjadi pada babi.

Tanda, sindroma dan diagnosa

Dampak penyakit terhadap kesehatan hewan dan produksi

Penyakit pada hewan sering menimbulkan penurunan kesehatan dan produksi dan dapat menyebabkan kematian.

Ternak biasanya dipelihara untuk produksi daging, susu, kulit, telur, pupuk, dan anakan (anak sapi, anak ayam, dsb). Ternak yang sehat lebih produktif daripada hewan yang dakit.

Beberapa penyakit menyebabkan hewan berubah perilaku dan terlihat sakit. Beberapa hewan yang sakit dapat mati dan dapat pula sembuh. Mudah untuk mengetahui hewan yang sakit parah karena penyakit.

namun, kadang-kadang sulit untuk mengetahui apakah hewan sakit atau tidak. Mereka dapat menunjukan tanda-tanda ketidaknormalan yang jelas. Itulah mengapa penting bagi para peternak untuk sering memperhatikan (memonitor) hewan mereka.

Hewan yang sakit dapat kelihangan nafsu makan beberapa saat dan kehilangan berat badan. Kadang-kadang hewan terlihat normal tetapi mengalami penurunan produksi (turun berat badan, infertilitas, keguguran, penurunan produksi telur). Beberapa penyakit meyebabkan penurunan produksi pada hewan.

Banyak hal lain selain penyakit infeksius yang dapat menyebabkan produksi yang buruk pada hewan. Sebagai contoh termasuk hewan yang diberi pakan berkualitas rendah, tidak diberi makan cukup, atau makanan dan air yang tidak dimakan.

Keterampilan epidemiologi dan kemampuan klinis perlu digunakan ketika menginvestigasi performa yang buruk pada ternak. Iversigator yang baik akan dapat mengetahui apakah produksi yang buruk atau kesehatan yang buruk disebabkan oleh penyakit infeksius atau atau oleh penyebab lainnya seperti pakan yang buruk.

Kemarin Pak Budi melaporkan kepada Pelsa setempat bahwa satu dari sapinya pincang. Pelsa mengirimkan laporan Tanda Umum ke iSIKHNAS.

Pak Paimin (paravet) menerima notifikasi dari iSIKHNAS dan berbicara dengan Budi. Budi mengatakan kepada Pak Paimin bahwa satu sapinya pincang dan sudah berlangsung beberapa minggu sekarang. Sapi tersebut kurus dan anaknya lemah. Juga ada 2 sapi lainnya yang terkena diare.

Pak Paimin mendengarkan Pak Budi menceritakan sapinya yang pincang dan membuat beberapa daftar kemungkinan penyebabnya (diagnosa banding) untuk situasi ini. Daftar tersebut mencakup: luka, abses, penyakit infeksius (brucellosis, black leg, dsb.), atau trauma (patah kaki).

2 sapi yang terkena diare mungkin sakit disebabkan oleh parasit,terlalu banyak biji-bijian ,infeski bakterial, atau penyakit liver akibat keracunan. Penyakit-penyakit tersebut adalah diagnosa banding untuk diarea pada sapi.

Pak Paimin memutuskan untuk melakukan kunjungan ke peternakan untuk mendapatkan informasi lebih untuk mengerucutkan daftar yang dia buat.}}

Tanda-tanda penyakit

Tanda adalah perubahan pada hewan yang disebabkan oleh penyakit dan dapat dideteksi oleh manusia.

Banyak penyakit yang membuat hewan sakit, demam dan tidak mau makan atau minum untuk beberapa waktu. Beberapa tanda penyakit mudah diobservasi oleh manusia. Peternak yang tau hewannya dengan baik akan dapat mendeteksi perubahan kecil pada perilaku yang mengindikasikan bahwa mungkin hewannya sakit. Ini akan membantu mereka mendapat bantuan dengan dari paravet sebelumnya kasusnya menjadi sangat serius.

Akan mudah untuk melihat tanda-tanda dari beberapa penyakit, tetapi sulit untuk melihat tanda-tanda dari penyakit lainnya.

  • Tanda-tanda penyakit yang mudah dilihat adalah pincang, batuk, diare, penurunan berat badan yang drastis dan kematian.
  • Tanda-tanda penyakit yang lebih sulit untuk dilihat adalah infertilitas dan penambahan berat yang berkurang atau penurunan produksi susu.

Kebanyakan tanda memberikan indikasi bagian dari tubuh mana dan sistim tubuh mana yang berubah akibat penyakit.

Sebagai contoh:

  • Diare mengindikasikan penyakit-penyakit yang mempengaruhi pergerakan perut atau penyerapan (sistem pencernaan). Ada banyak penyakit yang mungkin menyebabkan diare.
  • Batuk dan susah bernafas mengindikasikan penyakit paru-paru atau saluran udara (sistem pernafasan)
  • Air liur dari mulut mengindikasikan ketidakmampuan untuk menelan, bisa karena penyakit sistem syaraf, benda tersangkut di tenggorokan, atau peningkatan produksi air liur
  • Kelumpuhan atau perubahan kecepatan berjalan bisa mengindikasikan penyakit atau luka yang mempengaruhi kaki, tulang punggung atau otak

Petugas teknis dilatih untuk melakukan pemeriksaan klinis pada hewan yang sakit, untuk melihat tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa hewan tersebut mungkin sakit. Termasuk juga perubahan-perubahan berikut:

  • suhu rektal
  • Denyut jantung
  • Denyut nadi
  • Denyut pernafasan
  • Suara pernafasan
  • Suara perut
  • Warna ingus.

Waktu yang dibutuhkan oleh tanda-tanda penyakit untuk berkembang bervariasi tergantung pada jenis penyakit menularnya. Oleh karena itu, waktu yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi seekor hewan juga bervariasi.


Sebagai contoh:

  • Antraks dan haemorrhagic septicaemia adalah penyakit yang cepat berkembang dan menimbulkan tanda-tanda klinis yang parah atau kematian.
  • Virus Papilloma (menyebabkan bisul pada kulit sapi) adalah penyakit yang menyebabkan tanda-tanda yang tidak terlalu terlihat pada banyak hewan dengan sedikit dampak pada kesehatan atau produktifitas.
  • BJD adalah penyakit yang berkembang dengan sangat lambat, menyebabkan diare yang kronis pada ternak tua. Penyakit ini membutuhkan waktu yang lama untuk menimbulkan efek-efek yang serius tersebut, sapi akan terinfeksi ketika mereka masih sangat muda dan tidak menunjukkan tanda-tanda sampai mereka dewasa. BJD menunjukkan tanda-tanda yang sama dengan infeksi pencernaan yang disebabkan oleh cacing.

Kadang-kadang hewan menunjukkan tanda-tanda, seperti penurunan berat badan, yang mungkin disebabkan oleh hal-hal lain kecuali penyakit menular, seperti misalnya luka (patah rahang), masalah-masalah dengan gigi atau bahkan karena kurang makan.

iSIKHNAS sudah menyusun daftar tanda-tanda umum dan kode-kode untuk membuat laporan mengenai tanda-tanda tersebut lebih mudah dan lebih konsisten. Pelapor desa (pelsa), paravet dan veteriner memiliki peran penting dalam identifikasi, pelaporan, dan pengobatan tanda-tanda tersebut. Daftar dibawah ini telah ditetapkan untuk paravet yang menggunakan iSIKHNAS untuk pertama kalinya. Daftar ini akan berkembang ketika paravet lebih berpengalaman.


Contoh-contoh tanda-tanda yang bisa dilaporkan ke iSIKHNAS dan kode-kodenya

Kode Tanda
TL tanda lain
PA   Kelainan perilaku
GG     gila galak
LP     lumpuh
LMH     Lemah
MN     Mata bernanah
MPC     Mata peka cahaya
RDT     Radang Telinga
AL     Liur berlebihan
KRM     Keropeng mulut
MTH     Muntah
MC     mencret
GT     gatal
LB     luka berdarah
PC     pincang
SB     sendi bengkak
LK     luka pada kaki
BT     batuk
HB     hidung beringus
PR     prolaps rahim
KG     keguguran
DK     kesulitan lahir
KP     Kematian Pedet
KLP     Kelainan Pedet
AES     anestrus
KBR     Kawin Berulang
BRT     Berahi tenang
MT     mati mendadak
SM     sakit akut
PK     peningkatan kematian
DM       demam
RB         rahang bawah bengkak
BP         busung papan pada dada


Sindrom

Sindrom mengacu pada satu tanda khusus atau sekelompok tanda yang dapat dengan mudah dikenali dan mungkin mengindikasikan penyakit penting tertentu.

Sebagai contoh:

  • Sindrom pernapasan dapat didefinisikan mencakup hewan apa pun yang menunjukkan satu atau lebih dari satu tanda-tanda klinis berikut: batuk, kesulitan bernapas, hidung berair, napas memburu, dan sebagainya.

Sindrom digunakan untuk mengidentifikasi hewan yang mungkin mengidap penyakit penting tertentu.

Sebagai contoh:

Rabies adalah satu penyakit penting. Tidak mungkin mendiagnosa rabies secara pasti pada anjing yang hidup (atau hewan lainnya). Diagnosa pasti rabies hanya terjadi jika otak atau jaringan lain diperiksa oleh seorang ahli patologi setelah hewan mati atau dibunuh.

Namun, banyak anjing yang terinfeksi rabies akan menunjukan perubahan perilaku - menjadi lebih agresif, menunjukan tetesan liur dari mulut dan sangat mungkin menyerang dan menggigit hewan lain dan manusia. Beberapa anjing menunjukan tanda-tanda ini walaupun tidak terinfeksi rabies - hanya karena sifat anjing tersebut agresif atau meneteskan liur karena ada sesuatu yang mengganjal di mulut atau tenggorokan mereka.

Kami menggunakan sindrom perubahan dalam perilaku (agresi, menggigit, air liur, depresi) sebagai cara untuk mengidentifikasi anjing yang mungkin mengidap rabies. Anjing yang menunjukkan tanda-tanda ini dapat diisolasi dan diawasi untuk melihat apakah ada tanda-tanda yang menunjukkan penyakit rabies dan mereka akan dibunuh atau dikirim untuk pemeriksaan rabies.

Banyak sindrom yang berhubungan pada satu penyakit sehingga ketika hewan menunjukkan tanda-tanda khusus tersebut sangat mungkin binatang ini terkena penyakit ini. Contoh-contoh termasuk rabies ( seperti dijelaskan di atas ) atau kematian tiba-tiba dengan darah dari berasal dari kumlah (kemungkinan antraks).

Sindrom sering digunakan dalam program pengendalian penyakit untuk penyakit yang penting untuk memastikan penyakit-penyakit itu teridentifikasi ketika muncul. Pemilik ternak dan petugas kesehatan hewan didorong untuk memeriksa hewan dengan sindrom-sindrom yang sudah pasti. Hewan yang menunjukkan tanda-tanda tersebut dapat diperiksa dengan lebih hati-hati atau diambil sampelnya untuk uji laboratorium untuk mendiagnosa penyakit. Banyak hewan akan terbukti tidak mengidap penyakit tersebut. Jika penyakit penting ini dikonfirmasi lalu kegiatan-kegiatan pengendalian penyakit lainnya bisa dilaksanakan.

iSIKHNAS mengunakan sindrom yang luas, karena penyakit yang dimaksud sangat penting dan kita tidak ingin melewatkan satu kasus sekalipun. Pelapor desa (pelsa) dan para-vets harus melaporkan setiap kasus dugaan penyakit prioritas. Hal yang penting adalah kita tetap waspada pada ancaman penyakit-penyakit ini. Kebanyakan laporan-laporan prioritas akan berakhir dengan satu diagnosa yang bukan merupakan penyakit prioritas. Walaupun demikian sangat penting untuk tetap melaporkan sindrom prioritas (mengunakan pesan laporan SMS P) dan biarkan dokter hewan melakukan investigasi lebih menyeluruh.

iSIKHNAS mengunakan sindrom prioritas sebagai berikut untuk pelaporan penyakit:

  • MMU - Kenaikan mendadak kasus kematian pada ayam dan unggas lain
    • sindrom ini mencoba mengidentifikasi kasus-kasus Avian Influenza
    • Penyakit menular lain yang bisa menunjukkan sindrom ini termasuk: Penyakit ND, infeksi laryngotracheitis, dan duck plague.
    • Sebab-sebab tidak menular termasuk: keracunan akut.
  • KGS - Abortus pada trisemester ketiga atau pembengkakan sendi pada ternak
    • sindrom ini mencoba untuk mengidentifikasi kasus-kasus Brucellosis
    • Penyakit menular lain yang bisa menunjukkan sindrom ini termasuk: infeksi bakteri dan virus dapat menyebabkan abortus dan pembengkakan sendi.
    • Penyebab tidak menular lain dari sindrom ini termasuk: kondisi genetik, paparan pada racun,dan pemberian beberapa obat.
  • MTD - Kematian mendadak dengan darah dari mulut, hidung atau lubang-lubang lain di tubuh ternak
    • sindrom ini mencoba mengidentifikasi kasus-kasus Anthrax
    • Penyakit menular lain yang dapat menunjukkan sindrom ini termasuk: blackleg dan leptospirosis.
    • Penyebab tidak menular termasuk sambaran petir, keracunan timbal, hypo-magnesia dan kembung.
  • PLL - Pincang, air liur berlebihan, dan luka pada mulut / kaki / puting di ternak
    • sindrom ini mencoba untuk mengidentifikasi kasus-kasus Penyakit Kuku dan Mulut
    • Penyakit menular lain yang dapat menghasilkan sindrom ini termasuk: vesikuler stomatitis, bluetongue, bovine herpesvirus, demam malignant catarrhal, pestivirus, mycotic stomatitis, dan rinderpest.
  • GGA - Perubahan-perubahan perilaku, agresi atau depresi yang meningkat, air liur yang berlebihan dan gigitan pada anjing
    • sindrom ini mencoba mengidentifikasi kasus Rabies
    • Penyakit menular lain yang dapat menghasilkan sindrom ini termasuk: canine distemper, penyakit Aujesky, dan penyakit menular lain yang berhubungan dengan otak.
    • Penyebab tidak menular termasuk - neoplasia, trauma, keracunan atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
  • DMB - Demam tinggi, radang selaput mata (mata merah), dan meningkatnya kematian pada babi
    • sindrom ini mencoba untuk mengidentifikasi kasus Classical Swine Fever
    • Penyakit menular lain yang dapat menghasilkan sindrom ini termasuk: Virus African swine fever, dan infeksi bakteri dan virus lain.
    • Penyebab-penyebab tidak menular termasuk paparan pada racun seperti misalnya antikoagulan.

Diagnosa pembanding

Sebuah diagnosa pembanding adalah satu penyakit yang dapat menimbulkan tanda-tanda klinis yang telah diamati. Seringkali ada lebih dari satu penyakit yang menyebabkan tanda-tanda yang sama. Saat memeriksa hewan sakit, biasanya disusun satu daftar diagnosa banding dari penyakit-penyakit yang mungkin menyebabkan hewan sakit.

Biasanya penyakit-penyakit didaftar sesuai urutan dari besar kemungkinan sampai kecil kemungkinan.

Di peternakan Budi ada dua sapi diare. Pak Paimin dapat membuat daftar penyakit yang memiliki tanda-tanda klinis tersebut.

  • Parasit (cacing, coccidia, liver fluke)
  • Konsumsi biji-bijian yang berlebihan
  • Keracunan
  • Infeksi salmonella di perut (bakteri)
  • Infeksi penyakit Johne (bakteri)
  • Infeksi virus Bovine (virus)
  • Rumput berair yang segar
  • Perubahan mendadak pada makanan

Investigasi penyakit kemudian dipakai untuk mencoba dan menetapkan penyakit mana yang paling tidak menyebabkan tanda-tanda tersebut dan mana yang lebih mungkin. Proses ini akan mengerucut pada daftar yang lebih singkat dan kadang-kadang satu diagnosa.

Diagnosa pasti

Sebuah diagnosa pasti didapat jika dokter hewan yakin ada satu penyakit yang paling mungkin menyebabkan hewan sakit. Dokter hewan memanfaatkan semua informasi diagnostik yang ada(termasuk sejarah, faktor klinis, lingkungan, informasi laboratorium dan epidemiologis).


Sering paravet harus melakukan investigasi penyakit sebelum diagnosa pasti bisa dihasilkan. Hal ini termasuk pengumpulan sampel dari hewan yang sakit (dan yang tidak sakit)untuk pengujian laboratorium.

Investigasi penyakit

Pendekatan untuk investigasi penyakit

Investigasi penyakit biasanya dilakukan karena seorang peternak khawatir satu hewan atau lebih menunjukkan tanda-tanda tidak wajar atau mati. Bagian pertama dari investigasi penyakit terdiri dari empat kegiatan. Kegiatan ini memadukan epidemiologi lapangan dan ketrampilan veteriner klinis.

Mencari tahu sejarah ternak

Untuk mengetahui apa yang terjadi pada period sebelum penyakit diperhatikan seorang paravet harus berbicara dengan peternak mengenai ternaknya dan bagaimana dia mengelola peternakannya. Mengambil sejarah yang baik adalah sebuah seni; ini membutuhkan diplomasi, penggunaan bahasa yang tidak teknis, dan hubungan yang baik dengan peternak. Pencatatan sejarah melibatkan pengumpulan informasi mengenai:

  • Hewannya: Spesies, bibit, jenis kelamin, umur, indentifikasi hewan yang terdampak
  • Masalahnya: tanda-tanda klinis, perkembangan tanda-tanda dari waktu ke waktu, jumlah hewan yang terdampak
  • Pengobatan yang diberikan oleh peternak
  • Kandang dan pakan: dimana hewan dipelihara dan akses mereka pada pakan dan air
  • Hewan-hewan lain yang ada di peternakan
  • Kejadian-kejadian baru-baru ini yang mungkin berhubungan(lalulintas hewan pada atau di luar peternakan, banjir, pengobatan kimiawi untuk tanaman, atau pemakaian bahan kimia di lingkungan peternakan)

Template:Contoh

Pemeriksaan klinis sapi yang sakit

Pemeriksaan dasar hewan yang sakit terdiri dari:

  • Penampilan secara umum
    • Kondisi tubuh hewan
    • Bengkak/benjolan
    • Terang, tertekan, bosan
    • Pemeriksaan kotoran atau air kencing yang sudah ada di tanah
  • Pernafasan dan suara paru-paru
  • Detak jantung
  • Denyut pulsa dan kekuatan
  • Suhu tubuh
  • Warna membran mukosa
  • Waktu isi ulang kapilari(<2 detik) - waktu yang dibutuhkan darah untuk kembali setelah kulit atau membran ditekan dengan ibu jari
  • Suara perut
  • Palpasi - kelenjar getah bening, kulit, sendi, perut,

Mungkin akan ada alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada wilayah-wilayah seperti:

  • pemeriksaan rektal (uji kehamilan pada sapi)
  • pemeriksaan mulut
  • investigasi lebih lanjut tanda-tanda tak normal yang bisa terlihat

Semua hasil pengamatan harus dicatat. Setelah pemeriksaan klinis selesai paravet dapat mempertimbangkan tanda-tanda penyakit yang terlihat dan menafsirkannya dengan sejarah yang sudah dikumpulkan untuk memutuskan penyakit mana yang mungkin menyebabkan persoalan (daftar diagnosa pembanding).

Dimana ternak mati, pemeriksaan post mortem harus dilakukan untuk mencari perubahan-perubahan yang mungkin menunjukkan kemungkinan penyakit yang bisa ditambahkan dalam daftar diagnosa pembanding.

Pak Paimin memeriksa dua sapi Budi yang mengalami diare. Dia memeriksa sapi-sapi tersebut dan keduanya tampak sedikit lemah, mata cekung, dan tampak depresi. Dari jauh, sapi-sapi tersebut terlihat mencret dengan kotoran yang sangat cair.

Pak Paimin memakai sarung tangannya dan memeriksa kedua hewan dari dekat. Hasil keseluruhan pemeriksaan klinis dari kedua hewan serupa. Pak Paimin mencatat di buku hariannya:

  • Sedikit kenaikan detak jantung
  • denyut nadi sama dengan detak jantung, kuat
  • pernafasan dan suara paru-paru terdengar normal
  • gusi berwarna merah muda tetapi lengket dan waktu isi ulang kapilari > 2 detik - lambat
  • suhu tubuh naik di atas normal - 39.8, 40.1
  • kulit tidak kembali kalau dicubit - dehidrasi
  • diare sangat cair, bau dan mengandung darah dan lemak usus

Pak Paimin menjelaskan kepada Budi bahwa sebagian besar tanda-tanda klinis yang dapat ia amati disebabkan oleh dehidrasi yang merupakan gejala sekunder dari diare. Diare ini mengakibatkan sapi-sapi kehilangan banyak cairan tubuh. Akibatnya, hewan-hewan tersebut menderita sakit yang sistematik (demam dan depresi).

Setelah selesai mengamati hewan-hewan tersebut, Pak Paimin membersihkan diri, mencuci tangan, dan mulai mengamati lingkungan di sekitar peternakan.

Pemeriksaan lingkungan

Pemeriksaan lingkungan tempat pemeliharaan hewan merupakan bagian penting dari pemeriksaan klinis tahap awal. Manfaat pemeriksaan lingkungan bagi tenaga medis veteriner didasarkan pada pemahaman bahwa suatu penyakit dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan. Setiap kemungkinan tersebut mempengaruhi apakah penyakit dapat muncul pada hewan atau populasi tertentu.

Berikut ini adalah hal-hal yang mungkin perlu dipertimbangkan untuk hewan-hewan yang dipelihara di "tempat terbuka":

  • Lingkungan sekitar - jenis tanah, padang gembala, dan sumber air apa yang ada?
  • Apakah terdapat daerah berlumpur dan berawa-rawa, aliran air yang deras, atau perbukitan yang terjal?
  • Jenis satwa liar apa saja yang terdapat di daerah tersebut dan apakah mereka dapat membawa penyakit yang bisa menulari hewan ternak?
  • Apakah terdapat tempat yang memadai untuk berlindung dari angin dan hujan maupun panas matahari?
  • Apakah terdapat persediaan pakan yang memadai untuk semua hewan yang ada?
  • Apakah ada kemungkinan hewan-hewan dapat terkena racun atau toksin (dari tempat pembuangan sampah, kawasan industri, atau limbah pertanian)?
  • Apakah hewan-hewan saling berdesakan sehingga menimbulkan stres, kontaminasi lingkungan, dan peningkatan resiko penyakit?

Hal-hal berikut ini perlu dipertimbangkan untuk hewan-hewan yang dipelihara di "tempat tertutup":

  • Jenis lantai
  • Ventilasi
  • Kualitas udara
  • Tingkat kepadatan
  • Tempat tidur
  • Kebersihan secara umum

Penting juga untuk memeriksa persediaan pakan dan air secara khusus untuk memastikan hewan-hewan mendapatkan cukup pakan dan air dengan kualitas yang memadai.

Kemampuan dokter hewan dan paravet dalam mengkaji dan mengartikan informasi yang diperoleh selama pemeriksaan lingkungan didasarkan pada pemahaman mengenai berbagai kemungkinan penyebab penyakit.

Pak Paimin mengamati lingkungan di sekitar peternakan Budi sambil mengajukan beberapa pertanyaan. Ia melihat bahwa sapi-sapi beserta anaknya dipelihara di padang gembala yang baik dan Budi juga memberikan tambahan pakan. Ia menemukan bahwa kedua ekor sapi yang sakit tersebut dipelihara di kandang yang hanya memiliki sebuah saluran pembuangan sebagai satu-satunya sumber air. Saluran ini membawa air buangan dari kandang-kandang lain, termasuk kandang yang digunakan untuk memelihara anak sapi yang sakit. Budi mengungkapkan bahwa ia memperoleh seekor anak sapi yang telah lama sakit; saat ini anak sapi tersebut masih hidup dan telah menjadi semacam peliharaan.

Pengambilan sampel untuk uji laboratorium

Kombinasi riwayat hewan, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan lingkungan kerap kali dapat menghasilkan suatu diagnosis atau daftar diagnosis pembanding.

Kadang kala pengambilan sampel untuk uji laboratorium dapat membantu. Sampel untuk uji laboratorium dapat diambil dari hewan-hewan yang tertular, dan terkadang juga dari hewan yang sehat. Jenis sampel yang umumnya diambil antara lain:

  • Darah atau serum
  • Kotoran
  • Air susu
  • Air seni

Apabila seekor hewan atau lebih telah mati atau sakit parah, pemeriksaan post mortem dan pengambilan sampel tambahan dapat bermanfaat; ini juga mencakup sampel jaringan untuk diuji di laboratorium. Laboratorium perlu memberikan informasi mengenai cara pengambilan dan pengiriman sampel untuk memperoleh hasil terbaik.

Pak Paimin menyimpan sarung tangan yang digunakannya pada saat melakukan pemeriksaan rektal pada sapi. Sarung tangan tersebut terkena cukup banyak kotoran sapi yang dapat dikirim ke laboratorium. Setelah melakukan pemeriksaan lingkungan, ia juga memutuskan untuk mengambil beberapa sampel darah untuk dikirim ke laboratorium.

Membuat daftar diagnosis pembanding

Temuan-temuan dari kegiatan investigasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi tanda-tanda atau sindrom pada hewan yang tertular serta membuat daftar diagnosis pembanding.

Diagnosis penyakit yang tepat pada seekor hewan individual kerap kali membutuhkan keahlian klinis dan mungkin memerlukan pengujian laboratorium dan/atau pemeriksaan patologi terhadap material post mortem.

Kerap kali anda dapat mulai membuat daftar diagnosis pembanding pada saat berbicara dengan peternak mengenai hewan miliknya yang sakit. Seiring pelaksanaan keempat tahap pemeriksaan, daftar diagnosis pembanding perlu dikaji kembali dan diubah sesuai dengan informasi atau temuan baru dari hasil pemeriksaan.

Sebagai contoh:

Anda menemukan bahwa hewan-hewan yang tertular seluruhnya terdiri atas sapi muda yang baru melahirkan anak pertama atau kedua dan semuanya mengalami keguguran. Berbekal pengetahuan ini, anda dapat segera mempersempit daftar diagnosis yang mungkin dengan hanya menyertakan beberapa penyakit yang dapat menyebabkan keguguran pada sapi.

Menggunakan temuan-temuan dari pemeriksaan klinis untuk menentukan sistem tubuh apa yang terpengaruh biasanya dapat bermanfaat.

Sebagai contoh:

Jika hewan yang tertular menyusui dan mengalami demam serta ambing bengkak, panas dan perih dengan susu yang tidak normal (berbau, berair) pada bagian itu dan tidak ada tanda abnormal lainnya. Maka, sistem tubuh yang terkena adalah ambing dan sapi mungkin terkena mastitis.

Seiring berjalannya proses pemeriksaan, informasi baru yang terkumpul dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman kita mengenai sistem tubuh yang terpengaruh beserta kemungkinan penyebabnya. Setiap potongan informasi baru dapat membantu pembuatan daftar diagnosis pembanding anda. Dalam kebanyakan kasus, informasi baru dapat membantu menambah atau mengurangi jumlah penyakit dalam daftar tersebut.

Hasil uji laboratorium perlu digunakan dan diartikan dengan hati-hati. Pengujian laboratorium dapat memakan waktu dan biaya sedangkan kontribusinya belum tentu bermanfaat untuk diagnosis dan pengelolaan penyakit pada hewan.

Pak Paimin terus memikirkan daftar kemungkinan penyebab penyakit. Dia mulai dengan daftar panjang di kepalanya, dan bahkan memasukkan kemungkinan bahwa ini mungkin berupa penyakit baru yang belum pernah dilihat siapa pun.

Seiring investigasi yang dilakukannya, ia mulai mencoret beberapa hal dari daftar tersebut atau menurunkan probabilitasnya. Dalam kasus ini, Pak Paimin mengesampingkan keracunan karena ia tidak menemukan tanda-tanda dari riwayat hewan maupun temuan di peternakan yang mengindikasikan adanya tumbuhan maupun bahan kimia beracun. Berdasarkan pembicaraan dengan Budi, ia juga mengesampingkan kemungkinan pemberian dosis obat cacing yang berlebihan pada kedua sapi tersebut.

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa sapi-sapi tersebut telah mengkonsumsi bulir tanaman dalam jumlah besar sedangkan rumput yang mereka makan juga tidak kaya maupun hijau. Hal ini dapat mencoret dua diagnosis pembanding lainnya.

Berikut adalah diagnosis pembanding yang dibuat Pak Paimin:

  • Enteritis Bakterial - Salmonella, E-coli (paling mungkin)
  • Virus Bovine Viral Diarrhea (BVD)
  • Parasit (paling tidak mungkin)

Kedua ekor sapi yang menderita diare tersebut juga mengalami demam dengan diare berbau busuk yang mengandung darah serta bagian lapisan usus. Temuan-temuan ini memperkuat indikasi infeksi bakteri salmonella yang dapat menimbulkan diare dan infeksi sistemik.

Sebelum meninggalkan peternakan Budi, Pak Paimin mengirim laporan Respon, Laboratorium, dan Pengobatan ke sistem iSIKHNAS melalui telepon genggamnya.

Pak Paimin belum 100% meyakini diagnosis tersebut tetapi ia cukup yakin bahwa penyakit yang membuat sapi-sapi itu sakit disebabkan oleh infeksi bakteri penyebab enteritis.

Pak Paimin mengobati kedua ekor sapi tersebut dengan antibiotik berspektrum luas dan memanfaatkan keahliannya dalam epidemiologi lapangan untuk memberikan saran kepada Budi mengenai penyebab penyakit serta langkah pengendaliannya di masa mendatang. Pak Paimin memahami bahwa penyakit tersebut dapat bersifat zoonotik dan menyarankan agar Budi menjaga kebersihan (dengan mencuci tangan) setelah merawat sapi-sapinya. Sapi dapat tertular penyakit ini setelah mengalami stres seperti melahirkan atau setelah mengkonsumsi pakan yang terkontaminasi kotoran hewan lain. Pak Paimin menyarankan agar Budi memeriksa kebersihan pakan dan air minum serta hanya membeli hewan ternak yang sehat dari penjual yang terpercaya. Strategi ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai penyakit salmonellosis pada populasi sapi dan dapat membantu Budi mengurangi resiko munculnya penyakit tersebut di kemudian hari.

2 sapi yang sakit harus dipisahkan dari ternak yang sehat di peternakan. Semua sapi sehat ditempatkan di daerah hulu pembuangan air, lebih tinggi dibandingkan letak 2 sapi yang sakit dan si anak sapi.

Contoh di atas menggambarkan bagaimana sebuah kegiatan investigasi penyakit dapat dimulai dari laporan satu atau lebih sapi yang sakit, kemudian dilanjutkan dengan investigasi yang diakhiri dengan diagnosis dan pengobatan hewan yang tertular; paravet juga perlu memberikan saran kepada peternak mengenai cara mencegah penularan ke hewan yang lain, menghindari munculnya penyakit tersebut di kemudian hari, dan menghindari penularan penyakit zoonotik ke manusia.

Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada bagian selanjutnya mengenai penerapan pengetahuan dan keahlian epidemiologi dalam melakukan investigasi dan pengelolaan penyakit pada hewan.

Penyebab penyakit

Suatu penyebab adalah segala hal yang dapat mempengaruhi kemunculan penyakit pada seekor hewan atau lebih.

Ketika muncul suatu penyakit pada hewan, hampir selalu terdapat individu yang tertular sedangkan yang lain tidak. Hanya ada sejumlah kecil penyakit yang sangat menular sehingga dapat menjangkiti hampir seluruh populasi hewan dan jenis ini cukup langka.

Penyebab penyakit dapat meliputi banyak hal. Penyakit-penyakit menular biasanya memiliki agen penular sebagai salah satu penyebabnya. Sebagai contoh, virus rabies merupakan agen penular penyakit rabies. Untuk penyakit yang hanya memiliki satu penyebab penularan, kita dapat merasa cukup yakin bahwa penyakit tersebut tidak akan muncul apabila agen penularannya tidak ditemukan. TETAPI, terpaparnya seekor hewan oleh agen penular tidak berarti suatu penyakit pasti akan muncul.

Kerap kali diperlukan sejumlah penyebab yang muncul bersama-sama sebelum hewan dapat tertular penyakit.

Sebagai contoh:

Ketika seekor anjing menggigit anjing lainnya, maka ada kemungkinan anjing yang digigit akan tertular rabies. Kemungkinan munculnya rabies akan jauh lebih tinggi apabila anjing yang menggigit:

  • Sudah tertular rabies
  • Melepaskan virus rabies melalui air liurnya
  • Menyebabkan luka terbuka pada kulit yang dapat dilalui oleh virus rabies untuk mencapai jaringan tubuh anjing yang digigit

Apabila anjing yang menggigit tidak melepaskan virus melalui air liurnya maka gigitannya tidak akan menularkan rabies. Jika gigitannya tidak menyebabkan luka terbuka pada kulit, maka virus akan sulit mencapai jaringan tubuh anjing yang digigit sehingga tidak menyebabkan rabies. Jika anjing yang digigit sudah divaksinasi rabies, maka ada kemungkinan anjing tersebut tidak akan tertular rabies walaupun digigit oleh anjing yang tertular rabies.

Pengetahuan mengenai penyebab penyakit dan cara penularannya merupakan hal yang penting. Pengetahuan ini dapat digunakan dalam pengendalian penyakit untuk memilih langkah pencegahan yang tepat dalam rangka mengurangi resiko munculnya penyakit.

Suatu penyakit dapat timbul apabila terdapat penyebab dari lingkungan, inang, dan agen penular

Dalam rangka menyelidiki penyakit di suatu populasi, kita perlu memahami bagaimana penyebab penyakit yang berbeda dapat saling mempengaruhi dalam memicu timbulnya penyakit.

Inang merujuk pada hewan yang dapat tertular penyakit. (Hewan) inang memiliki berbagai karakteristik yang dapat mempengaruhi muncul atau tidaknya penyakit. Sebagai contoh, beberapa penyakit hanya menulari hewan muda sedangkan yang lain juga dapat menjangkiti hewan yang lebih tua. Misalnya kehamilan dan keguguran yang hanya dapat terjadi pada hewan betina. Status vaksinasi hewan juga dapat mempengaruhi resiko penularan penyakit.

Penyakit Pink Eye lebih sering terjadi pada sapi muda karena pada usia ini lazimnya belum terjadi paparan bakteri Moraxella bovis yang menyebabkan penyakit tersebut. Kurangnya paparan membuat sapi muda kurang memiliki kekebalan terhadap bakteri jenis ini sehingga menimbulkan resiko penularan yang lebih tinggi ketimbang pada sapi yang lebih tua.

Penyakit Pink Eye lebih sering terjadi pada hewan-hewan yang memiliki karakteristik fisik berupa organ mata yang lebih menonjol ketimbang pada hewan jenis lain. Karakteristik ini dapat diturunkan dan diasosiasikan dengan ras atau jenis hewan tertentu.

Agen merujuk pada agen penular tertentu yang menyebabkan penyakit: Virus, bakteri, jamur, parasit, atau mikroba lainnya. Galur yang berbeda dari bakteri atau virus yang sama dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah, atau justru tidak menimbulkan penyakit sama sekali. Terdapat bermacam-macam agen penular dan sub-tipe atau galur yang berbeda, masing-masing dapat memiliki kemampuan menimbulkan penyakit yang berlainan. Kadang kala penyebab penyakit yang tidak menular juga digolongkan sebagai agen, misalnya unsur timah atau toksin tumbuhan yang dapat menimbulkan keracunan.

Beberapa galur avian influenza dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, sedangkan yang lain tidak.

Beberapa galur Moraxella bovis (agen penular yang menyebabkan penyakit Pink Eye pada sapi) menghasilkan toksin yang lebih kuat dan dapat menyebabkan penyakit mata yang lebih parah ketimbang galur lain.

Lingkungan merujuk pada hal-hal eksternal yang mempengaruhi inang dan agen sehingga dapat menentukan kemungkinan munculnya penyakit. Karakteristik lingkungan mencakup: Jenis tanah, kelembaban, curah hujan, ada tidaknya serangga yang dapat menularkan agen penyakit, hewan yang berdesakan, kebersihan, dll.

Sinar ultraviolet dapat merusak mata (kornea) pada sapi dan menyebabkan penyakit Pink Eye. Oleh karena itu, penyakit ini lebih sering terjadi pada musim panas ketika radiasi ultraviolet tinggi.

Penyakit Pink Eye lebih sering terjadi pada sapi yang dipelihara berdekatan ketimbang pada sapi yang memiliki jarak antara satu sama lain.

Penyakit Pink Eye lebih sering muncul ketika terdapat banyak lalat.

Pinkeye lebih umum jika ternak memakan rumput panjang yang keras. Rumput yang keras dapat menyebabkan luka kecil pada kornea yang membuat bakteri masuk ke mata.

Paparan oleh agen penular saja tidak berarti penyakit pasti akan muncul. Diperlukan berbagai penyebab dan kombinasinya untuk dapat menimbulkan penyakit.

Keterkaitan diantara berbagai penyebab penyakit dapat ditunjukkan dalam diagram yang mewakili penyebab penyakit dan kombinasinya dalam mempengaruhi kemunculan penyakit. Diagram ini sering disebut sebagai diagram atau jaring kausal (karena berbentuk seperti jaring laba-laba yang menghubungkan penyakit dan penyebabnya). Diagram kausal dapat menggambarkan keterkaitan penyebab penyakit dan lingkungan serta kombinasi agen penular dalam mempengaruhi resiko munculnya penyakit pada hewan. Beberapa penyebab penyakit didefinisikan sebagai penyebab yang harus ada - sehingga penyakit tidak akan muncul tanpanya. Penyebab lainnya mungkin hanya meningkatkan atau menurunkan resiko terjadinya penyakit dan tidak harus selalu ada. Dengan memahami penyebab penyakit, kita sering dapat mengidentifikasi langkah-langkah yang bisa mengurangi resiko penyakit melalui kegiatan-kegiatan seperti perubahan praktek pengelolaan atau pemeliharaan ternak.

Bakteri Pasturella multocida merupakan agen penular penyakit SE (Haemorrhagic Septicaemia). Diagram berikut ini menunjukkan beberapa penyebab penyakit SE dan bagaimana pengaruhnya terhadap kemunculan penyakit pada hewan individual. Anda dapat melihat bahwa diagram tersebut menggambarkan interaksi yang rumit diantara berbagai penyebab penyakit yang dapat mempengaruhi munculnya penyakit pada seekor hewan.

Diagram kausal yang menggambarkan beberapa penyebab penyakit SE dan pengaruhnya terhadap kemunculan penyakit pada hewan

Karena adanya berbagai kombinasi penyebab penyakit, maka penyakit yang sama dapat muncul di peternakan yang berbeda atau pada waktu yang berlainan akibat kombinasi penyebab yang tidak sama.

Investigasi epidemiologi dapat membantu mengidentifikasi penyebab penyakit yang penting, sedangkan pengetahuan epidemiologi mengenai penyebab penyakit serta interaksinya dapat digunakan untuk menyusun langkah-langkah yang bisa diterapkan oleh dokter hewan, paravet, dan peternak untuk mencegah atau mengendalikan penyakit.

Kita mungkin menemukan dalam suatu kajian bahwa peternakan sapi yang memberi pakan rumput dan jerami kering berisiko lima kali lebih besar mengalami wabah pinkeye pada sapi muda yang telah disapih dibandingkan dengan peternakan yang menggunakan silase atau rumput segar.

Berbekal informasi ini, paravet atau dokter hewan dapat menyarankan peternak untuk mengganti pakan kering dengan rumput segar atau silase apabila terjadi banyak kasus penyakit Pink Eye di daerah tersebut. Peternak juga dapat menyemprot pakan kering dengan air untuk mengurangi resiko debu atau partikel kecil lainnya mengenai mata sapi pada saat makan. Pendekatan ini dapat mengurangi resiko penyakit tersebut pada sapi yang sudah disapih.

Suatu penyakit dapat dicegah dengan melakukan tindakan yang dapat memutus keterkaitan diantara penyebabnya.

Sebagai contoh:

  • Menerapkan langkah-langkah kebersihan dan pengelolaan peternakan yang lebih baik untuk menghindari kontaminasi lingkungan oleh agen penular
  • Memvaksinasi hewan ternak untuk meningkatkan kekebalan dan mencegah infeksi agen penular

Pemahaman terhadap berbagai penyebab penyakit yang berbeda dapat membantu penyusunan langkah-langkah yang hemat biaya dalam mencegah atau mengurangi dampak penyakit.

Tersedianya tempat berteduh bagi ternak sapi dapat mengurangi kerusakan mata akibat sinar UV sehingga resiko penyakit pinkeye dapat dikurangi.

Kejadian penyakit SE dapat dikurangi dengan memvaksinasi seluruh ternak sapi dan menghindari sapi-sapi saling berdesakan selama musim penghujan.

Berikut ini adalah beberapa contoh diagram kausal.

Jaring kausal untuk antraks

Hewan yang terinfeksi Antraks dapat menularkan penyakit tersebut melalui tanah. Spora yang tertinggal dapat bertahan hidup di tanah untuk waktu yang sangat lama apabila tidak dihancurkan dengan sempurna melalui pembakaran dan dekontaminasi, sehingga dapat menularkan penyakit tersebut pada hewan yang tidak divaksinasi.

Komponen kunci penyebab Antraks

Anda dapat mengambil tindakan yang bisa mengurangi resiko penularan penyakit ke hewan lain dengan memahami interaksi diantara penyebab yang ada di lingkungan, perilaku agen penular, dan kerentanan inang. Membakar bangkai hingga menjadi abu, membuang tanah yang terkontaminasi cairan tubuh hewan yang tertular dengan benar, dan memvaksinasi seluruh kelompok hewan dapat mengurangi resiko penularan lebih lanjut melalui spora yang ada di lingkungan. Disamping itu, terdapat pula berbagai kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan lainnya yang dapat dipertimbangkan.

Jaring kausal untuk Fotosensitisasi

Lantana camara adalah spesies tanaman bunga yang invasif. Daun tanaman ini beracun untuk hewan dan dapat menyebabkan kerusakan hati. Hewan ternak biasanya akan menghindari tanaman ini tetapi dapat memakannya jika tidak ada makanan lain; misalnya akibat kekeringan, banjir, atau pengelolaan yang buruk. Penggembalaan yang buruk juga dapat membawa hewan ternak ke tempat di mana tanaman tersebut tumbuh. Selain itu, hewan ternak akan selalu mencari makanan yang hijau (rumput, ilalang, dedaunan, dsb). Hal ini dapat menyebabkan akumulasi klorofil pada kulit sehingga kulit hewan yang pucat dapat terbakar oleh sengatan matahari.

Komponen kunci penyebab Fotosensitisasi

Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai penyebab penyakit yang ada di lingkungan beserta agen penular dan inangnya, kita akan dapat mempengaruhi dampak penyakit secara signifikan. Penggembalaan yang cermat untuk menghindari tempat tumbuhnya lantana dan ketersediaan pakan berkualitas yang memadai dapat mengurangi kemungkinan hewan ternak memakan tanaman tersebut. Membawa hewan ternak yang telah memakan lantana (khususnya hewan yang berkulit pucat) ke tempat yang teduh dapat mencegah terjadinya fotosensitisasi. Sementara pemberian pakan kering (jerami, dsb) juga dapat mengurangi kemungkinan luka bakar akibat sengatan matahari karena terlalu banyak mengkonsumsi pakan hijau (yang mengandung klorofil). Perlu diingat bahwa keracunan Lantana camara bukan merupakan satu-satunya penyebab kerusakan hati; kombinasi akumulasi klorofil dan sengatan matahari pada hewan berkulit pucat dengan kerusakan hati serta tidak adanya tempat berteduh juga dapat menghasilkan tanda-tanda yang sama.

Bagaimana penyakit berkembang

Perkembangan penyakit pada hewan individual

Pertama-tama kita perlu memahami beberapa definisi sebelum mulai mempelajari perkembangan penyakit pada hewan individual.

Agen penular: Organisme penyebab penyakit pada hewan yang rentan. Agen penular meliputi: Bakteri, virus, parasit, protozoa, dan jamur.

Penyakit menular: Suatu penyakit yang disebabkan oleh agen penular tertentu dan berjangkit melalui penularan agen penyakit dari inang yang terinfeksi ke inang yang baru, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui inang perantara, vektor, atau lingkungan.

Penyakit kontagius: Penyakit kontagius adalah suatu penyakit menular yang dapat menyebar secara langsung dari hewan ke hewan. Semua penyakit kontagius bersifat menular, tetapi tidak semua penyakit menular bersifat kontagius.

Contoh penyakit kontagius antara lain Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Penyakit seperti ini dapat menular dari satu hewan ke hewan lain secara langsung.

Contoh penyakit menular yang tidak kontagius antara lain tetanus, antraks, dan infeksi cacing hati. Penyakit jenis ini tidak dapat menular secara langsung dari satu hewan ke hewan lainnya. Hewan yang terinfeksi penyakit tersebut akan mengkontaminasi lingkungan, yang pada gilirannya akan menulari hewan yang sehat.

Catatan: Istilah penyakit menular dan penyakit kontagius kadang kala digunakan dengan tidak tepat dan saling tertukar sehingga dapat menimbulkan kerancuan.

Kerentanan: Seekor hewan harus memiliki kerentanan terhadap infeksi tertentu agar suatu penyakit dapat berkembang. Hewan yang tidak rentan dapat terpapar penyebab penyakit, termasuk agen penular, tetapi tidak tertular penyakitnya.

Hanya keluarga spesies kuda (Equidae) yang rentan terhadap penyakit Equine Infectious Anaemia (EIA)

Sapi muda lebih rentan terhadap penyakit Pink Eye karena memiliki kekebalan yang lebih rendah terhadap Moraxella bovis dibandingkan sapi dewasa yang sudah pernah terpapar sebelumnya.

Paparan: Interaksi antara hewan dan agen penular. Hewan yang tidak terpapar agen penyakit tidak akan tertular penyakit tersebut. Selain itu, tidak semua hewan yang terpapar akan tertular penyakit.

Ketika virus influenza menjangkiti sebuah flok ayam, setiap ekor ayam akan terpapar tetapi tidak semua akan tertular.

Masa inkubasi: Rentang waktu sejak infeksi hingga hewan menunjukkan tanda-tanda klinis suatu penyakit.

Pada (hewan) inang, terdapat beberapa tahap yang menentukan apakah hewan tersebut akan tertular penyakit setelah terpapar agen penular.

Diagram berikut ini menunjukkan perkembangan suatu penyakit menular pada hewan individual dan menggambarkan kondisi penyakit serta hasil akhirnya di kotak berarsir pada bagian atas. Diagram tersebut dibuat sesuai urutan waktu dari kiri ke kanan.

Perkembangan penyakit menular pada hewan individual


Untuk dapat tertular suatu penyakit, seekor hewan harus memiliki kerentanan terhadap penyakit tersebut. Hewan yang rentan kemudian harus terpapar agen penular agar terjangkit penyakit. Terjadinya paparan berarti agen penular telah masuk ke tubuh hewan, tetapi tidak semua paparan akan menimbulkan penularan penyakit. Kadang kala setelah terjadi paparan, agen penyular akan mati atau dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh hewan sebelum dapat menimbulkan penyakit. Apabila agen penular dapat tumbuh dan memperbanyak diri di dalam tubuh inangnya, maka pada titik ini kondisi hewan beralih dari terpapar menjadi tertular. Pada tahap awal penularan, hewan tersebut biasanya tidak akan menunjukkan tanda-tanda penyakit. Kondisi ini biasanya disebut sebagai masa inkubasi.

Selama periode ini, agen penular akan memperbanyak diri; peningkatan jumlah agen penular akan memperbesar dampaknya pada hewan (inang). Masa inkubasi dimulai sejak hewan tertular suatu penyakit dan berakhir pada saat hewan mulai menunjukkan tanda-tanda klinis penyakit tersebut. Dalam kasus tertentu, hewan yang tertular tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit sama sekali.

Masing-masing penyakit menular memiliki karakteristik masa inkubasi yang berbeda. Lamanya masa inkubasi bergantung pada hal-hal berikut ini:

  • Cara penularan agen penyakit
  • Jumlah agen penyakit yang masuk ke tubuh inang
  • Kecepatan agen penular dalam memperbanyak diri di dalam tubuh inang
  • Kemampuan agen penular dalam menimbulkan penyakit
  • Respon kekebalan tubuh inang yang bersangkutan

Keterkaitan ini menghasilkan masa inkubasi yang berbeda-beda pada hewan yang berlainan, walaupun agen penularnya sama.

Soleh memelihara banyak ayam. Namun semuanya tertular penyakit influenza. Ia mendapati bahwa seluruh ayam miliknya menjadi sakit dalam 3 - 5 hari setelah ia menempatkan ayam yang sakit bersama dengan ayam-ayam yang lain.

Soleh telah mengukur bahwa masa inkubasi virus influenza tersebut berkisar antara 3 sampai 5 hari.

Hewan yang tertular dapat terjangkit penyakit kronis (hewan tetap tertular disertai tanda-tanda penyakit), mati karena penyakitnya, atau pulih. Hewan yang pulih dapat sembuh sepenuhnya dan seluruh agen penular dapat dihilangkan dari tubuhnya. Namun kadang kala hewan yang telah pulih tidak lagi menunjukkan tanda-tanda klinis penyakit tetapi masih membawa agen penular (carrier).

Dalam kasus tertentu, hewan yang tertular mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda klinis penyakit. Sementara dengan penyakit lain, hampir semua hewan yang tertular dapat menunjukkan tanda-tanda penyakit.

Soleh juga memiliki beberapa ekor sapi. Dalam satu tahun sapi-sapi miliknya menderita diare yang parah. Sebagai paravet, Pak Paimin diminta untuk menyelidiki masalah tersebut. Sebagai bagian dari suatu penelitian universitas, ia mengambil sampel kotoran dari semua sapi. Ia menemukan bahwa semua sapi milik Soleh menderita infeksi cacing dalam jumlah besar, namun hanya beberapa ekor saja yang mengalami diare. Pada akhirnya sapi-sapi tersebut dapat pulih sepenuhnya setelah mendapat pengobatan untuk menghilangkan cacing.

Dua tahun lalu, beberapa ekor sapi milik Soleh mati mendadak akibat tertular penyakit Antraks. Antraks merupakan contoh penyakit yang biasanya menyebabkan kematian pada hampir semua hewan yang tertular.

Hewan pembawa (carrier) mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit tetapi dapat membawa dan melepaskan agen penular ke lingkungan, baik secara terus-menerus maupun pada waktu tertentu ketika hewan tersebut mengalami stres atau menderita penyakit lain. Oleh karena itu, hewan pembawa juga menimbulkan resiko bagi hewan rentan lainnya di populasi.

Sebagai contoh:

Virus Bovine Viral Diarrhea dapat memicu kondisi pembawa dimana hewan yang bersangkutan akan terus-menerus tertular, terhambat pertumbuhannya, dan berulang kali melepaskan virus. Hewan yang terus-menerus tertular BVD dapat menularkan virus tersebut kepada hewan lain.

Beberapa jenis hewan yang dapat pulih secara klinis dari penyakit Pink Eye akan terus membawa bakteri Moraxella bovis. Bakteri tersebut dapat hidup di bagian mata, hidung, dan vagina pada hewan pembawa. Lalat kemudian dapat membawa penyakit tersebut dari hewan pembawa ke hewan yang bukan pembawa penyakit, kadang kala hal ini bisa menimbulkan penyakit apabila terdapat karakteristik inang, agen penular, dan lingkungan yang sesuai.

Hewan yang pulih dari suatu penyakit sering kali dapat membangun kekebalan terhadap agen penyakit tersebut, hal ini dapat mencegah penularan apabila hewan terpapar kembali. Kekebalan terhadap penyakit tertentu dapat bertahan seumur hidup, sedangkan untuk penyakit lainnya mungkin lebih singkat sehingga hewan dapat tertular kembali seiring menurunnya tingkat kekebalan.

Sebagai contoh:

Penyakit bovine babesiosis disebabkan oleh parasit yang ditularkan oleh gigitan kutu dan dapat menyebabkan penyakit klinis pada sapi. Tetapi hewan yang pulih dari penyakit ini dapat memiliki kekebalan seumur hidup.

Bovine Ephemeral Fever (BEF) adalah penyakit yang menjangkiti sapi dan disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk. Penyakit ini menyebabkan demam, kelumpuhan, dan kehilangan berat badan pada hewan yang tertular. Namun hewan yang pulih dapat memiliki kekebalan seumur hidup terhadap galur penyakit yang sama.

Sapi yang menderita infeksi bakteri pada ambing (mastitis) dapat pulih dengan atau tanpa pengobatan, tetapi tidak akan memiliki kekebalan jangka panjang dan dapat tertular kembali oleh bakteri yang sama di kemudian hari.

Beberapa jenis vaksin mampu menghasilkan kekebalan jangka panjang terhadap suatu penyakit, sedangkan vaksin jenis lain hanya memberikan kekebalan sementara sehingga hewan harus divaksinasi ulang secara berkala untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit tertentu.


Soleh mendapati ayam miliknya tidak lagi sakit setelah pulih dari penyakit influenza. Sekarang bahkan ayam baru yang sehat tidak menjadi sakit setelah ditempatkan bersama dengan ayam-ayam yang sakit. Ia tidak lagi menemukan ayam yang tertular influenza selama kurang lebih satu tahun.

Ia kemudian bertanya kepada Ibu Putri, seorang paravet, untuk mencari tahu penyebabnya. Ibu Putri menjelaskan bahwa ayam-ayamnya telah memiliki kekebalan terhadap virus influenza yang paling umum. Setelah satu tahun berlalu, ayam miliknya kemungkinan terserang virus influenza yang baru atau berbeda jenis. Selain itu, diantara populasi yang ada saat ini mungkin hanya tersisa beberapa ekor ayam yang memiliki kekebalan karena sebagian besar telah dijual atau mati.

Perkembangan penyakit dalam suatu populasi

Bayangkan sebuah populasi hewan yang belum pernah terpapar agen penyakit tertentu sebelumnya. Populasi ini akan sangat rentan terhadap suatu penyakit menular. Penyakit yang menular di dalam populasi ini kemungkinan besar akan menyebar dengan sangat cepat (menimbulkan wabah atau epidemi).

Jenis penyakit tertentu dapat menyebar dengan cepat dalam suatu populasi, sedangkan jenis lainnya menyebar dengan perlahan.

Sebagai contoh:

Penyakit Newcastle dapat menyebar dengan cepat diantara unggas yang dikelompokkan bersama-sama, sedangkan virus Bovine Diarrhea(BVDv) menyebar dengan perlahan-lahan dalam populasi sapi.

Untuk jenis penyakit yang sudah ada dalam suatu populasi(penyakit endemik), biasanya populasi tersebut terdiri atas beberapa jenis hewan dengan kombinasi karakteristik sebagai berikut:

  • Rentan
  • Tertular
  • Menderita penyakit
  • Telah pulih
  • Memiliki kekebalan

Banyaknya penyakit yang ada di suatu populasi bergantung pada kombinasi karakteristik hewan dalam populasi tersebut pada satu waktu tertentu.

Setelah adanya penularan agen penyakit, proporsi hewan yang rentan memiliki pengaruh yang paling besar terhadap banyaknya penyakit yang berkembang di suatu populasi. Apabila sebagian besar populasi memiliki kekebalan, maka penyakit tersebut tidak akan berdampak besar. Namun jika terdapat banyak hewan yang rentan, maka penularan penyakit pada populasi tersebut dapat menimbulkan wabah yang luas (epidemi).

Berikut adalah hal-hal yang dapat mempengaruhi penyebaran penyakit di suatu populasi:

Daerah penyebaran penyakit

Mengapa penyakit Jembrana muncul di Bali? Hal apa yang hanya terdapat di Bali sehingga penyakit tersebut muncul di sana?

Penyakit Jembrana merupakan penyakit tidak biasa yang menjangkiti ternak sapi di Bali dan disebabkan oleh virus Jembrana (JDV). Kejadian wabah pertama muncul pada tahun 1964 dan hingga saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana penyakit tersebut menular pertama kali. Berikut adalah beberapa peristiwa yang terjadi tidak lama sebelum munculnya wabah tersebut dan mungkin ikut berperan sebagai penyebabnya:

  • Sebuah kapal yang mengangkut ternak sapi dilaporkan tengah berada di daerah tersebut. Apakah kapal ini telah membawa satu atau lebih dari satu hewan yang sakit ke Bali?
  • Sebuah program vaksinasi PMK pada sapi baru saja dilaksanakan setahun sebelumnya di beberapa daerah di Indonesia. Apakah vaksin yang digunakan mungkin terkontaminasi JDV?
  • Pada tahun 1964, Gunung Agung meletus sehingga menimbulkan banyak korban jiwa dan mengkontaminasi padang gembala dengan abu vulkanik. Apakah peristiwa ini ikut berperan dalam kemunculan penyakit JDV?

Periode waktu kejadian

Apakah seluruh populasi terpapar penyakit pada waktu yang bersamaan ataukah ada satu ekor hewan tertular yang menyebarkan penyakit ke hewan lainnya?

  • Kadang kala kejadian penyakit menular pada hewan dapat ditelusuri kembali hingga ditemukan seekor hewan tertular yang baru muncul beberap hari sebelumnya. Dalam kasus ini, hewan tertular pertama dapat menjangkiti 1-2 ekor hewan lain yang kemudian akan menulari lebih banyak hewan lainnya. Pada awalnya jumlah kasus penyakit mungkin cukup rendah, tetapi kemudian meningkat dengan pesat seiring bertambahnya jumlah hewan yang tertular.
  • Kadang kala sejumlah hewan dapat terpapar agen penular secara bersamaan dan terkena penyakit pada waktu yang sama. Contohnya adalah Antraks yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada sejumlah hewan sekaligus, tetapi kemudian tidak ada lagi kasus selama beberapa waktu.

Kepadatan populasi

Seberapa dekat jarak antar-hewan yang diperlukan untuk menularkan penyakit dari satu hewan ke hewan lain, baik secara langsung maupun tidak langsung?

  • Beberapa penyakit seperti virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dapat menular dengan sangat cepat dari satu hewan ke hewan lain melalui kontak langsung (sentuhan) atau melalui leleran hidung yang dapat menyebarkan virus dari satu kelompok hewan ke kelompok lainnya. Dalam hal ini, penyebaran penyakit tercepat terjadi pada hewan-hewan yang dikelompokkan bersama-sama dalam jumlah besar di tempat yang sama.
  • Agen penular bakteri dapat menyebabkan diare dan penyakit lainnya (salmonella, bakteri coliform), serta mampu bertahan hidup di air, tanah yang basah maupun pakan selama berjam-jam atau bahkan hari. Penyebaran penyakit semacam ini lebih mungkin terjadi jika hewan dikelompokkan bersama-sama dalam jumlah besar.

Proporsi hewan yang rentan dalam suatu populasi

  • Jika hewan yang lebih tua adalah satu-satunya yang tertular - seperti pada kasus penyakit Paratuberkulosis (Johne's disease) - maka kita dapat memperkirakan bahwa peternak yang memiliki banyak hewan berusia tua akan lebih merasakan dampak penyakit tersebut ketimbang peternak yang lebih banyak memiliki hewan berusia muda.

Kekebalan kelompok menggambarkan suatu bentuk kekebalan yang muncul ketika sebagian besar populasi hewan memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit sehingga dapat memberikan tingkat perlindungan tertentu kepada hewan-hewan yang rentan pada populasi tersebut.

Ketika proporsi yang besar dari suatu populasi memiliki kekebalan, maka hewan yang memiliki kekebalan tersebut dapat melindungi hewan-hewan yang rentan dalam populasinya. Seiring meningkatnya proporsi hewan yang memiliki kekebalan (baik secara alamiah atau melalui vaksinasi), makin kecil kemungkinan hewan penular penyakit (hewan yang tertular dan melepaskan agen penyakit) akan bertemu dengan hewan yang rentan. Hasilnya, kasus penyakit baru akan berkurang atau bahkan hilang.

Soleh memvaksinasi ayam miliknya dengan vaksin penyakit Newcastle (NDV). Satu bulan kemudian, ia menambahkan beberapa ekor ayam yang belum divaksinasi ke dalam flok miliknya.

Seorang peternak di daerah yang sama belum melakukan vaksinasi serta banyak unggasnya yang sakit dan mati. Hasil dari investigasi kesehatan hewan menunjukkan adanya penyakit NDV. Unggas milik Soleh tidak tertular penyakit walaupun salah seekor unggas yang sakit dari peternakan tetangganya pernah berkelompok bersama-sama ayam miliknya.

Proporsi unggas tervaksinasi yang tinggi pada flok miliknya telah menimbulkan efek kekebalan kelompok yang melindungi unggas yang telah divaksinasi maupun yang belum sehingga flok milik Soleh terhindar dari penyakit NDV.


Gambar berikut ini menunjukkan perkembangan penyakit menular dalam suatu populasi yang memiliki satu ekor hewan tertular (lingkaran hitam) bersama dengan hewan yang rentan (garis batas tanpa arsiran) dan hewan yang memiliki kekebalan (arsiran abu-abu). Hewan yang tertular melepaskan agen penyakit yang memapari baik hewan yang rentan (tanpa arsiran) maupun hewan yang memiliki kekebalan (dengan arsiran).

Perkembangan suatu penyakit menular pada sebuah populasi


Apabila hanya ada sedikit hewan yang memiliki kekebalan dalam suatu populasi, maka masuknya satu atau lebih hewan yang tertular kemungkinan besar akan menyebarkan penyakit. Jika terdapat lebih banyak hewan yang memiliki kekebalan dalam populasi tersebut, maka hewan yang tertular hanya akan bertemu dengan hewan yang kebal sehingga penyakit tidak dapat menyebar.

Ambang batas jumlah hewan yang memiliki kekebalan dalam suatu populasi sehingga dapat mencegah penularan berbeda-beda untuk setiap jenis penyakit.

Konsep kekebalan kelompok dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat cakupan vaksinasi yang dibutuhkan untuk mengurangi kejadian penyakit. Karena adanya kekebalan kelompok, maka program pengendalian penyakit tidak harus memvaksinasi seluruh populasi hewan untuk mengurangi kejadian penyakit atau mencegah epidemi.

Sebagai contoh:

Gambar berikut ini menunjukkan simulasi penularan penyakit kontagius dalam suatu populasi yang rentan. Garis-garis pada gambar tersebut mewakili jumlah hewan.

  • hewan yang rentang tertular dan menunjukkan tanda klinis
  • hewan yang pulih
  • Pola distribusi hewan yang rentan, tertular secara klinis, dan yang pulih dalam suatu populasi setelah munculnya penyakit kontagius.

Gambar berikut ini menunjukkan jumlah hewan dalam setiap kelompok (rentan, tertular atau klinis, dan pulih) setelah munculnya suatu penyakit kontagius dalam populasi yang beranggotakan 500 ekor hewan.

Susceptible clinical recovered groups.png

Dalam contoh ini, populasi tersebut pada awalnya beranggotakan 500 ekor hewan; semuanya rentan, tidak ada penularan klinis, dan tidak ada hewan yang pulih. Ini berarti pada awalnya tidak ada penyakit dalam populasi tersebut.

Setelah munculnya penyakit kontagius, mula-mula terdapat sejumlah kecil hewan yang tertular. Seiring waktu, hewan-hewan ini akan menulari hewan yang lain sehingga penyakit akan menyebar dalam populasi tersebut. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah hewan yang klinis (hewan tertular yang menunjukkan tanda-tanda klinis) dan menurunnya jumlah hewan yang rentan.

Setelah beberapa waktu, hewan yang klinis akan pulih. Pola akhir yang muncul akan bergantung pada tingkat penularan dan keparahan penyakit itu sendiri. Jika penyakit tersebut menjadi endemik, maka akan muncul kombinasi yang konstan antara hewan yang rentan, klinis, dan pulih. Jumlah dalam masing-masing kategori akan bergerak naik dan turun seiring waktu, tergantung dari penyebab penyakit yang ada.

Penularan dan penyebaran penyakit

Agar terus menyebar, suatu penyakit menular harus dapat berpindah dari hewan yang tertular ke hewan yang rentan. Jika ini tidak terjadi, maka penyakit tersebut akan menghilang.

Penularan menggambarkan bagaimana suatu agen penular dapat berpindah dari seekor hewan ke hewan lainnya

Daya tahan merujuk pada kemampuan agen penular untuk terus muncul atau bertahan hidup dalam suatu popuasi seiring berjalannya waktu

Penyebaran menggambarkan bagaimana suatu agen penular dapat berpindah dari satu populasi ke populasi lainnya

Agar penularan dapat berlangsung, suatu agen penular harus dapat keluar dari tubuh hewan yang tertular dan masuk ke tubuh hewan yang rentan.

Penularan agen penyakit dari hewan inang yang tertular ke hewan inang yang rentan

Agen penular dapat keluar dari tubuh hewan inang melalui berbagai cara. Contohnya antara lain:

  • Permukaan tubuh - melalui rambut, nanah atau keropeng (kurap)
  • Leleran hidung - (virus influenza)
  • Mulut - air liur (virus rabies, penyakit mulut dan kuku, tuberculosis)
  • Kelenjar susu - air susu (bakteri streptokokus)
  • Anus - kotoran (bakteri salmonella)
  • Saluran urogenital - urin dan sperma (leptospirosis, kampilobakter)
  • Mata - air mata (pinkeye)
  • Darah - (demam Q melalui vektor kutu)

Agen penular dapat masuk ke tubuh hewan inang melalui berbagai cara. Beberapa jalan masuk yang mungkin antara lain:* Secara oral - termakan (berbagai jenis parasit/cacing dapat bertahan hidup pada rumput atau pakan)

  • Pernapasan - terhirup melalui hidung, kerongkongan, dan saluran pernapasan (virus avian influenza, bakteri penyebab pneumonia)
  • Membran mukosa - melalui kontak pada mata, mulut, atau hidung (Pinkeye)
  • Kulit - melalui kulit tertutup (kurap), luka (antraks pada manusia), gigitan serangga (penyakit lidah biru/bluetongue) atau hewan (rabies)
  • Koitus - ditularkan ketika hewan bereproduksi (vibriosis pada sapi)
  • Iatrogenik - melalui prosedur pengelolaan atau kesehatan hewan tertentu (pembedahan, vaksinasi, pemotongan tanduk, pengebirian, injeksi) Bluetongue pada ternak dan HIV/AIDS atau Hepatitis pada manusia

Penularan - Agar penyakit dapat berpindah dari satu hewan ke hewan lain, maka agen penyakit harus dapat menular antarhewan. Hal ini dapat terjadi melalui beberapa cara, antara lain:

  • Secara langsung, dimana agen penular berpindah dari satu hewan ke hewan lain dengan cara berikut:
    • Kontak antarhewan
    • Hewan tertular oleh leleran hewan lain yang sakit (hidung, sekresi, urin, kotoran, dll.)
    • Penularan pada embrio di dalam rahim yang tengah mengandung (pada mamalia) atau pada telur (unggas, reptil, amfibi, ikan dan artropoda), atau melalui air susu dari induk kepada anaknya
  • Secara tidak langsung, dimana agen penular berpindah dari satu hewan ke hewan lain melalui makhluk hidup atau benda mati yang menjadi perantara
    • Makhluk hidup (inang perantara) dapat menyebarkan penyakit menular tertentu, misalnya nyamuk penular Malaria pada manusia atau kutu penyebar Babesia pada sapi
    • Benda mati yang dapat menularkan agen penyakit tertentu meliputi pakan, peralatan, pakaian, jarum dan alat suntik.

Penyebaran - Metode penyebaran agen penular yang lazim di antara populasi hewan antara lain:

  • Perpindahan hewan tertular ke populasi yang baru
  • Perpindahan material yang terkontaminasi
  • Penyebaran melalui peralatan peternakan, kesehatan hewan, dsb yang terkontaminasi
  • Perpindahan vektor seperti kutu, unggas, dan satwa liar di antara populasi hewan
  • Penyebaran bakteri, virus, atau fungi melalui udara dari satu populasi ke populasi yang lain

Daya tahan - Agen penular harus mampu bertahan hidup selama mungkin, jika tidak maka penyakit akan menghilang. Dalam hal ini, agen penular telah mengembangkan berbagai cara untuk bertahan hidup pada tubuh hewan atau lingkungan. Cara-cara ini meliputi:

  • Mengembangkan bentuk resisten yang dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama di lingkungan (spora antraks, telur cacing helminth, kista toksoplasma)
  • Penularan yang terus-menerus pada hewan yang rentan dengan cara sebagai berikut:
    • Penularan cepat untuk mengurangi respon kekebalan tubuh, atau
    • Dengan mengubah susunan genetiknya untuk menghindari kekebalan terhadap bentuk penularan sebelumnya
  • Membangun penularan yang gigih pada hewan inang (Johnes disease, cacing pita, virus maedi-visna, BVD)
  • Membangun kapasitas untuk menjangkiti beragam spesies yang berbeda sehingga dapat meningkatkan kemungkinan penularan yang terus-menerus (virus Nipah yang dapat menjangkiti kelelawar, babi, dan manusia, serta virus rabies pada semua jenis mamalia)
  • Menghindari segala bentuk eksternal atau lingkungan sehingga terhindar dari kemungkinan mati di lingkungan luar (spesies trichinella)

Dua gambar berikut ini menunjukkan contoh penularan dan daya tahan beberapa jenis penyakit dengan menggunakan diagram siklus kehidupan.

Siklus kehidupan cacing trichostrongylus spp. pada domba dan sapi.

Siklus kehidupan cacing Trichostrongylus spp. terdiri atas beberapa tahapan sebagai berikut.

  1. Telur terbawa bersama kotoran hewan
  2. Larva tahap pertama menetas dari telur yang terbawa bersama kotoran hewan
  3. Larva tahap pertama dan kedua memakan bakteri pada kotoran hewan
  4. Larva tahap ketiga dilindungi oleh cangkang luar sehingga tidak mati kekeringan
  5. Larva tahap ketiga berpindah dari kotoran hewan ke rerumputan di sekitarny. Tahapan siklus hidup bebas di lingkungan dapat berlangsung selama 2-12 minggu
  6. Domba memakan rumput bersama dengan larva tahap ketiga. Di dalam usus kecil terjadi perubahan bentuk menjadi larva tahap keempat yang akan tumbuh menjadi cacing dewasa. Dalam bentuk dewasa, cacing ini menghasilkan telur yang terbawa oleh kotoran hewan. Siklus kehidupan di dalam hewan inang dapat berlangsung selama 18-21 hari
Siklus kehidupan Antraks.

Siklus kehidupan antraks meliputi tahapan sebagai berikut:

  1. Spora antraks tertelan, terhirup, atau tersentuh oleh inang (manusia atau hewan)
  2. Inang menderita sakit dan mati
  3. Sel-sel vegetatif dilepaskan ke lingkungan setelah kematian inang
  4. Antraks dapat menular melalui kontak dengan bangkai hewan yang mati karena penyakit tersebut
  5. Sel-sel vegetatif di lingkungan berubah menjadi spora yang tetap dapat menularkan penyakit hingga bertahun-tahun kemudian

Menggunakan pendekatan epidemiologi lapangan dalam investigasi penyakit yang lebih besar

Keahlian epidemiologi lapangan adalah hal yang penting dalam semua investigasi penyakit, walaupun hanya melibatkan seekor hewan atau sebuah peternakan.

Pendekatan epidemiologi dalam investigasi penyakit menjadi jauh lebih penting dalam kondisi berikut ini:

  • Terdapat sejumlah besar hewan yang tertular
  • Penyakit menyebar dengan cepat
  • Penyebab penyakit tidak diketahui secara pasti (hewan tertular menunjukkan tanda-tanda yang berbeda, atau lebih parah, dari penyakit yang biasa terjadi)

Contoh dari situasi tersebut antara lain wabah penyakit eksotik, penyakit baru, atau penyakit biasa yang telah berubah bentuk sehingga dapat menyebar dengan cepat atau memiliki tingkat kematian yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, investigasi epidemiologi biasanya dapat menjadi pendekatan terbaik untuk memahami kemungkinan penyebab penyakit dan menentukan langkah-langkah pengendalian yang tepat.

Walaupun penyakit atau agen penular yang spesifik tidak diketahui, pendekatan epidemiologi memungkinkan anda untuk menarik kesimpulan berikut ini:

  • Penyebab penyakit yang paling mungkin
  • Menentukan langkah-langkah pengendalian yang dapat dilakukan

Kejadian penyakit yang lebih besar kerap kali melibatkan salah satu situasi berikut ini:

  • Apabila penyebab penyakit dapat diketahui
    • Mungkin sekali ada keinginan untuk memahami mengapa dan bagaimana suatu penyakit dapat muncul dalam situasi tertentu sehingga langkah pengendalian yang tepat dapat diterapkan. Agen penyebab wabah akan segera diketahui atau diidentifikasi pada tahap awal investigasi. Dalam situasi ini, investigasi akan diarahkan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit.
  • Apabila penyebab penyakit tidak diketahui
    • Untuk penyakit baru atau eksotik, investigasi diarahkan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit dan langkah pengendalian yang mungkin dilakukan. Diagnosis merupakan hal yang penting tetapi mungkin saja sulit diperoleh sebelum langkah awal pengendalian dapat diterapkan.

Sebagai contoh:

Investigasi awal penyakit Mad Cow Disease atau Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) di Inggris Raya menunjukkan bahwa penyakit tersebut kemungkinan berasal dari kontaminasi produk pakan sapi oleh meat and bone meal. Langkah pencegahan berupa larangan pemberian pakan yang mengandung protein dari hewan ruminansia telah teridentifikasi melalui investigasi epidemiologi awal dan telah diterapkan jauh sebelum agen penularnya dapat teridentifikasi. Bertahun-tahun kemudian, penelitian lanjutan berhasil mengidentifikasi agen penyebab penyakit tersebut (prion) dan mengkonfirmasi efektifitas rekomendasi awal dalam mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas.

Investigasi epidemiologi terhadap suatu penyakit menggunakan pendekatan yang sistematik dan meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini.

  1. Menyusun definisi kasus dan mengelompokkan hewan sebagai 'kasus' atau 'bukan kasus'
  2. Mengumpulkan data kasus dan bukan kasus
  3. Menerapkan analisis sederhana terhadap data yang terkumpul untuk menggambarkan pola penyakit dan mengidentifikasi kemungkinan penyebab
  4. Menjabarkan temuan awal dan membuat rekomendasi

Masing-masing langkah di atas akan dibahas lebih jauh pada bagian selanjutnya.


CATATAN: Sangat mungkin perencanaan dan pelaksanaan investigasi epidemiologi akan melibatkan dokter hewan dinas atau staf Balai Besar bersama dengan paravet. Oleh karena itu, paravet perlu memahami pendekatan umum yang digunakan serta jenis data dan informasi yang perlu dikumpulkan.

Menentukan kasus dan bukan kasus

Sebuah definisi kasus adalah sekelompok kriteria standar untuk menentukan apakah seekor hewan individual tertular penyakit tertentu atau mewakili aspek penting lainnya.

Sebuah kasus adalah seekor hewan dengan karakteristik dan tanda-tanda klinis yang memenuhi definisi kasus dalam suatu investigasi penyakit

Langkah ini dimulai setelah selesainya investigasi awal (Bagian 3) untuk menentukan tanda atau gejala hewan yang tertular penyakit tertentu. Tahap ini meliputi pemeriksaan hewan yang sakit maupun yang sehat atau tidak tertular. Definisi kasus dapat disusun dengan membandingkan hewan yang tertular dan tidak tertular.

Berikut adalah 3 tingkatan yang sering kali berguna dalam menyusun definisi kasus:

  1. kasus terkonfirmasi dimana semua kriteria kasus terpenuhi
  2. kasus terduga dimana hampir semua kriteria terpenuhi
  3. bukan kasus dimana hewan secara meyakinkan dapat dinyatakan tidak memenuhi satu pun kriteria terduga atau terkonfirmasi

Investigasi lapangan terhadap penyakit yang tidak lazim sebaiknya dimulai dengan definisi kasus yang luas dan tidak spesifik. Ini berarti beberapa kejadian bukan kasus dapat dikelompokkan sebagai kasus, namun juga berarti hanya ada sedikit kasus yang terlewatkan dan salah dikelompokkan sebagai kejadian bukan kasus.

Setelah menyusun definisi kasus, semua hewan yang sakit dibandingkan dengan definisi kasus tersebut dan dikelompokkan ke dalam salah satu tingkatan (kasus terkonfirmasi, kasus terduga, atau bukan kasus). Definisi kasus digunakan agar informasi yang terkumpul dari kejadian kasus dan bukan kasus dapat dibandingkan untuk menentukan keterkaitan yang dapat mengidentifikasi penyebab penyakit potensial.


Sebagai contoh:

Berikut ini adalah contoh definisi kasus yang dapat digunakan dalam investigasi penyakit mastitis pada sapi perah:

  • Sapi menghasilkan air susu dengan gumpalan-gumpalan yang mudah terlihat

Berikut adalah definisi kasus alternatif:

  • Sapi dengan kandungan sel susu melebihi 200.000 sel/ml


Definisi kasus yang pertama hanya membutuhkan pemeriksaan susu secara visual sehingga lebih cepat dan murah. Namun, dalam beberapa kasus mastitis, kadang kala hanya terlihat sedikit gumpalan pada susu atau tidak ada sama sekali. Oleh karena itu, definisi kasus yang pertama dapat menghasilkan beberapa hasil negatif palsu (hewan yang tertular mastitis tetapi dalam definisi kasus dikelompokkan sebagai kejadian "bukan kasus").

Definisi kasus yang kedua membutuhkan pengujian khusus sehingga memakan waktu lebih lama dan mahal.

Dalam setiap sistem pengujian, selalu ada kompromi antara hasil positif palsu dan negatif palsu.

Definisi kasus merupakan hal yang penting dalam investigasi epidemiologi karena suatu populasi hewan dapat terjangkit sejumlah penyakit secara bersamaan. Tidak semua hewan yang sakit tertular penyakit yang menjadi sasaran investigasi.

Bayangkan jika anda tengah melakukan investigasi wabah dimana terjadi beberapa kasus kematian mendadak karena suatu penyakit baru. Namun 1-2 kasus kematian tersebut disebabkan oleh penyakit lain yang lebih umum - satu ekor sapi mati karena mastitis akut sedangkan seekor lagi mati karena twisted stomach.

Perlu dilakukan pemeriksaan terhadap semua hewan yang mati dan dilanjutkan dengan penyusunan definisi kasus untuk penyakit baru. Langkah ini memungkinkan identifikasi dan pengecualian kedua hewan yang mati karena penyakit yang umum (mastitis dan twisted stomach) dari kelompok hewan yang tertular penyakit baru.

Definisi kasus memungkinkan anda untuk mengidentifikasi dan memilah informasi mengenai penyakit berbeda yang mungkin menyebar dalam suatu populasi. Hal ini juga dapat membantu menjaga fokus investigasi penyakit.

Pak Paimin mulai berpikir bahwa kasus ini lebih membutuhkan pendekatan epidemiologi. Ia pun mulai merangkai berbagai informasi yang telah terkumpul sejauh ini.

Ia berpikir mengenai sapi yang lumpuh, kedua sapi yang menderita diare, dan anak sapi sakit yang diperoleh Budi. Pak Paimin perlu memeriksa kembali tanggal kejadian penyakit pada buku catatannya dan mulai merangkai alur waktu. Kejadian penyakit terbatas pada sapi-sapi yang berada di hilir aliran air dari kandang anak sapi yang sakit.

Definisi kasus yang disusun oleh Pak Paimin untuk tahap investigasi ini adalah sebagai berikut:

Semua sapi (atau anak sapi) yang menderita diare cair dan memiliki suhu badan diatas 39°C

Pengumpulan data dan penghitungan kasus

Untuk mengumpulkan data mengenai kejadian kasus dan bukan kasus, anda perlu mengajukan sejumlah pertanyaan kepada peternak mengenai hewan miliknya.

Sebagai contoh:

  • Kapan kasus pertama penyakit ini ditemukan?
  • Apakah mungkin untuk menentukan tanggal dimana masing-masing hewan yang tertular mulai menunjukkan tanda-tanda klinis?
  • Di mana lokasi hewan ketika mulai terlihat sakit serta keberadaannya selama beberapa hari atau minggu sebelumnya?
  • Apakah mungkin untuk mengumpulkan informasi mengenai semua hewan di peternakan yang tertular (atau yang berkumpul bersama-sama dalam suatu populasi desa) dalam beberapa hari atau minggu sebelum kasus penyakit mulai muncul?
  • Apakah ada lalu lintas hewan dari atau ke dalam kelompok ini?
  • Pengobatan apa yang diberikan kepada hewan (apa yang diberikan dan kapan)?
  • Apakah ada perubahan yang terjadi (pergantian pakan, bahan kimia yang dimasukkan kekandang atau sungai, pembangunan pagar yang baru, dsb)?

Data juga dapat dikumpulkan dari hasil pengamatan langsung terhadap tanda-tanda penyakit pada hewan atau dari hasil pengujian laboratorium.

Pak Paimin memikirkan tambahan informasi penting apa saja yang ia butuhkan. Ia akan menelepon Budi untuk menanyakan hal-hal apa saja yang terjadi selama 2 minggu sebelum hewan-hewan tersebut terserang penyakit dan dari mana anak sapi tersebut diperoleh.

Budi akhirnya memberi tahu Pak Paimin bahwa ia meninggalkan peternakannya selama 10 hari dan pulang 4 hari sebelum hewan miliknya sakit. Selama waktu tersebut, saudara iparnya yang mengurus peternakan dan ia tampak berada dalam suasana hati yang buruk. Budi merasa malu karena ia yakin saudara iparnya yang menyebabkan sapi-sapi miliknya terserang penyakit dan lumpuh, ia juga meyakini sang saudara ipar telah menimbulkan stres yang besar pada hewan-hewan tersebut.

Sementara anak sapi miliknya diperoleh dari seorang teman bernama Soleh yang tinggal di desa yang lain. Anak sapi tersebut telah lama sakit sehingga diberikan kepada Budi.

Sekarang Pak Paimin perlu menghubungi Soleh untuk mendapatkan lebih banyak informasi darinya. Namun sebelumnya ia masuk ke sistem iSIKHNAS untuk melihat apakah ada laporan mengenai kasus penyakit atau diare di desa atau daerah tersebut.

Mengartikan informasi yang anda kumpulkan

Langkah ini meliputi pengelolaan dan analisis data yang telah dikumpulkan untuk mencoba menjabarkan penyakit dan mengidentifikasi kemungkinan penyebabnya.

Apabila identifikasi diagnosis tidak memungkinkan, maka sebaiknya dilakukan upaya untuk menentukan hal-hal berikut ini:

  • Sistem tubuh yang mungkin terpengaruh
  • Apakah penyakit bersifat menular atau tidak
  • Apakah penyakit dapat menyebar dari satu hewan ke hewan lain (kontagius)

Beberapa jenis kegiatan berikut ini dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas:

  1. Menjabarkan pola penyakit dalam hal waktu, tempat, dan hewan
  2. Mengelola dan menganalisis data untuk mencari kaitan antara penyakit dan kemungkinan penyebabnya
  3. Mengembangkan ide-ide mengenai kemungkinan penyakit, penyebab, dan langkah-langkah pengendaliannya

Menjabarkan pola penyakit

Untuk menjabarkan pola penyakit, kita perlu menghitung kejadian kasus (hewan yang terserang penyakit) dan bukan kasus (hewan yang tidak terserang penyakit) pada peternakan yang tertular.

Epidemiologi mempelajari pola kejadian penyakit. Untuk menentukan pola tersebut, kita perlu menghitung kejadian kasus dan bukan kasus. Perhitungan ini dapat digunakan untuk menjabarkan kejadian penyakit berdasarkan waktu, tempat, dan hewan. Langkah ini akan membantu kita memahami penyakit dan dampaknya, serta menjabarkan mengapa dan bagaimana penyakit dapat terjadi. Hal ini akan membantu penyusunan strategi pengendalian.

Waktu

Penjabaran kejadian penyakit berdasarkan waktu biasanya dilakukan dengan menggunakan kurva epidemik yang menggambarkan jumlah kasus penyakit baru seiring berjalannya waktu.

Sebagai contoh:

Kurva epidemik berikut ini menunjukkan waktu dalam satuan hari pada sumbu x (horizontal) dan jumlah kasus baru pada sumbu y (vertikal).

Kurva epidemik

Ini merupakan cara yang paling umum untuk menjabarkan pola kejadian penyakit. Kurva epidemik juga tidak membutuhkan informasi mengenai kejadian bukan kasus.

Sebuah kurva epidemik dapt dibuat berdasarkan data jumlah kasus dan periode waktu munculnya tanda-tanda klinis, biasanya berupa hari atau tanggal ketika tanda-tanda klinis pertama kali terdeteksi. Kurva epidemik dapat memberikan banyak informasi mengenai penyakit yang tengah diselidiki.

Sebagai contoh:

Kurva epidemik dapat memberikan informasi mengenai jenis penyakit dan/atau jenis paparan.

Penyakit yang sangat kontagius memiliki pola eksponensial dengan peningkatan yang curam diikuti oleh penurunan yang progresif seiring berkurangnya jumlah hewan yang rentan di populasi.

Kurva epidemik - Penyakit yang sangat kontagius

Suatu wabah penyakit dengan titik paparan pada hewan (paparan tunggal pada satu waktu tertentu, misalnya tumpahan bahan beracun atau keracunan makanan) akan menunjukkan peningkatan kasus yang tajam diikuti dengan penurunan yang tajam pula.

Kurva epidemik - Wabah penyakit

Penyakit endemik yang tidak terlalu kontagius akan menunjukkan pola yang cenderung datar dengan beberapa peningkatan dan penurunan kecil tanpa ada kenaikan yang tajam.

Kurva epidemik - Penyakit endemik

Tempat

Peta penyakit yang dihasilkan oleh iSIKHNAS

Penjabaran kejadian penyakit berdasarkan tempat biasanya dilakukan dengan pemetaan. Saat ini sudah banyak tersedia perangkat lunak komputer untuk pemetaan, namun peta sederhana yang dibuat dengan tangan masih menjadi alat bantu yang sangat berguna untuk merangkum kejadian penyakit.

Hewan

Penjabaran kejadian penyakit berdasarkan hewan biasanya dilakukan dengan menghitung kasus yang memiliki karakteristik inang tertentu. Karakteristik umum yang biasa digunakan untuk menjabarkan kejadian penyakit berdasarkan hewan antara lain:

  • Kelompok umur
  • Ras
  • Spesies
  • Jenis kelamin
  • Kondisi tubuh
  • Status vaksinasi

Karakteristik tersebut juga dapat mencakup penjabaran hasil seperti: Jumlah hewan yang tertular, mati, dan pulih.

Pak Paimin menemukan banyak laporan kasus diare di desa tempat anak sapi tersebut berasal dan juga di daerah Kabupaten tetangga yang menjadi muara saluran pembuangan dari peternakan Budi. Pak Paimin menghubungi dokter hewan Dinas, kemudian mereka bersama-sama membuat kurva epidemik berikut ini serta menyusun rencana investigasi epidemiologi yang lebih terperinci.

Kurva epidemik

Mengelola dan menganalisis data untuk mencari kaitan

Proporsi kerap kali digunakan untuk mengekspresikan kejadian penyakit. Proporsi dapat lebih mudah dipahami, dan sering kali lebih berguna, daripada angka-angka bulat. Untuk menentukan suatu proporsi, anda perlu menghitung dua kelompok hewan berikut ini:

Jumlah kasus penyakit, yaitu:

  • Jumlah kasus baru selama rentang waktu tertentu, atau
  • Jumlah kasus pada satu waktu tertentu (metode ini dapat mencakup kasus-kasus lama maupun baru)

Dalam menghitung proporsi, jumlah kasus penyakit merupakan pembilang (angka di bagian atas).

Populasi yang beresiko

  • Jumlah hewan yang dianggap dapat tertular suatu penyakit. Populasi yang beresiko perlu mencakup semua hewan di daerah sasaran (peternakan, desa, kabupaten, provinsi, dst) yang dapat tertular penyakit tersebut, tetapi tidak selalu harus menyertakan seluruh hewan yang ada.

Ketika terjadi wabah demam susu (Milk Fever) pada sapi karena defisiensi kalsium, populasi yang beresiko meliputi semua sapi betina yang tengah mengandung di peternakan yang bersangkutan. Sedangkan sapi jantan dan sapi betina yang tidak sedang mengandung bukan merupakan bagian dari populasi yang beresiko.

Populasi yang beresiko untuk retensi plasenta mencakup semua sapi betina dewasa dan sapi betina muda yang melahirkan dalam satu kawanan; sedangkan untuk Porcine Parvovirus, populasi yang beresiko adalah babi betina dewasa dan babi betina muda dengan serologi negatif.

Dalam menghitung proporsi, populasi yang beresiko merupakan penyebut (angka di bagian bawah).

{\mathit  {Proporsi}}={\frac  {{\mathit  {pembilang}}}{{\mathit  {penyebut}}}}={\frac  {{\mathit  {jumlah}}{\mathit  {}}{\mathit  {kasus}}}{{\mathit  {populasi}}{\mathit  {yang}}{\mathit  {beresiko}}}}

Penjabaran kejadian penyakit dengan metode ini memungkinkan identifikasi perbedaan proporsi yang dapat mengindikasikan penyebab penyakit. Cara ini dapat membantu menjabarkan pola penyakit secara lebih terperinci sekaligus mengidentifikasi kemungkinan penyebab penyakit.

Sering kali juga bermanfaat untuk menjabarkan proporsi atau persentase hewan yang tertular berdasarkan karakteristik lain yang berkaitan dengan inang, agen penular, atau lingkungan.

Sebagai contoh:

Berikut adalah beberapa karakteristik yang berguna untuk mengelola data:


Satuan pengamatan Beberapa karakteristik relevan sebagai perbandingan}
Hewan, kandang, kawanan spesies, jenis kelamin, umur, ras, berat, ukuran, jenis tanah, kepadatan populasi, tahapan produksi, pakan yang tersedia, sumber air
Peternakan lokasi, luas, asal hewan, sumber pakan dan air, metode produksi, kegiatan usaha lain
Desa lokasi, jumlah peternakan, jenis peternakan, kondisi geografis, iklim
Kabupaten lokasi, luas, dinas pemerintahan setempat, kondisi geografis, iklim

Data mengenai kejadian kasus dan bukan kasus dapat menunjukkan bahwa sebagian besar kasus terjadi pada satu kandang atau kelompok umur hewan tertentu.

Proporsi hewan yang tertular dapat dikelola dengan menggunakan karakteristik lain untuk menentukan pola penyakit sehingga dapat memberikan lebih banyak petunjuk mengenai penyebabnya. Apabila proporsi hewan yang tertular lebih tinggi pada hewan muda ketimbang hewan yang lebih tua, maka dapat disimpulkan bahwa penyakit tersebut cenderung menjangkiti hewan muda. Informasi ini memungkinkan paravet untuk mengidentifikasi penyakit yang dapat ditambahkan ke dalam daftar diagnosis pembanding.

Tingkat serangan (Attack Rate/AR) dapat digunakan untuk membandingkan proporsi tingkatan yang berbeda dari karakteristik lain. Tingkat serangan membutuhkan pembilang (jumlah kasus berdasarkan masing-masing karakteristik) dan penyebut (jumlah total hewan tertular di peternakan berdasarkan masing-msaing karakteristik).


Pak Paimin dan Drh. Agung (dokter hewan Dinas) memperoleh data kasus dan populasi di dua Kabupaten yang tertular dari iSIKHNAS.

Mereka kemudian membuat perhitungan sebagai berikut:


Untuk Kabupaten 1, AR1 =
Jumlah kasus diare pada sapi
}
Total sapi di Kabupaten 1
Untuk Kabupaten 2, AR2 =
Jumlah kasus diare pada sapi
Total sapi di Kabupaten 2

Pak Paimin dan Drh. Agung berpikir selama periode terjadinya penyakit, ada sekitar 100 sapi dan 10 kasus diare di Kabupaten 1, dan 300 sapi dan 84 kasus diare di Kabupaten 2.


Berikut adalah analisis data awal dari investigasi epidemiologi yang dimulai di peternakan milik Budi:


style="border-spacing:0;"
Jumlah sapi
Tingkat Serangan
Kabupaten
Kasus
Total
AR
1

2

10
84
100
300
10%
28%

Pada tabel diatas, tingkat serangan ditunjukkan dengan persentase.

Terdapat 100 ekor sapi di Kabupaten 1 dimana 10 ekor digolongkan sebagai kasus, sehingga tingkat serangan adalah 10/100= 0,1 atau 10%. Di Kabupaten 2 terdapat 300 ekor sapi dimana 84 ekor merupakan kasus, sehingga tingkat serangan adalah 84/300= 0,28 atau 28%.

Berdasarkan tingkat serangan di kedua Kabupaten tersebut, tampak bahwa sapi di Kabupaten 2 lebih mudah terserang diare daripada sapi di Kabupaten 1.

Membagi satu tingkat serangan (AR) dengan tingkat serangan yang lain akan menghasilkan ukuran resiko relatif (RR). Sapi di Kabupaten 2 memiliki resiko terserang diare 2,8 kali lipat lebih besar daripada sapi di Kabupaten 1 (RR=28%/10%).

Dalam contoh ini, sapi di Kabupaten 2 cenderung lebih mudah terserang diare. Dari hasil investigasi, kita mengetahui bahwa kasus diare di peternakan Budi merupakan salah satu kasus yang pertama dilaporkan dalam kurun waktu yang tersebut. Dari pemetaan kasus, kita mengetahui bahwa sebagian besar kasus terjadi di lokasi yang berdekatan dengan muara saluran pembuangan air dari peternakan Budi.

Temuan ini dapat mendukung pemikiran bahwa sapi-sapi yang berada di hilir saluran pembuangan tersebut cenderung lebih mudah terserang diare dan keberadaan saluran pembuangan itu ikut menyebabkan terjadinya penyebaran penyakit.

Analisis data epidemiologi yang lebih terperinci dapat dilakukan dan bisa menjadi suatu hal yang penting untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab penyakit. Namun analisis semacam itu berada di luar cakupan Panduan Sumber Daya Epidemiologi Lapangan Tingkat Dasar ini. Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada Pandung Sumber Daya Epidemiologi Lapangan Tingkat Lanjut.

Menyusun strategi pengendalian penyakit

Pada saat melakukan investigasi penyakit, strategi pengendalian perlu disusun secepat mungkin untuk meminimalkan jumlah hewan yang tertular. Langkah ini terutama sangat penting untuk penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi atau dapat menyebar dengan cepat.

Sering kali penting untuk mengimplementasikan beberapa tindakan pengendalian sebagai investigasi awal yang diselesaikan sebelum paravet (atau dokter hewan) meninggalkan peternalkan. Bahkan dalam situasi di mana Anda mungkin memiliki beberapa diagnosa banding atau ketika Anda mungkin tidak yakin apa penyebabnya, kemungkinan anda dapat memasukkan beberapa langkah-langkah pengendalian yang berguna sebelum meninggalkan peternakan. Kadang-kadang investigasi tambahan dapat dilakukan atau pengujian laboratorium dilakukan untuk mencoba mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan mencoba untuk menghasilkan diagnosa banding dan tindakan pengendalian dapat berubah sering Anda mengumpulkan informasi tambahan.

Examples of possible control measures that might be put in place during the initial investigation include:

memindahkan hewan rentan ke area baru dapat mengendalikan penyakit jika investigasi menunjukan bahwa penyebab penyakit adalah suatu sumber paparan seperti tanaman beracun - Memindahkan inang

meningkatkan manajemen peternakan, pengembangbiakan atau pemberian pakan jika investigasi menunjukan kontaminasi, pakan yang kurang baik, atau pengembangbiakan yang kurang baik adalah penyebab penyakit i- Manajemen hewan

Apabila investigasi menunjukkan bahwa agen penular bisa saja sangat menular maka strategi awal meliputi:

  • pengibatan hewan yang tertular - Pengobatan hewan
  • melarang hewan dan orang masuk dan keluar dari peternakan yang tertular - Pengendalian lalu lintas hewan
  • memisahkan hewan yang tertular dan yang sehat - Isolasi
  • menggunakan dan mempromosikan kebersihan, disinfeksi dan strategi manajemen lainnya yang baik - Biosekuriti

Dalam beberapa kasus, beberapa strategi pengendalian awal perlu dilakukan, kemudian dilakukan investigasi lanjutan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab. Dengan tersedianya lebih banyak informasi, maka dapat dilakukan modifikasi pengobatan dan pencegahan.

Diharapkan Dokter Hewan Kabupaten akan dilibatkan dalam perencanaan dan interpretasi investigasi epidemiologi yang terperinci.

Beberapa penyakit akan memiliki pra-rencana program pengendalian nasional yang diimplementasikan ketika ada dugaan penyakit atau konfirmasi penyakit. Jenis pengendalian biasanya terbatas pada penyakit spesifik yang menjadi perhatian di mana terdapat kebijakan pengendalian dan pemusnahan (penyakit prioritas dan penyakit eksotis yang menjadi perhatian). Sering kali jumlah yang banyak diketahui mengenai penyakit-penyakit ini. Program pengendalian semacam ini sering kali melibatkan dukungan legislatif dan kebijakan kesehatan hewan nasional yang menentukan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk investigasi dan pengendalian penyakit. Beberapa strategi tambahan dapat digunakan dalam jenis program pengendalian ini, yaitu:

  • memisahkan hewan terinfeksi dan suspek dari hewan rentan serta mencegah hewan atau orang keluar masuk peternakan tertular akan membantu mengurangi penyebaran dan penularan penyakit - Karantina
  • memusnahkan hewan sakit dan yang mungkin terduga sakit, memusnahkan karkas dan benda-benda infeksius lainnya untuk mengurangi jumlah sumber agen penular - Pemotongan
  • menggunakan vaksinasi untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit untuk mengurangi jumlah hewan - Vaksinasi
  • mengurangi jumlah inang perantara (seperti serangga dan hewan liar) yang menyebarkan penyakit dapat membantu mengurangi penyebaran - Pengendalian' inang perantara

Informasi secara terperinci tentang hal ini disediakan dalam Manual Sumber Daya Epidemiologi Lapangan Lanjutan

Penarapan pendekatan epidemiologis terhadap kasus-kasus rutin

Epidemiologi Lapangan dalam pekerjaan sehari-hari

Berpikir mengenai kemungkinan penyebab penyakit, inang, agen, dan lingkungan ketika melihat setiap hewan yang sakit akan membantu paravet memberikan pelayanan yang lebih baik kepada peternak untuk pengobatan dan pencegahan penyakit pada hewan. Paravet harus melibatkan keahlian epidemiologi lapangan di dalam semua aspek kegiatan harian mereka. Beberapa contoh berikut ini dimaksudkan untuk mengilustrasikan bagaimana keahlian epidemiologi lapangan dapat berguna dalam semua jenis kegiatan mulai dari mengelola individu hewan yang sakit sampai wabah penyakit dengan skala yang lebih besar.

Contoh 1

Pendahuluan kasus

Anda mengunjungi peternakan yang terdapat anak sapi sakit dan tidak mau minum.

Informasi yang dikumpulkan selama investigasi
  • Produksi susu induk sapi kurang baik
  • Semua anak sapi lahir di kandang dengan rumput yang bersih.
Tindakan paravet

Anda memeriksa anak sapi tersebut, menemukan abses pada pusarnya dan mengobatinya.

Anda memberikan saran pada peternak tentang penyebab abses, yaitu: lingkungan peternakan yang tidak bersih, kondisi lembab/basah, terpapar bakteri, dan kurangnya air susu (colostrum) pada 6 jam pertama.

Anda memberikan saran kepada peternak bagaimana melakukan pencegahan lanjutan terhadap kasus-kasus tersebut dengan cara mempertahankan kebersihan lingkungan tempat anak sapi dipelihara dan membantu anak sapi untuk minum air susu induknya pada 6 jam pertama kehidupannya.

Konteks Epidemiologi

Keahlian epidemiologi membantu anda untuk memikirkan tentang bagaimana kasus ini terjadi - beberapa penyebab penyakit (inang, agen, dan lingkungan).

Dengan mengetahui penyebab umum dari penyakit ini (epidemiologi penyakit) memungkinkan anda untuk memberikan saran terbaik bagaimana mengobati anak sapi yang sakit dan yang paling penting bagaimana peternak dapat memperbaiki manajemen mereka untuk mencegah kasus-kasus lanjutan penyakit ini terjadi di masa mendatang.

Contoh 2

Pendahuluan kasus

Anda mengunjungi peternakan yang terdapat beberapa anak sapi yang abses pada pusarnya dan beberapa anak sapi tanpa abses.

Informasi yang dikumpulkan selama investigasi
  • Beberapa sapi baru datang 9 minggu lalu
  • Sapi-sapi tersebut dipindahkan ke kandang berumput 9 minggu lalu
  • Semua anak sapi yang sakit berumur antara 6 dan 8 minggu
  • Semua anak sapi yang sehat berumur lebih dari 10 minggu
  • Semua anak sapi yang sakit lahir di padang kecil yang sangat kotor
  • Semua anak sapi yang sehat lahir di kandang berumput yang bersih.

Tindakan oleh paravet

Anda memeriksa anak sapi tersebut dan mengobatinya.

Anda memberikan saran pada peternak tentang penyebab abses, yaitu: lingkungan peternakan yang tidak bersih, kondisi lembab/basah, terpapar bakteri, dan kurangnya air susu (colostrum) pada 6 jam pertama.

Anda memberikan masukan pada peternak tentang bagaimana mencegah kasus-kasus lanjutan khususnya dengan cara menciptakan lingkungan bersih untuk melahirkan anak sapi. Halaman yang kecil adalah penyebab yang dapat diubah dengan mudah untuk mencegah kasus-kasus lanjutan. Bisa jadi sapi-sapi baru membawa bakteri baru karena sapi-sapi yang lebih tua tidak terkena penyakit. Namun, karena sapi-sapi tersebut mengubah peternakan maka sulit untuk menentukan apakah hal ini benar.

Konteks epidemiologi

Keahlian epidemiologi membantu kita untuk memikirkan tentang pola penyakit dalam dua kelompok anak sapi (yang sakit dan yang sehat) dan bagaimana perbedaan ini dapat dihubungkan dengan kemungkinan penyebab penyakit.

Kita dapat menggunakan informasi ini untuk memberikan pengobatan terbaik bagi anak sapi yang sakit dan memberikan masukan bagi peternak apa yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi jumlah penyakit di masa yang akan datang, memberikan manfaat jangka panjang bagi peternak yang akan meningkatkan kesehatan hewan dan produktifitasnya serta mengurangi biaya-biaya serta kerugian di masa mendatang.

Contoh 3

Pendahuluan kasus

Anda berkunjung ke peternakan yang terdapat 2 sapi yang terkena diare.

Informasi yang dikumpulkan selama investigasi

  • Kedua sapi adalah sapi Bali berumur 2 tahun
  • Mereka dipisahkan dari yang lain karena baru saja melahirkan
  • Semua sapi di peternakan diberi obat cacing 3 minggu lalu
  • Yang mereka makan hanya rumput pendek di dalam padang rumput kecil dekat kandang
  • Tidak ada sapi lain di lingkungan sekitar
  • Kedua sapi terlihat lemah, mata berair dan terlihat depresi
  • Kedua sapi berbau diare encer dan terdapat darah segar
  • Keduanya dehidrasi
  • Teperaturnya naik di atas normal: 39.8° and 40.1°

Tindakan oleh paravet

Anda memeriksa sapi, mengambil sampel untuk investigasi laboratorium, dan mengobati mereka.

Anda memberi masukan bahwa agen penular yang dapat menyebabkan diare (diagnosa banding) mencakup: infeksi bakteri pada usus (Salmonella, E-coli), virus Bovine Viral Diarrhoea, Parasit. Karena demam dan sakit parah serta bau diare, maka infeksi bakteri adalah yang paling memungkinkan.

Anda memberitahukan peternak bahwa kemungkinan ini adalah penyakit zoonosis. Setiap orang harus berhati-hati dan memastikan untuk mencuci tangan mereka sebelum makan atau mempersiapkan makanan, khususnya setelah kontak dengan sapi-sapi tersebut.

Anda memberikan saran kepada peternak bagaimana mencegah kasus lebih lanjut:

  • Pisahkan 2 sapi dan anak sapi dari sapi lainnya (isolasi)
  • Sapi-sapi sehat ditaruh di hulu yang lebih tinggi di sepanjang aliran dari 2 sapi sakit dan anak sapi

Konteks epidemiologi

Keahlian epidemiologi membantu paravet untuk memahami kemungkinan penyebab penyakit dan menggunakan informasi ini untuk memberikan masukan terbaik untuk pengobatan dua sapi yang sakit dan juga untuk pencegahan transmisi penyakit ke hewan-hewan lainnya di peternakan.

Keahlian epidemiologi juga memungkinkan anda untuk dapat mengenali tanda-tanda terjadinya penyakit zoonosis dan memberikan masukan terbaik pada masyarakat untuk mencegah tertularnya penyakit ini pada manusia.

Contoh 4

Pendahuluan kasus

Anda mengunjungi tempat penggemukan dan penjual sapi di mana terdapat sapi dan pedet yang terkena pinkeye.

Informasi yang dikumpulkan selama investigasi

  • Terdapat banyak sapi yang terkena pinkeye pada satu atau kedua mata
  • Tempat penggemukan memberikan pakan rumput yang tinggi dengan jumlah yang banyak dan diletakkan di atas tanah
  • cuaca sangat kering, tidak turun hujan cukup lama
  • Terdapat tumpukan besar kotoran sapi di dekat tempat kandang penggemukan dan terdapat banyak lalat
  • Kandang penggemukan tidak teduh
  • Selalu ada sapi yang masuk dan keluar tetapi pinkeye selalu ada. Saat ini kandang penggemukan sangat penuh

Tindakan oleh paravet

Anda memeriksa sapi-sapi ini dan mengobatinya.

Anda memberitahu peternak bahwa penyebab pinkeye termasuk:

  • Sapi muda
  • Lalat
  • Debu
  • Ciri fisik hewan, konformasi mata (mata begkak), Physical characteristics of the animal, eye conformation (bulging eyes), kurangnya pigmen kulit di sekitar mata
  • Paparan sinar matahari tinggi (UV)
  • Sesak (kepadatan populasi tinggi)
  • Pemberian pakan rumput bertangkai panjang

Anda memberitahukan peternak bahwa agen penular penyakit mata ini adalah Moraxella bovis. Beberapa strain menyebabkan penyakit mata yang lebih parah daripada jenis lainnya.

Anda memberikan pengobatan pada hewan yang tertular penyakit.

Anda memberikan saran kepada peternak bagaimana mencegah kasus lebih lanjut:

  • Memisahkan hewan yang terkena pinkeye dari yang sehat (isolasi), monitor sapi dan pindahkan hewan yang baru terkena sesegera mungkin ketika terlihat sakit
  • Pindahkan tumpukan kotoran sapi jauh dari tempat penggemukan dan coba dan kurangi jumlah lalat
  • Jika memungkinkan cari jenis pakan yang tidak panjang dan bertangkai besar, pertimbangkan memodifikasi tempat pakan sehingga pakan tidak berdiri ke atas, dan pertimbangkan untuk menyiram pakan kering untuk mengurangi debu
  • Coba dan lalukan pekerjaan mengurus sapi pagi hari ketika debu dan sinar matahari lebih sedikit. Pertimbangkan menyiram halaman sebelum melakukan pekerjaan mengurus sapi
  • Kenali bahwa lebih banyak sapi di kandang penggemukan akan meningkatkan kejadian penyakit, terutama ketika terdapat penyebab lain (kondisi kering, panas, berdebu). Ketika terdapat banyak penyebab penyakit, strategi pencegahan harus dilaksanakan bahkan ketika tidak ada kasus agar mencoba dan mencegah terjadinya kasus baru.
  • Jika tersedia vaksinasi dan terjangkau, pertimbangkan vaksinasi untuk mengurangi penyakit.
  • Jangan membawa sapi baru yang terkena pinkeye karena akan membawa infeksi pada hewan di kandang penggemukan. Coba untuk menghindari memindahkan hewan terinfeksi dari kandang penggemukan ke kelompok sapi lain untuk alasan yang sama.

Konteks epidemiologi

Keahlian epidemiologi juga membantu kita untuk memikirkan tentang penyebab penyakit dan juga cara-cara penyebaran dan penularan agen penular dengan menggunakan hewan-hewan yang terinfeksi.

Dengan mengetahui epidemiologi penyakit Anda dapat memberikan pengobatan terbaik bagi hewan-hewan yang terkena penyakit dan yang paling penting keahlian epidemiologi memungkinkan anda memberikan saran untuk mencegah terjadinya penyakit.

Pencegahan penting ketika ada kasus yang sudah terjadi untuk meminimalkan jumlah hewan yang terkena penyakit dan memerlukan pengobatan. Ini adalah langkah pengendalian yang diimplementasikan dalam menghadapi wabah.

Pada akhirnya, para pedagang juga dapat melakukan tindakan strategi pencegahan berdasarkan saran dari Anda ketika tidak terjadi mata merah pada sapi tetapi ketika terdapat penyebab penyakit yang diketahui. Hal ini memungkinkan para pedagang untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit, yang akan meningkatkan pertumbuhan hewan dan profit serta mengurangi biaya di masa mendatang.

Contoh 5

Pendahuluan kasus

Anda mengunjungi peternakan ayam di mana terdapat beberapa ayam dengan kepala terkulai, mata tertutup, bersin, dan mencret kehijauan dan telah ada kematian ayam.

Informasi yang dikumpulkan selama investigasi

  • ini biasanya terjadi pada ayam muda
  • ayam tidak mau makan dan sedikit energi
  • terdapat beberapa unggas baru yang sakit ketidka datang di peternakan 8 hari lalu
  • beberapa ayam sakit 3 atau 4 hari lalu dan sekarang banyak yang sakit
  • terdapat banyak ayam di area yang kecil dan sedikit kotor t
  • terdapat sarang burung liar di atap

Tindakan oleh paravet

Anda melakukan post-mortem pada ayam yang mati dan mengambil beberapa sampel dari ayam yang mati dan ayam yang sakit untuk pengujian laboratorium.

Anda memberi tahu peternak penyebab penyakit ini termasuk:


  • Masuknya penyakit ini ke dalam peternakan melalui ayam-ayam yang baru dibeli
  • Unggas liar
  • Tidak dilakukan vaksinasi
  • Ayam yang masih muda
  • Sesak (kepadatan populasi tinggi)
  • Pengunjung peternakan menggunakan baju yang kotor (yang terkontaminasi dengan agen penular penyakit)
  • Makanan atau air yang tercemar

Anda memberitahukan peternak bahwa agen penular penyakit (diagnosis banding) bisa jadi adalah penyakit Newcastle, flu burung (HPAI), sampar itik, keracunan akut, kolera unggas, dan mycoplasmosis. Masa inkubasi bisa antara 3 dan 5 hari. Untuk daerah Anda, agen penular yang paling mungkin adalah penyakit Newcastle.

Anda memberitahukan pemilik bahwa ayam-ayam ini memiliki tanda-tanda klinis sesuai sindrom prioritas (MMU atau meningkatnya kematian mendadak pada ayam dan unggas lainnya). Hal ini harus dilaporkan pada iSIKHNAS sebagai MMU. Tindakan lebih lanjut termasuk kegiatan respons dan strategi pengendalian oleh pemerintah mungkin diperlukan jika penyakit prioritas dikonfirmasi setelah adanya hasil laboratorium.

Anda memberitahukan peternak mengenai kemungkinan penyakit zoonosis. Setiap orang harus benar-benar berhati-hati untuk menghindari kontak sangat dekat dengan unggas yang sakit atau mati, tidak minum atau mencuci dengan air dari gudang ayam dan pastikan untuk mencuci secara hati-hati setelah menangani unggas dan sebelum makan atau memasak makanan.

Anda memberikan saran kepada peternak bagaimana pencegah kasus secara umum:

  • Jangan memelihara terlalu banyak ayam di area yang kecil dan jaga kebersihan area tersebut
  • Jaga agar ayam dalam keadaan sehat - pemberian obat cacing, vaksinasi, pakan dan air minum yang baik
  • Musnahkan unggas mati dengan benar (kubur atau bakar)
  • Pisahkan unggas sakit dari yang sehat
  • Cegah unggas liar kontak dengan ayam Anda
  • Buat strategi untuk mengurangi kemungkinan terbawanya penyakit pada unggas Anda melalui unggas baru atau pengunjung - hanya bawa hewan sehat saja ke peternakan Anda, pisahkan hewan baru selama 10 hari jika memungkinkan untuk melihat munculnya tanda-tanda penyakit, dan pastikan pengunjung bersih dan tidak datang langsung dari peternakan lain ke peternakan Anda.

Konteks epidemiologi

Keahlian epidemiologi membantu paravet untuk memahami kemungkinan penyebab penyakit dan menggunakan informasi ini untuk memberikan saran terbaik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit ke hewan-hewan lainnya di peternakan.

Epidemiologi lapangan dan pengetahuan Anda tentang penyakit prioritas dan sindrom prioritas serta pelatihan iSIKHNAS memungkinkan Anda untuk melaporkan kasus ini sebagai sindrom prioritas dan memastikan bahwa penyelidikan penyakit yang tepat dilakukan untuk mendiagnosis penyebabnya. Jika penyakit prioritas (seperti HPAI) telah dikonfirmasi, hal ini kemudian akan mengarah pada tindakan respon yang benar yang dituangkan dalam kebijakan nasional.

Jika penyelidikan mengidentifikasi beberapa agen penyakit lain (seperti ND) sebagai penyebab dan mengesampingkan penyakit prioritas, maka langkah-langkah pengendalian penyakit rutin akan diterapkan berdasarkan tindakan pengobatan dan pencegahan untuk penyakit tersebut. Ini adalah sebuah contoh dari surveilans penyakit yang berhasil dan menunjukkan bahwa sistem iSIKHNAS dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh paravet telah melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, yaitu menyelidiki terjadinya penyakit untuk mengidentifikasi penyebab dan melakukan tindakan yang sesuai.

Keahlian epidemiologi memungkinkan Anda memberikan saran yang berguna tentang manajemen peternakan ke depan untuk mencegah infeksi baru.

Keahlian epidemiologi juga membantu Anda untuk memikirkan tentang kemungkinan zoonosis dan memberikan saran yang tepat kepada peternak dan keluarganya sehingga mereka dapat meminimalkan kemungkinan terinfeksi penyakit ini.

Epidemiologi lapangan di dalam program pengendalian penyakit prioritas

Keahlian epidemiologi lapangan sangat penting bagi paravet uang terlibat dalam program pengendalian penyakit prioritas. Pemahaman penyebab dan dampak penyakit di tingkat populasi sangat membantu dalam memikirkan tentang mengapa berbagai macam strategi yang berbeda diterapkan untuk mengendalikan penyakit-penyakit yang spesifik, dan juga dalam menjelaskan proses pelaksanaan kepada peternak.

Contoh 6

Pendahuluan kasus

Anda mengunjungi peternakan di mana terdapat sapi mati dengan darah yang mengalir dari lubang kumlah.

Informasi

  • Ada kasus anthrax di peternakan yang sama beberapa tahun lalu
  • Ada 4 sapi mati dan 15 lainnya hidup di peternakan tersebut

Tindakan oleh paravet

Anda memeriksa hewan yang mati dan mengambil sampel.

Anda memberitahukan peternak bahwa ini adalah sindrom prioritas (MTD - Kematian mendadak dengan darah dari lubang kumlah pada sapi), dan Anda perlu melaporkan hal ini ke iSIKHNAS. Kemungkinan besar pemerintah akan melakukan investigasi dan respons secara resmi. Penyakit ini juga merupakan penyakit zoonosis yang berbahaya.

Anda memberikan saran kepada peternak mengenai strategi pengendalian awal yang dapat mereka mulai lakukan hari ini untuk mencegah kasus lanjutan:

  • pindahkan hewan yang hidup dari area di mana terdapat sapi mati atau dari potensi sumber anthrax - Manajemen ternak
  • pertimbangkan mengobati hewan yang hidup yang kontak dengan hewan yang mati dengan penicillin untuk mengobati atau mencegah anthrax - Pengobatan hewan
  • melarang hewan baru masuk dan hewan sakit keluar dari peternakan - Pengendalian lalu lintas
  • pembuangan karkas dan hewan mati dengan benar sangatlah penting, dan semua orang harus memperhatikan kebersihan ketika memegang hewan mati dan hewan yang mati tidak baik untuk dikonsumsi - Biosekuriti

Anda memberitahukan peternak bahwa sangat penting untuk mengendalikan penyakit ini karena dapat bertahan lama di lingkungan dan juga dapat membunuh manusia. Strategi pengendalian tambahan dapat dilakukan apabila anthrax telah dikonfirmasi, yang meliputi:

Memisahkan hewan dan manusia dari potensi sumber penyakit dan mencegah hewan dan kadang kala manusia keluar dan masuk peternakan - Karantina

Melakukan program vaksinasi bagi hewan hidup di peternakan dan kemungkinan peternakan atau kabupaten sekitar - Vaksinasi

Konteks epidemiologi

Keahlian epidemiologi membantu kita untuk memahami penyebab penyakit dan memikirkan tentang strategi-strategi pengendalian untuk mencegah kasus-kasus lebih lanjut.

Pemanfaatan iSIKHNAS secara efektif akan membantu pelaporan cepat sindrom penyakit prioritas dan untuk memicu terlaksananya investigasi melalui uji laboratorium guna mengkonfirmasikan diagnosis anthrax. Hal ini untuk memastikan bahwa langkah-langkah pengendalian efektif dapat diterapkan sesegera mungkin serta meminimalkan risiko kematian hewan lainnya atau infeksi pada manusia.

Pada kasus anthrax hal ini penting karena dapat menyebabkan penyakit dan kematian pada manusia. Beberapa strategi pengendalian dapat diterapkan sesegera mungkin untuk membantu mencegah kasus-kasus lebih lanjut. Strategi-strategi pengendalian lainnya memerlukan arahan resmi dari pemerintah misalnya karantina atau perencanaan dan pendanaan lebih mendalam seperti program vaksinasi.

Contoh 7

Pendahuluan kasus

Seekor sapi dilaporkan mengeluarkan liur di peternakan yang berdekatan.

Informasi yang tersedia

  • Sapi telah diperiksa dan terlihat lesi pada mulut dan lidah seperti sariawan dan lepuh berisi cairan
  • Kasus ini telah diidentifikasi sebagai sindrom prioritas (PLL - pincang, liur dan lepuh pada mulut/kaki/puting pada sapi)
  • Sampel dikirim ke laboratorium
  • Kasus ini telah dilaporkan ke iSIKHNAS dan sudah ada respons resmi dari pemerintah yang melibatkan dokter hewan DINAS.
  • Strategi-strategi pengendalian berikut ini telah dilaksanakan:
    • Karantina - secara lokal
    • Biosekuriti
  • IndovetPlan untuk penyakit PMK yang menjabarkan strategi pengendalian lebih lanjut jika hasil laboratorium positif. Strategi-strategi tersebut mencakup:
    • Karantina untuk area yang lebih luas
    • Program pemotongan
    • Program vaksinasi
  • Hasil laboratorium dan informasi lainnya yang mengesampingkan penyakit PMK untuk kasus khusus ini

Tindakan oleh paravet

Anda memastikan masyarakat, khususnya peternak lokal mengetahui betapa seriusnya penyakit PMK bagi Indonesia dan mereka mamahami mengapa langkah-langkah pengendalian harus diterapkan sebelum kasus-kasus tersebut dikonfirmasi.

Anda perlu mengomunikasikan dan memperingati masyarakat dan peternak yang terkena dampak yang telah mengesampingkan PMK karena pengujian telah dilakukan. Penjelasan tentang mengapa penting untuk memiliki langkah-langkah pengendalian awal sebelum hasil tes dirilis dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan dalam kasus sapi yang terkena PMK. Begitu hasil tes negatif dikeluarkan tindakan pengendalian akan dihentikan.

Konteks epidemiologi

Keahlian epidemiologi membantu untuk memahami tanda-tanda, sindrom, diagnosis banding, bagaimana suatu diagnosis definitif dicapai, dan pendekatan untuk investigasi penyakit. Hal ini digabungkan dengan pemahaman tentang kasus-kasus, penularan, dan penyebaran penyakit serta pengetahuan untuk mengenali, melakukan investigasi dan mengendalikan penyakit-penyakit prioritas akan memungkinkan anda untuk menjelaskan mengapa penting untuk memulai strategi-strategi pengendalian sebelum diagnosis dikonfirmasikan.

Pemanfaatan iSIKHNAS secara efektif untuk memastikan bahwa sindrom prioritas awal telah dilaporkan dengan cepat dan langkah-langkah tepat termasuk uji laboratorium dan langkah-langkah pengendalian awal telah dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah setiap kemungkinan menyebarnya penyakit untuk berjaga-jaga apabila penyakit tersebut adalah penyakit prioritas misalnya PMK.

Ini adalah sebuah contoh dari surveilans penyakit yang berhasil dan menunjukkan bahwa sistem iSIKHNAS dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh paravet telah melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, yaitu menyelidiki terjadinya penyakit untuk mengidentifikasi penyebab dan melakukan tindakan yang sesuai.

Contoh 8

Pendahuluan kasus

Program pengendalian rabies telah dilaksanakan di area ini selama 2 tahun terakhir

Informasi yang tersedia

  • dalam 2 tahun terakhir ada 86 kasus yang dikonfirmasi rabies pada anjing dan 3 pada manusia
  • Program vaksinasi yang ada sekarang telah berjalan selama 18 bulan
  • Estimasi anjing di area ini pada saat ini adalah 2000 ekor
  • Estimasi vaksinasi anjing saat ini adalah 1200 (60%)
  • Sasaran program adalah vaksniasi 80% anjing

Tindakan oleh paravet

Anda memastikan bahwa masyarakan diberikan pendidikan tentang risiko rabies, program pengendalian, dan pentingnya untuk menghindari gigitan anjing.

Anda bekerja dengan tim penangkap dan vaksinasi anjing. Anda harus memastikan sebanyak mungkin anjing untuk divaksinasi, mereka diberikan booster vaksinasi jika diperlukan, vaksin haruslah selalu disimpan dalam suhu yang sesuai, hasil vaksinasi setiap hari dimasukkan ke iSIKHNAS.

Konteks epidemiologi

Keahlian epidemiologi membantu kita untuk memahami perkembangan penyakit pada individu dan populasi dan bagaimana vaksinasi dapat digunakan untuk mengurangu jumlah hewan rentan dengan meningkatkan kekebalan dan menurunkan penularan and penyebaran penyakit. Epidemiologi juga membantu kita memahami bahaimana konsep kekebalan kelompo membantu dalam pengendalian penyakit karena artinya asalkan proporsi yang tinggi dari populasi anjing divaksinasi (lebih dari 70-80%), efek kekebalan kelompok akan berarti bahwa program vaksinasi harus menghasilkan penurunan yang progresif dalam jumlah kasus rabies baru pada anjing.

Pengetahuan tentang penyakit zoonosis membantu kita untuk mengomunikasikan strategi efektif bagi manusia untuk mencegah paparan penyakit (menghindari digigit) dan pergi ke dokter untuk pengobatan pasca-paparan (PET) jika mereka telah digigit oleh anjing yang mungkin memiliki rabies.

Contoh 9

Pendahuluan kasus

Telah dikonfirmasikan HPAI di peternakan ayam di area Anda

Informasi yang tersedia

  • Investigasi mengidentifikasikan banyak ayam sakit atau mati
  • Telah diambil sampel laboratorium dan laboratorium mengkonfirmasikan virus HPAI
  • Hasil uji laboratorium dan tanda-tanda klinis berarti HPAI telah dikonfirmasi sebagai diagnosis definitif dalam kasus ini
  • Telah ada respons resmi dari pemerintah termasuk strategi-strategi pengendalian ini:
    • Pemotongan
    • Karantina
    • Biosekuriti
    • Program vaksinasi untuk area sekitar

Tindakan oleh paravet

Anda memastikan bahwa masyarakat diberikan pendidikan tentang risiko HPAI, program pengendalian, dan pentingnya membasmi penyakit ini. Anda menjelaskan pada masyarakat mengapa semua ayam harus dipotong dan bagaimana penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada manusia. Anda menjelaskan mengapa biosekuriti sangat penting untuk mencegah manusia menyebarkan penyakit ini ke peternakan baru

Anda bekerja dalam bagian-bagian yang berbeda dari program pengendalian.

Konteks epidemiologi

Keahlian epidemiologi membantu kita untuk memahami penyebab penyakit dan berpikir tentang strategi pengendalian untuk mencegah kasus lebih lanjut. HPAI penting karena dapat menyebabkan penyakit dan kematian pada manusia. Sejumlah strategi pengendalian perlu digunakan bersama-sama sebagai upaya terbaik pencegahan penyebaran penyakit.