Epi Lapangan Lanjutan: Manual 1 - Program Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit

Halaman ini adalah sebuah versi terjemahan dari halaman Advanced Field Epi:Manual 1 - Disease Control and Eradication Programs dan terjemahannya telah selesai 95% dari sumber terkini.

Daftar isi

Program pengendalian dan pemberantasan penyakit

Apa yang dimaksud dengan pengendalian dan pemberantasan penyakit

Pengendalian: adalah pengurangan morbiditas dan mortalitas suatu penyakit

- Pengobatan hewan sakit untuk mengurangi prevalensi

- Pencegahan penyakit untuk mengurangi kasus dan prevalensi

Pemberantasan: adalah upaya pemusnahan agen penyebab penyakit menular secara regional

Sebagian besar penyakit hewan bersifat endemik dalam suatu populasi, hal ini bisa saja karena pengendalian yang dilakukan tidak serius atau tidak menerima tindakan-tindakan pengobatan, pengendalian atau pencegahan secara baik di tingkat peternakan atau perorangan.

Kebanyakan negara memiliki daftar penyakit hewan yang harus dilaporkan kepada otoritas berwenang segera setelah dilakukan diagnosis terhadap hewan yang diduga atau telah dikonfirmasikan terkena penyakit. Di Australia biasa disebut dengan penyakit-penyakit hewan yang harus dilaporkan Penyakit-penyakit tersebut dimasukkan dalam daftar penyakit-penyakit yang harus dilaporkan karena berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan hewan dan produksinya, perdagangan internasional, keanekaragaman hayati, dan kesehatan manusia dan ekosistemnya.

Hanya sedikit alasan untuk berinvestasi dalam upaya untuk menjaga daftar penyakit yang harus dilaporkan dan infrastruktur yang diperlukan untuk mendeteksi dan melaporkan penyakit kecuali ada juga komitmen terhadap pengendalian atau pemberantasan penyakit ini.

Program pengendalian dan pemberantasan penyakit dapat dilakukan terhadap penyakit-penyakit endemik atau berdasarkan kegiatan respons yang telah direncanakan, yang hanya dilaksanakan apabila penyakit-penyakit eksotik yang terjadi khususnya di negara atau wilayah tertentu didalam suatu negara yang biasanya bebas dari penyakit-penyakit tersebut.

Sebagai contoh:

  • Demam susu dan kejang rumput disebabkan oleh faktor pengelolaan dan musim yang biasanya dapat ditangani di tingkat peternakan oleh petugas kesehatan hewan.
  • Penyakit klostridial pada domba dan sapi banyak tersebar, biasanya dapat ditangani di tingkat peternakan, namun bisa menjadi sangat mahal pada tingkat perindustrian (jutaan dolar per tahun) dan penanganan di tingkat peternakan dapat didukung melalui program penyediaan dukungan teknis secara regional.
  • Beberapa penyakit seperti virus ovine brucellosis or caprine arthritis-encephalitis hanya menjangkiti beberapa kawanan ternak saja dan dapat ditangani di tingkat regional atau industri melalui program kendali jaminan mutu.
  • Di banyak negara, penyakit Johne's ditangani melalui program terkontrol yang berbasis pada industri.
  • Di banyak negara, penyakit-penyakit zoonotis seperti Anthrax, rabies, bovine spongiform encephalopathy dan highly pathogenic avian influenza (HPAI) biasanya ditangani melalui program-program yang diatur dengan ketat.
  • Brucellosis dan TB pada sapi telah diberantas dari Australia dan saat ini menjadi program pemberantasan penyakit secara nasional di beberapa negara.
  • Di beberapa negara dimana wabah penyakit eksotik biasanya tidak pernah terjadi, negara-negara tersebut biasanya menerapkan program pemberantasan darurat (misalnya penyakit mulut dan kaki).
  • Pencanangan bebas rinderpest secara global tahun 2011 dilakukan setelah dilaksanakannya program pemberantasan penyakit.

Mengapa program pengendalian dan pemberantasan secara regional harus dilakukan?

Program pengendalian dan pemberantasan penyakit secara regional telah menjadi permasalahan penting dalam produksi ternak sejak abad 18. Pada awalnya program ini ditujukan untuk pemberantasan wabah penyakit yang sangat berbahaya seperti virus rinderpest dan penyakit mulut dan kaki yang terjadi di Eropa dan Britania Raya pada abad 18 dan 19. Demikian halnya pada abad 19, Australia memusnahkan domba yang terkena penyakit kerak darah dari kawanan ternaknya secara nasional. Sedangkan pada akhir pertengahan abad 20, Australia juga memberantas penyakit contagious bovine pleuro-pneumonia brucellosis dan tuberculosis dari populasi sapi mereka. Pada tahun 2011, pencanangan dunia bebas rinderpest juga dilakukan setelah serangkaian kampanye pemberantasan penyakit tersebut dilakukan. Pencanangan pemberantasan penyakit ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan secara global setelah yang pertama kali dilakukan terhadap penyakit cacar pada pertengahan abad 20, yang merupakan pemberantasan pertama terhadap penyakit hewan.

Program-program berskala nasional atau regional dapat dilaksanakan untuk beberapa alasan berikut:

  • Untuk mengendalikan atau memberantas penyakit-penyakit dengan potensi konsekuensi yang berdampak besar pada produktifitas dan ekonomi, misalnya perdagangan hewan dan produk-produk hewani (contohnya penyakit mulut dan kaki);
  • Untuk melindungi kesehatan manusia dari infeksi-infeksi zoonotis (misalnya bovine spongiform encephalopathy, bovine tuberculosis, dan anthrax);
  • Untuk kendali mutu produk (misalnya residu bahan kimia);
  • Untuk melindungi produsen atau wilayah yang tidak terkena penyakit endemik dari wilayah lain (misalnya penyakit kaki busuk, ovine brucellosis, penyakit Johnes, dan penyakit sapi gila);
  • Untuk mengurangi dampak tidak langsung terhadap produsen-produsen yang tidak terkena dampak yang tidak memiliki kewenangan untuk melakukan respon terhadap penanganan penyakit dalam upaya untuk mencegah atau mengendalikan dampak permasalahan terhadap perusahaan mereka (misalnya residu bahan kimia, penyakit Johnes); dan
  • Untuk mengurangi dampak penyakit terhadap kawanan ternak (misalnya penyakit mastitis, parasit internal pada domba).

Aspek penting dari suatu penyakit yang memerlukan adanya tindakan pengendalian atau pemberantasan penyakit yang dilakukan oleh suatu wilayah atau kelompok biasanya produsen dapat melakukan tindakan secara individual apabila mereka menginginkannya, namun karena risiko terjadinya infeksi kembali atau bobolnya program pengendalian karena faktor-faktor eksternal sangat tinggi, hal ini dapat menghilangkan motivasi individual untuk melakukan tindakan pengendalian terhadap penyakit-penyakit tersebut.

Misalnya, banyak produsen domba di wilayah New South Wales, Australia enggan untuk mencoba memberantas penyakit kaki busuk pada domba hingga program regional mulai dilakukan untuk memastikan bahwa penyakit tersebut tidak akan menginfeksi hewan ternak mereka lagi.

tabel 5. Daftar karakteristik kondisi yang menentukan apakah suatu penyakit lebih cocok untuk dilakukan tindakan pengendalian oleh pihak pengelola peternakan atau secara regional.

Tabel 5.: Karakteristik kondisi yang cocok untuk dilakukan tindakan pengendalian oleh pihak pengelola peternakan atau secara regional (diadaptasi dari Hanson & Hanson, 1983)


Farm-level control Regional control
Penyebaran penyakit dapat dihentikan dengan penghalang seperti pagar Penghalang secara fisik untuk mencegah penyebaran penyakit
Angka penyebaran cukup lambat untuk memungkinkan intervensi sebelum semua kawanan ternak terinfeksi Penyebaran terjadi dengan cepat untuk memungkinkan intervensi sebelum semua kawanan ternak terinfeksi
Media pembawa penyakit telah terdeteksi di peternakan Media pembawa penyakit yang terlihat sehat hanya dapat dideteksi melalui uji laboratorium
Tidak ada implikasi bagi kesehatan masyarakat, keamanan makanan dan mutu produk Kondisi kesehatan masyarakat, keamanan makanan dan risiko mutu produk
Angka mortalitas rendah atau tidak ada Angka morbiditas dan mortalitas tinggi
Tersedianya vaksin atau perawatan dengan tingkat keefektifan yang tinggi Vaksin atau perawatan tidak begitu bagus dan hanya pada tingkat keefektifan sedang

Types of programs

Regional animal health programs can vary substantially in their design, the tools used and the way they are implemented, depending on the rationale and objectives of the individual program. Programs can be broadly classified according to their objectives as either eradication or control programs.

Program pemberantasan penyakit

Program pemberantasan penyakit biasanya difokuskan untuk memberantas agen penular penyakit dari suatu wilayah. Hal ini biasanya dapat dicapai melalui pelaksanaan tindakan-tindakan untuk mengurangi prevalensi pada peternakan yang tertular penyakit dan menghentikan penyebaran penyakit dari peternakan yang tertular penyakit ke yang tidak tertular penyakit.

Program pemberantasan biasanya memerlukan kerangka kerja yang mengatur secara tegas aturan pelaksanaan tindakan pemberantasan penyakit yang didukung dengan arahan-arahan pemerintah secara signifikan dalam hal pengelolaan dan pelaksanaan program tersebut. Pendanaan untuk program-program pemberantasan penyakit dapat bersumber dari pemerintah, atau dari pemerintah dan industri-industri yang terkena imbas dari penyakit, tergantung dari sifat penyakit dan kapasitas serta keinginan pemerintah (dan industri) untuk berkontribusi didalam program ini.

Program pemberantasan penyakit biasanya memiliki batas waktu dan bertujuan untuk memberantas penyakit dalam waktu yang relatif singkat dan dapat disesuaikan. Apabila penyakit sudah diberantas maka dianggap tidak akan ada biaya lainnya yang berhubungan dengan pemberantasan penyakit, namun kemungkinan akan ada biaya yang cukup substantif terkait dengan program surveilans untuk pencegahan, deteksi dan respons yang efektif terhadap penyebaran penyakit di masa yang akan datang ke daerah yang telah bebas penyakit tersebut.

Dalam hal penyakit endemik, program pemberantasan dapat dimulai dengan masa pengendalian penyakit untuk mengurangi prevelansi penyakit ke tingkat dimana pemberantasan menjadi lebih memungkinkan dan akan menghemat biaya.

Program pengendalian

Sebagaimana yang telah didefinisikan, pengendalian terkait dengan setiap program yang diarahkan untuk mengurangi tingkat morbiditas, mortalitas atau kerugian produksi yang disebabkan oleh suatu penyakit. Pengendalian dapat dilakukan melalui:

  • pengobatan hewan sakit; dan/atau
  • pencegahan penularan; dan/atau
  • pengurangan dampak penyakit pada hewan yang tertular penyakit

Program pengendalian akan membutuhkan biaya-biaya yang berhubungan dengan pendeteksian dan pengendalian penyakit atau alasan untuk tetap melakukan program pengendalian.

Program-program yang diatur dengan undang-undang

Beberapa program pengendalian penyakit diatur dengan peraturan pemerintah untuk memastikan bahwa pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan-peraturan ini berhubungan dengan kegiatan-kegiatan pengendalian, perawatan hewan, pemusnahan hewan dan kompensasi. Program-program yang diatur dengan undang-undang biasanya untuk penyakit-penyakit yang berdampak bagi masyarakat umum seperti penyakit zoonosis. Selain itu, apabila program pengendalian berhasil dilaksanakan dengan baik, program tersebut dapat dilanjutkan dan diadaptasikan kedalam program pemberantasan penyakit. Contoh penyakit yang menggunakan program pengendalian yang diatur dengan undang-undang adalah anthrax, rabies dan penyakit sapi gila (bovine spongiform encephalopathy).

Program sukarela berbasis industri

Di banyak negara, pemerintah terus berupaya mengurangi regulasi terkait dengan industri-industri ternak, dan upaya ini biasanya diikuti dengan program pengendalian penyakit secara sukarela yang dilakukan oleh industri. Program-program ini bergantung pada peternak yang secara sukarela melaksanakan praktek-praktek yang direkomendasikan untuk mengurangi resiko terhadap diri mereka dan produsen-produsen ternak lainnya dan cara ini tidak menggunakan regulasi untuk memastikan bahwa kegiatan itu dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Program sukarela ini sangat tergantung pada komunikasi yang efektif serta program penyuluhan untuk merubah tingkah laku dan sikap peternak serta penyuluh-penyuluh mereka. Selain itu juga dimaksudkan untuk memastikan bahwa peternak akan menerapkan praktek-praktek yang direkomendasikan tersebut.

Program-program sukarela ini memiliki beberapa aturan pendukung (seperti dukungan legislatif untuk penggunaan deklarasi vendor atau kegiatan-kegiatan pengendalian), namun sebagian besar digunakan untuk program-program pengendalian penyakit yang diatur dengan undang-undang, khususnya apabila manfaat program lebih mengarah ke produsen ternak dibandingkan untuk konsumen atau masyarakat umum. Contoh program sukarela meliputi tahap awal dari pemberantasan penyakit enzootis bovine leucosis pada sapi perah Australia dan program pengendalian penyakit Johnes di banyak negara.

Program-program berbasis jaminan mutu

Program-program berbasis jaminan mutu tergantung pada pelaksanaan pendekatan penjaminan mutu pengelolaan dan produksi di beberapa peternakan untuk memberikan sumber persediaan ternak yang terjamin mutunya bagi produsen-produsen lainnya. Program berbasis penjaminan mutu memerlukan partisipasi peternak dalam mengimplementasikan praktik-praktik yang direkomendasikan untuk mencapai hasil yang terjamin mutunya serta didukung oleh proses audit untuk memastikan kesesuaian dan integritas program. Stok ternak dari peternakan yang sudah dijamin mutunya memiliki risiko rendah terhadap penyakit tertentu atau residu kimia, tergantung pada program yang dilaksanakan dan level yang sudah dicapai.

Meskipun program berbasis pada kendali mutu tidak begitu signifikan mengurangi prevelansi wilayah atau dampak penyakit atau keadaan yang dikhawatirkan, program ini dapat mengurangi penyebaran penyakit lebih jauh dengan menyediakan sumber persediaan ternak yang berisiko rendah bagi produsen-produsen yang ingin menghindari penyakit-penyakit yang tidak diinginkan di peternakan mereka. Tindakan ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari program-program yang diatur dengan undang-undang atau yang dilaksanakan secara sukarela. Contoh program berbasis pada kendali mutu seperti program kendali mutu pasar bagi penyakit Johnes di Australia dan program-program serupa dinegara-negara lain, demikian juga halnya dengan program kendali mutu produk berbasis industri.

Strategi yang dapat digunakan untuk pengendalian penyakit

Penanganan penyakit menular pada populasi hewan tergantung pada ada tidaknya hewan atau kawanan hewan yang terinfeksi penyakit, ada tidaknya hewan atau kawanan hewan yang diduga terinfeksi penyakit, dan kontak antara hewan yang terinfeksi dengan yang diduga terinfeksi penyakit. Penyakit akan tetap ada dalam populasi hewan atau kawanan hewan apabila kondisi tersebut masih sama.

Strategi utama pengendalian dan pemberantasan penyakit-penyakit hewan (Thrushfield 2005) meliputi:

  • Karantina: Pemisahan hewan-hewan yang sakit (atau hewan yang diduga sakit) sehingga risiko penyebaran penyakit ke hewan lainnya yang diduga sakit dapat dikurangi. Seringkali diikuti dengan upaya-upaya keamanan lainnya terkait dengan pengendalian lalu lintas hewan, kebersihan dan membasmi kuman.
  • Pemotongan hewan sakit: Dapat diikuti dengan pemotongan hewan yang berisiko tinggi dalam upaya pengendalian penyakit darurat (misalnya wabah penyakit mulut dan kaki di beberapa negara) dan pemusnahan bangkai hewan serta bahan-bahan yang terinfeksi lainnya.
  • Vaksinasi: Dapat mengurangi penyebaran penyakit selama terjadinya wabah atau sebagai bagian dari program jangka panjang pemberantasan penyakit untuk mengurangi penyebaran infeksi.
  • Pengobatan: Administrasi obat-obatan (antibiotik atau anthelmintik) dapat digunakan sebagai bagian dari program pengendalian atau untuk mengurangi risiko penyakit yang terjadi.
  • Pengendalian lalu lintas hewan: Seringkali dilakukan sebagai bagian dari upaya karantina untuk mencegah penyebaran penyakit. Dapat juga digunakan secara lebih rutin misalnya pengawasan penggembalaan ternak dalam upaya penatalaksanaan parasit internal atau lalu lintas hewan yang keluar dari daerah berisiko tinggi dalam waktu tertentu di sepanjang tahun untuk menghindari vektor penyakit atau membawa hewan kedalam ruangan pada malam hari di Afrika untuk mengurangi risiko terkena penyakit African horse sickness yang dibawa oleh sejenis agas malam.
  • Pengendalian vektor dan reservoir penyakit: Penyakit menular dapat ditularkan oleh serangga penular penyakit atau induk reservoir berbeda (Nipah virus). Pengendalian vektor dan induk reservoir akan membantu pengendalian penyakit.
  • Upaya-upaya keamanan: Upaya-upaya keamanan meliputi kebersihan, pembasmian kuman, dan upaya-upaya pengelolaan lainnya yang dapat mengurangi penyebaran penyakit. Dapat dilakukan di tingkat hewan, kawanan hewan, peternakan atau wilayah.
  • Pemilihan genetik: Dapat berguna dalam mengendalikan beberapa jenis penyakit dengan menghilangkan penyakit-penyakit yang diwariskan atau melalui pemilihan hewan yang memiliki daya tahan yang lebih baik.

Strategi-strategi ini biasanya diterapkan melalui empat alur kegiatan yang terpisah:

  1. Deteksi agen yang bertanggungjawab menularkan penyakit;
  2. Pengurangan jumlah induk yang tertular penyakit;
  3. Peningkatan daya tahan induk yang diduga tertular penyakit; dan
  4. Pengurangan kontak antara induk yang tertular dan yang diduga tertular penyakit.

Mendeteksi agen penyebar penyakit

Surveilans

Istilah surveilans menggambarkan proses aktif dimana data kasus penyakit dikumpulkan, dianalisis, dievaluasi dan dilaporkan ke lembaga-lembaga kesehatan hewan yang memiliki tugas pengendalian penyakit. Istilah monitoring biasanya digunakan untuk proses yang lebih pasif meskipun kedua istilah ini seringkali digunakan secara bergantian. Biasanya program surveilans mencakup beberapa penyakit dalam satu waktu pelaksanaan program karena banyaknya biaya yang harus dikeluarkan.

Program surveilans yang efektif akan mampu menjawab sejumlah pertanyaan-pertanyaan penting yang berhubungan dengan pengendalian penyakit:

  • Apakah kasus terjadinya penyakit bersifat konstan, meningkat atau menurun?
  • Bagaimana perbandingan rata-rata kasus terjadinya penyakit yang satu dengan penyakit lainnya?
  • Apakah ada perbedaan pola kondisi geografis?
  • Apakah penyakit berdampak pada produktifitas dan/atau profitabilitas?
  • Apakah ada penyakit yang tidak menjangkiti satu kawanan ternak, wilayah atau negara tertentu?
  • Apakah program pengendalian dan pemberantasan penyakit memberi dampak yang efektif?

Sumber data program surveilans meliputi evaluasi klinis, laporan laboratorium, data pemeriksaan pemotongan hewan, uji tapis, laporan pemilik hewan, dan program uji tapis di peternakan.

Program surveilans atau monitoring dapat dikembangkan pada tingkat yang berbeda-beda, tergantung pada tingkat kebutuhan informasi. Beberapa contoh dijelaskan berikut ini:

1.Program surveilans untuk usaha ternak perseorangan - biasanya mencakup monitoring parameter produksi yang bersifat ekonomis, seperti angka kematian, jumlah sel radang yang terkandung didalam susu dihitung sebagai indikator mastitis, angka pertumbuhan, produksi susu, angka kematian, dll. Monitoring pola sementara dari variabel-variabel ini penting untuk mendeteksi secara dini potensi penyakit yang bermasalah atau kegagalan program pengendalian penyakit di peternakan.

2.Program surveilans untuk wilayah didalam suatu negara (kabupaten, provinsi, negara bagian, dll) - meliputi pengujian untuk mendeteksi hewan atau kawanan hewan yang terjangkiti penyakit dan untuk mendukung pembebasan penyakit ditingkat wilayah.

3. Program surveilans nasional bisa saja membutuhkan banyak biaya. Agar anggaran program dapat dipergunakan dengan baik, program-program ini sebagian besar berdasarkan surveilans pasif (investigasi diinisiasikan oleh pemilik peternakan) atau pengujian sampel hanya pada kawanan ternak secara nasional.

Surveilans untuk mengidentifikasi hewan atau kawanan hewan yang tertular penyakit merupakan komponen penting dari program pengendalian atau pemberantasan penyakit. Untuk program-program tersebut, surveilans dapat difokuskan pada usaha ternak perseorangan (misalnya program uji brucellosis atau pemberantasan bovine tuberculosis) atau program-program untuk rumah potong, atau bisa juga menggunakan sampel-sampel agregat, seperti susu dalam jumlah besar atau kumpulan kotoran ternak, atau dapat juga menggunakan sampel yang bukan dari peternakan seperti pabrik susu atau rumah potong (misalnya, pemeriksaan susu untuk mengidentifikasi brucellosis yang menulari kawanan ternak).

Pemberitahuan kasus dugaan penyakit oleh peternak juga merupakan komponen penting dari surveilans untuk mendeteksi kasus penyakit. Agar surveilans yang dilakukan efektif, uji secara ekonomis dengan sensitifitas dan spesifisitas yang diketahui dapat dijalankan. Apabila hewan atau peternakan yang tertular penyakit telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah menggunakan satu atau lebih dari satu cara yang dibahas berikut ini:

Penelusuran

Penelusuran lalulintas hewan ternak merupakan salah satu cara penting untuk mendeteksi kawanan hewan yang tertular penyakit. Untuk tujuan pengendalian penyakit, penelusuran biasanya mencakup hal seperti identifikasi peternakan yang tertular penyakit melalui penelusuran lalulintas hewan yang tertular atau terkena penyakit. Pengujian lanjutan biasanya dilakukan terhadap peternakan yang telah diidentifikasi menetapkan status penularan penyakit mereka. Apabila status penularan penyakit di peternakan tidak dapat ditetapkan sesegera mungkin, harus dilakukan upaya karantina hingga situasi tersebut dapat diatasi.

Proses penelusuran penyakit mencakup kegiatan sebagai berikut:

  • Identifikasi properti asal hewan, diidentifikasi sebagai hewan yang tertular atau diduga tertular penyakit melalui pengujian di rumah potong atau tempat penjualan hewan ternak;
  • Identifikasi properti asal hewan yang diduga tertular sebagai sumber yang memiliki potensi penularan ke peternakan yang telah tertular penyakit (penelusuran kembali);
  • Identifikasi peternakan yang kemungkinan telah menerima hewan yang tertular penyakit dari peternakan yang telah tertular penyakit (Penelusuran kedepan);
  • Identifikasi peternakan dengan hewan-hewan yang berpotensi tertular penyakit selama proses lalu lintas hewan ternak yang tertular penyakit seperti di tempat penjualan hewan ternak atau selama perjalanan;
  • Identifikasi peternakan yang berdekatan atau peternakan lainnya yang berpotensi tertular penyakit dari peternakan yang telah tertular penyakit yang disebabkan oleh lalu lintas hewan ternak lokal atau material-material yang telah tertular penyakit; dan
  • Identifikasi kendaraan yang digunakan untuk mengangkut hewan atau kendaraan, orang atau fomit lainnya yang berpotensi tertular penyakit dan kemungkinan telah melakukan kontak dengan hewan atau lingkungan yang telah tertular penyakit.

Kegiatan penelusuran lebih mudah dilaksanakan dan lebih dapat dipercaya karena konsisten menggunakan identifikasi hal-hal yang menjadi ciri khas hewan serta sistem identifikasi hewan nasional yang cakap dalam menelusuri lalulintas hewan ternak dari waktu ke waktu. Contoh dari sistem ini adalah National Livestock Identification System (NLIS) Australia.

Dalam hal tidak adanya pangkalan data yang komprehensif terkait lalulintas hewan, penelusuran tergantung pada wawancara dengan pemilik hewan yang tertular atau terkena penyakit untuk mengidentifikasi hewan atau lalulintas lainnya yang berpotensi telah menyebarkan penyakit. Investigasi juga dapat mencakup diskusi dan penelaahan catatan dari agen-agen hewan ternak, pusat persediaan hewan ternak untuk dijual, tempat pengolahan susu dan rumah potong.

Penelusuran yang efektif juga dapat menghabiskan sumber daya dalam jumlah yang besar baik untuk identifikasi lalulintas ke/dari peternakan yang telah tertular penyakit, dan juga identifikasi serta investigasi lanjutan terkait sumber atau tujuan properti. Namun demikian, penelaahan dari catatan-catatan yang ditelusuri dapat membantu memahami epidemiologi dan distribusi penyakit selama terjadinya wabah.

Mengurangi jumlah induk yang tertular penyakit

Pemotongan

Pemotongan satu ekor hewan, atau hewan-hewan yang terkena kontak atau juga keseluruhan kawanan hewan yang tertular penyakit bisa dijadikan pilihan, tergantung pada sifat penyakit dan program yang dilakukan. Pemotongan hewan dan kawanan hewan ternak yang tertular penyakit berdampak cepat terhadap pengurangan jumlah hewan yang tertular penyakit didalam suatu populasi dan mengurangi kesempatan untuk penyebaran penyakit secara signifikan.

Namun, apabila hewan ternak tidak diselamatkan dengan proses pemotongan secara normal, hal ini akan menghabiskan biaya yang cukup signifikan khususnya untuk mendeteksi hewan-hewan yang tertular penyakit dan biaya untuk kompensasi dan pemusnahan hewan yang tertular penyakit.

Pemotongan stok dapat dilakukan dengan beberapa cara, tergantung pada jenis dan skala program:

  1. Pemusnahan sesegera mungkin hewan-hewan yang terjangkit/terpapar penyakit pada keadaan darurat seperti respon terhadap wabah penyakit eksotik (misalnya, program pemberantasan penyakit mulut dan kaki dan penyakit sapi gila).
  2. Program teknik uji dan bila positif dilakukan potong bersyarat biasanya dilakukan dimasa lalu untuk memberantas penyakit-penyakit tertentu (bovine brucellosis dan tuberculosis di Australia). Dalam kasus ini hewan-hewan diuji dan hanya yang diperkirakan positif terjangkit penyakit yang akan dipotong.
  3. Depopulasi kawanan ternak dapat dilakukan pada keadaan yang sangat ekstrim atau untuk permasalahan terkait dengan kawanan ternak dimana program pemberantasan dengan menggunakan metode lain gagal (misalnya, penyakit mulut dan kaki, penyakit sapi gila di Inggris; bovine tuberculosis dan brucellosis pada kawanan ternak seperti yang terjadi pada program pemberantasan brucellosis dan tuberculosis di Australia).
  4. Pemotongan atau pengafkiran hewan ternak perseorangan juga dapat dilakukan pada keadaan yang tidak darurat sebagai bagian dari program sukarela atau program yang diatur dengan undang-undang khususnya untuk beberapa penyakit (misalnya penyakit kaki busuk atau ovine brucellosis pada domba dan chronic mastitis pada sapi perah).

Pengobatan hewan ternak

Apabila memungkinkan, pengobatan (therapeutik atau preventif) dapat dilakukan untuk mengobati hewan yang terinfeksi atau terpapar penyakit serta untuk mengurangi prevelansi. Misalnya, persiapan antibiotik dapat digunakan untuk mengobati kasus-kasus mastitis dan persiapan disinfeksi dapat digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi baru.

Meningkatkan ketahanan induk yang rentan

Vaksinasi

Vaksinasi merupakan alat penting pengendalian dan pemberantasan banyak penyakit dan dapat digunakan dalam dua cara:

  • Penanganan hewan secara rutin dengan menggunakan vaksin yang dapat diperoleh secara komersil dapat dilakukan sebagai bagian dari pengendalian penyakit hewan di peternakan misalnya untuk penyakit clostridial, leptospirosis, vibriosis, Marek’s, dll.
  • Pengurangan prevalensi dimana vaksin khusus dapat digunakan di peternakan perseorangan atau di tingkat wilayah untuk mengurangi prevalensi penyakit sebagai bagian dari program pengendalian dan pemberantasan penyakit secara regional, dengan meningkatkan level kekebalan kelompok hewan ternak. Hal ini dapat digunakan semata-mata untuk tujuan-tujuan pengendalian saja, atau langkah awal pemberantasan penyakit, dengan upaya-upaya pemberantasan dimaksudkan untuk mengurangi prevalensi penularan ke tingkat sasaran yang diharapkan. Misalnya, aspek utama program pemberantasan brucellosis di Australia adalah penggunaan strain 19 vaksin untuk mengurangi prevalensi di wilayah dengan tingkat prevalensi tinggi sebelum dilakukan pemberantasan.

Perkembangan penyakit didalam suatu populasi dipengaruhi oleh efek kekebalan kelompok ternak. Efek kekebalan kelompok ternak ketika sejumlah populasi memiliki tingkat kekebalan terhadap suatu penyakit baik kekebalan yang berasal dari dalam (tidak selalu harus imunologi dasar), infeksi secara alami atau vaksinasi.

Kekebalan yang dimiliki kelompok ternak akan memperlambat tingkat penyebaran penyakit didalam suatu populasi dan besarnya efek tergantung pada tingkat kekebalan kelompok ternak. Jika kekebalan kelompok ternak tinggi, infeksi gagal berkembang atau dapat dihilangkan dari populasi. Tidak semua ternak didalam kelompok ternak tersebut harus memiliki kekebalan untuk menghilangkan infeksi penyakit. Tingkat kekebalan kelompok ternak (perbandingan ternak yang kebal didalam populasi) haruslah dipertahankan pada ambang batas yang aman dimana kontak antara ternak yang tertular atau diduga tertular penyakit tidak akan menyebabkan epidemik. Hal ini bermakna bahwa jika perbandingan minimum ternak yang tetap kebal terhadap infeksi penyakit dapat dipertahankan, maka penyakit akan dapat dihilangkan dari populasi. Bagi sebagian besar kasus penyakit menular, tingkat vaksinasi yang efektif adalah 70%-80% memberikan kekebalan kelompok ternak yang memadai untuk mencegah epidemik berlanjut.

Manipulasi genetika

Banyak penyakit memiliki beberapa tingkat ketahanan atau kerentanan genetika. Untuk penyakit-penyakit ini memungkinkan untuk dikembangkan ketahanan terhadap infeksi tersebut (misalnya parasit internal pada domba). Namun, program ini membutuhkan waktu panjang dan harus dipertimbangkan untuk membuat prioritas pemilihan ciri produksi.

Mengurangi kontak antara induk yang tertular atau diduga tertular penyakit

Karantina

Karantina adalah isolasi fisik bagi hewan yang tertular atau berpotensi tertular penyakit untuk mencegah menyebarnya infeksi lebih luas. Karantina dapat dilakukan pada peternakan yang diketahui telah tertular atau diduga akan tertular penyakit untuk mencegah penularan penyakit ke peternakan lainnya. Juga dapat dilakukan didalam peternakan untuk mencegah penyebaran antara kelompok yang telah tertular penyakit dengan kelompok yang belum tertular penyakit, atau untuk memisahkan hewan-hewan baru hingga peternak yakin bahwa hewan-hewan ini bebas penyakit. Adakalanya kelompok peternakan juga harus dikarantina, khususnya jika mereka berpotensi terpapar penyakit yang sangat menular.

Pengendalian lalulintas

Dengan cara sama seperti yang dilakukan pada karantina peternakan yang tertular penyakit, pengendalian lalulintas wilayah atau antar properti dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi dari daerah-daerah yang memiliki prevalensi tinggi ke daerah prevalensi rendah. Pengendalian lalulintas ini dapat didukung dengan peraturan-peraturan resmi terkait dengan penyakit zoonosis “zones” yang kemungkinan disebabkan oleh lalulintas antar wilayah, atau bisa juga melalui pendekatan yang tidak terlalu diatur dengan undang-undang dan dilaksanakan secara sukarela oleh peternak untuk melakukan pengendalian lalulintas yang direkomendasikan dalam meminimalisir penyebaran penyakit.

Apabila program yang diatur dengan undang-undang dilaksanakan, hal ini tidak hanya didukung dengan peraturan dan undang-undang untuk melaksanakan pengendalian lalulintas (termasuk karantina), namun juga kemauan dan sumber daya untuk menegakkan peraturan tersebut. Terkait dengan program-program ini kemungkinan diperlukan staf untuk mempertahankan check point lalulintas, dokumentasi lalulintas, inspeksi ke tempat penjualan ternak dan mendorong penegakan peraturan atau undang-undang. Namun, program tidaklah harus kaku dalam mendefenisikan peraturan. Pada prakteknya, program sukarela melalui penyuluhan yang efektif serta rasa memiliki yang tinggi terhadap program dari para peternak bisa menjadi lebih efektif dibandingkan pendekatan yang menggunakan peraturan atau undang-undang.

Didalam suatu program sukarela adalah penting untuk mengetahui tingkat kepatuhan terhadap langkah-langkah pengendalian yang direkomendasikan bagi para peternak. Namun demikian, meski program dilaksanakan secara sukarela juga penting untuk memantau atau mengaudit secara teratur tingkat kesesuaian target.

Apabila tingkat kepatuhan petani tidak baik, program tidak mungkin akan berhasil dan perkembangan dimasa yang akan datang harus sesegera mungkin ditinjau kembali.

Pengendalian vektor

Untuk penyakit-penyakit yang disebarkan melaluivektor, tindakan-tindakan pengendalian lebih mudah untuk diarahkan pada vektor dibandingkan pada agen penyakit aktual. Misalnya, pengendalian yang efektif terhadap penyakit demam caplak pada sapi dibeberapa wilayah di Australia dapat dilakukan hanya dengan melakukan pengendalian vektor caplak sapi. Dengan cara yang sama, pengendalian jangka panjang yang efektif terhadap penyakit cacing hati pada domba dan sapi dapat dilakukan dengan menghilangkan vektor siput atau membatasi akses ke wilayah habitat siput. Pengendalian vektor juga harus mencakup pertimbangan vektor-vektor mekanis seperti jarum suntik/jarum, yang juga dapat menjadi vektor penting pada beberapa penyakit seperti penyakit enzootic bovine leucosis atau virus caprine arthritis-encephalitis.

Tindakan-tindakan pengelolaan

Penggembalaan atau pengelolaan hewan ternak

Untuk beberapa penyakit, strategi penggembalaan hewan ternak dapat dilakukan untuk mengurangi terpaparnya hewan ternak yang rentan terhadap kontaminasi. Misalnya, banyak program pengendalian parasit internal dilakukan melalui penggembalaan hewan ternak yang lebih muda dan rentan di padang rumput yang telah digunakan sebelumnya untuk menggembalakan ternak yang lebih tua dan memiliki risiko rendah. Strategi serupa juga telah dicoba untuk mengendalikan penyakit Johne’s, meskipun hewan-hewan yang memiliki risiko rendah mungkin sulit untuk diidentifikasi, dan mungkin berada dalam kelompok ternak yang berbeda dengan hewan yang memiliki risiko parasit rendah.

Banyak penyakit juga dipengaruhi oleh faktor-faktor dibawah kendali seorang manajer peternakan misalnya kandang, nutrisi pakan, jumlah stok hewan ternak, cara pemberian makan, dll. Untuk penyakit-penyakit ini, pengendalian yang efektif dapat dilakukan melalui perubahan pola pengelolaan kandang untuk mengurangi penyebaran atau dampak penyakit. Misalnya, ventilasi yang tidak memadai adalah kontributor penting yang dapat memicu penyakit pernapasan pada babi, maka permasalahan penyakit pernapasan akut dapat diatasi dengan memperbaiki kandang ventilasi. Demikian juga halnya dengan penyebaran penyakit bovine Johne's tergantung pada proses masuknya bahan makanan yang terkontaminasi kotoran sapi muda yang rentan, sehingga munculnya penyakit Johne's pada sapi perah dapat dikurangi dengan merubah pola pengelolaan hewan ternak guna meminimalisir terpaparnya penyakit pada sapi muda karena kontaminasi kotoran sapi dewasa.

Biosekuriti

Tindakan-tindakan keamanan hayati yang dilakukan melengkapi langkah-langkah pengendalian lainnya dan biasanya melibatkan dua komponen yang agak berbeda, bioexclusion (pencegahan terhadap datangnya virus infektif) dimaksudkan untuk menjaga agar penyakit keluar sedangkan biocontainment (menjaga supaya virus yang ada tidak keluar atau menyebar) dimaksudkan untuk mencegah penyebaran penyakit kedepan dari kelompok ternak yang tertular penyakit.

Bioexclusion adalah pelaksanaan tindakan pencegahan masuknya patogen yang tidak diinginkan kedalam populasi ternak (atau lainnya).

Biocontainment adalah pelaksanaan tindakan untuk mencegah penyebaran lanjutan dari patogen-patogen yang tidak dinginkan dari hewan ternak yang (berpotensi) tertular penyakit ke populasi lainnya.

Tindakan bioexclusion difokuskan pada peternakan bebas penyakit yang terdiri dari serangkaian tindakan untuk menjaga agar penyakit tetap berada diluar peternakan. Tindakan-tindakan ini meliputi pemisahan hewan ternak baru, dengan memastikan bahwa hewan ternak baru tersebut telah diuji dan dipastikan kesehatannya, disinfeksi terhadap peralatan dan pakaian/sepatu boot yang datang ke peternakan, pengelolaan pagar pembatas dan kontak dengan hewan ternak dari peternakan terdekat, vaksinasi, pengujian terhadap hewan ternak baru dan tindakan-tindakan lainnya dilakukan untuk memastikan bahwa penyakit tetap berada diluar peternakan atau sebagai deteksi dini dan respons terhadap munculnya penyakit.

Sebaliknya, tindakan biocontainment bertujuan untuk mengendalikan penyakit pada peternakan yang tertular penyakit untuk mengurangi prevalensi dan tindakan-tindakan lainnya dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan penyebaran penyakit kedepan. Meskipun karantina merupakan satu tindakan biocontainment yang penting, biocontainment lebih luas dari karantina dan meliputi serangkaian tindakan yang sebagian besar kegiatannya sama seperti yang dilakukan untuk bioexclusion. Tindakan-tindakan khusus tambahan lainnya yang dilakukan meliputi vaksinasi, pengobatan ternak yang terkena penyakit, penjualan ternak hanya untuk dipotong, pengujian ternak sebelum dijual, disinfeksi orang dan peralatan yang akan meninggalkan peternakan, pemeliharaan pagar pembatas, dll.

Disinfeksi

Untuk penyakit yang sangat menular seperti penyakit mulut dan kaki, disinfeksi pada tempat atau fomit (termasuk peralatan veteriner) merupakan komponen penting dari setiap program pengendalian atau pemberantasan penyakit. Disinfeksi juga bisa menjadi bagian penting program biosecuriti dipeternakan untuk menjaga peternakan tetap bebas dari penyakit.

Kegiatan pendukung

Komunikasi, pendidikan dan pelatihan

Dukungan produsen dan masyarakat umum terhadap program dan kepatuhan produsen dengan persyaratan program yang harus diikuti merupakan suatu hal penting untuk memastikan keberhasilan program. Tanpa adanya program pendidikan dan komunikasi yang efektif, dukungan produsen di level yang lebih tinggi dan khususnya kepatuhan produsen tidak mungkin dapat dicapai. Pesan program haruslah sederhana dan konsisten, dan pada banyak kasus diperlukan upaya yang lebih substansial untuk merubah sikap peternak dan penyuluh peternakan mereka dalam upaya pengendalian penyakit dan terkait dengan tindakan-tindakan mereka dalam menangani risiko penyakit. Pendidikan dan pelatihan juga merupakan unsur penting, untuk memberikan informasi dan pendidikan bagi peternak dan penyuluh peternakan mereka terkait aspek-aspek teknis penyakit dan program.

Perubahan dari program yang diatur dengan undang-undang ke program sukarela sangat penting sehingga peternak secara sukarela mau merubah praktek-praktek yang biasa mereka lakukan untuk mengurangi risiko penyakit dengan menggunakan dana mereka sendiri untuk jangka pendek.

Penilaian risiko

Program pengendalian penyakit secara tradisional tergantung pada manajemen karantina dan pengendalian lalulintas untuk membatasi penyebaran penyakit dengan asumsi bahwa tindakan-tindakan tersebut dilakukan secara efektif. Pengendalian lalulintas biasanya didasarkan pada pendekatan risiko untuk mencegah penyebaran infeksi.

Dengan upaya untuk dapat melakukan program-program yang lebih bersifat sukarela, dan karena tidak ada kebijakan tanpa risiko, penilaian risiko menjadi aspek penting dari suatu program pengendalian dan pemberantasan penyakit. Pendekatan penilaian risiko memungkinkan pemahaman menyeluruh tentang epidemiologi penyakit, sehingga risiko sesungguhnya terkait dengan pilihan-pilihan yang bisa dilakukan dapat dievaluasi dan dikomunikasikan secara tepat.

Juga penting untuk dicatat bahwa didalam terminologi analisis risiko, risiko meliputi unsur-unsur yang berhubungan dengan kejadian penyakit dan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi. Sebaliknya, definisi risiko berdasarkan epidemiologi hanya berhubungan dengan kejadian penyakit saja.

Meningkatnya perubahan untuk menggunakan pendekatan berbasis risiko dan program pengendalian yang dilakukan secara sukarela secara kebetulan bersamaan dengan menurunnya belanja pemerintah terkait dengan pengendalian penyakit dan meningkatnya ketergantungan pada industri peternakan untuk mendanai dan mengelola program dengan hanya sedikit input dari pemerintah.

Analisis ekonomi

Analisis biaya manfaat dalam menentukan apakah program memberi manfaat penting untuk dilakukan, selain itu, setiap program juga perlu dilakukan analisis ekonomi. Analisis-analisis ini harus diarahkan untuk menentukan apakah pencapaian tujuan program masih dapat dicapai secara ekonomis, juga untuk menentukan pilihan-pilihan program pengendalian yang dapat dilakukan dengan biaya yang paling ekonomis dan efektif.

Identifikasi hewan

Identifikasi hewan berdasarkan asalnya (atau asal kelahirannya) merupakan komponen penting dari program surveilans yang efektif untuk mendeteksi kelompok ternak yang tertular penyakit.

Misalnya, pemeriksaan rumah potong domba dewasa merupakan bagian penting dari program surveilans penyakit ovine johnes di Australia. Sistem identifikasi kelompok ternak Australia memungkinkan dilakukannya penelusuran cepat asal domba yang telah diperiksa tersebut sehingga dapat diketahui status kesehatannya apakah positif atau negatif. Riwayat pemeriksaan dapat dibuat untuk setiap kelompok ternak dan wilayah sehingga akan memberikan tingkat jaminan yang lebih baik untuk kelompok ternak dan wilayan dengan risiko rendah dan akan memungkinkan dilakukan estimasi dan monitoring prevelansi kelompok ternak berbasis wilayah.

Saat ini banyak negara telah memiliki sistem identifikasi sapi dan passport untuk mendukung kemampuan penelusuran hewan dan produk apabila wabah penyakit sapi gila muncul.

Identifikasi hewan di tempat asal penting untuk dilakukan baik di rumah potong atau hewan untuk dijual antar peternakan, untuk mendukung penelusuran cepat dari lalulintas hewan pada kasus-kasus terjadinya wabah penyakit darurat, seperti penyakit mulut dan kaki atau penyakit sapi gila atau kejadian-kejadian residu kimia.

Identifikasi hewan secara permanen di peternakan juga merupakan suatu cara penting dan berguna pada setiap program yang tergantung pada pengujian dan pemeriksaan hewan. Identifikasi hewan yang dilakukan secara khusus memungkinkan hewan yang perlu tindakan lebih lanjut (seperti pengafkiran atau pengobatan) untuk memudahkan diidentifikasi untuk tindakan tersebut sebagaimana diperlukan.


Prasyarat keberhasilan suatu program

Sebelum menjalankan program pengendalian dan pemberantasan penyakit yang berpotensi sulit, mahal dan seringkali kontroversial, sangat penting untuk mengevaluasi program yang diusulkan baik dalam hal feasibilitas teknis dan potensi keberhasilannya.

Unsur penting yang diperlukan untuk keberhasilan program pengendalian dan pemberantasan penyakit adalah sebagaimana diringkas dibawah ini (Diadaptasikan dari Yekutiel, 1981 dan Thrusfield, 2005). Meskipun kemungkinan akan berhasil mengendalikan atau memberantas penyakit tanpa memenuhi semua kriteria yang ada didalam daftar, namun kemungkinan gagal akan lebih besar apabila banyak kriteria yang tidak dipenuhi.

  1. Pengetahuan yang memadai tentang penyebab penyakit dan epidemiologinya

Pengetahuan tentang penyebab (paling tidak dalam hal epidemiologi) dan epidemiologi penyakit merupakan hal penting untuk pengembangan strategi-strategi efektif untuk pencegahan transmisi dan penyebaran penyakit serta aplikasi uji tapis untuk mendeteksi kasus.

  1. Infrastruktur dan sumber daya veteriner yang memadai, termasuk administratif dan personil operasional

Infrastruktur dan staf veteriner yang memadai merupakan unsur penting untuk memastikan pelaksanaan program yang efektif. Staf program yang tidak memadai dapat mengakibatkan kegagalan dalam penerapan tindakan pengendalian penyakit tertentu dan keterlambatan dalam pencapaian tujuan-tujuan program. Komponen penting dari infrastruktur yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan program adalah:


  • Staf veteriner lapangan;
  • Staf biasa untuk membantu kegiatan-kegiatan dilapangan;
  • Staf administrasi untuk mengelola program; dan memelihara pangkalan data dan kapabilitas pelaporan;
  • Staf yang memahami tentang peraturan untuk melaksanakan dan menegakkan pelaturan yang mendukung terlaksananya tindakan;
  • Staf dan fasilitas diagnosis; dan
  • Staf dan fasilitas riset.


  1. Pengujian diagnosis yang akurat, konsisten dan ekonomis

Pengujian yang konsisten dan memiliki efektifitas biaya serta menunjukkan karakteristik yang memadai baik sensitifitas dan kekhususannya merupakan unsur penting dalam mengidentifikasi hewan atau kelompok hewan yang tertular penyakit agar dapat dilakukan tindaklanjut yang tepat. Pengujian yang konsisten juga diperlukan untuk klasifikasi kelompok hewan ternak dan identifikasi kelompok hewan pengganti yang berisiko rendah. Pemahaman yang baik tentang sensitifitas dan kekhususan serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik ini juga diperlukan untuk mengembangkan pengujian dan strategi-strategi surveilans yang tepat .

  1. Fitur-fitur epidemiologi yang memfasilitasi deteksi kasus dan surveilans yang efektif

Penyakit-penyakit yang sebagian besar subklinis dan uji diagnosis yang memiliki sensitifitas buruk biasanya sulit dan mahal untuk dideteksi, sehingga identifikasi kasus yang dapat diandalkan dan tindakan pengendalian penyakit sulit untuk dilaksanakan. Penyakit yang dapat dideteksi melalui skrining secara rutin terhadap sampel-sampel yang ada atau melalui pengujian sederhana terhadap kelompok ternak (misalnya skrining rumah potong, sampel susu dalam jumlah banyak) lebih sesuai untuk program yang efektif dibanding penyakit-penyakit yang memerlukan pengujian hewan dipeternakan dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi hewan ternak dan kelompok hewan ternak yang tertular penyakit.

  1. Tindakan-tindakan pengendalian yang mudah diterapkan, relatif tidak mahal dan sangat efektif untuk mencegah penyebaran infeksi

Setiap program pengendalian atau pemberantasan penyakit tergantung pada pelaksanaan satu atau lebih dari satu tindakan pengendalian untuk menyela penyebaran penyakit atau mengurangi prevelansi. Meskipun dimungkinkan untuk melakukan pengendalian atau bahkan pemberantasan penyakit dengan alat yang tidak sempurna (misalnya brucellosis, TB), namun semakin efektifnya tindakan yang dilakukan maka akan semakin besar kemungkinan program mencapai keberhasilan. Apabila semakin sedikit yang diketahui tentang penyebaran penyakit dan tindakan-tindakan pengendalian yang dilakukan dipeternakan, maka akan semakin sulit untuk mengendalian penyakit di tingkat regional atau nasional. Tindakan-tindakan yang dilakukan haruslah efektif untuk mencegah penyebaran antar peternakan, juga harus efektif untuk mengurangi atau mencegah penyebaran penyakit pada peternakan yang telah tertular penyakit.

Penilaian risiko suatu kasus penyakit dan penyebarannya harus dilaksanakan secara sempurna (probabilitas suatu penyakit dan konsekuensinya) dengan menggunakan beberapa skenario (dengan pilihan tanpa pengendalian dan dengan pengendalian atau pemberantasan).

  1. Penyediaan stok hewan pengganti yang bebas penyakit dari sumber ternak yang memadai dan memiliki kualitas yang baik untuk menggantikan hewan ternak yang telah diafkir atau dimusnahkan selama masa kampanye pengendalian dan pemberantasan penyakit

Setiap program yang memerlukan pemotongan atau pengafkiran hewan yang terinfeksi penyakit sangat tergantung pada sumber hewan pengganti yang bebas penyakit. Jika prevalensi penyakit tinggi maka akan menjadi semakin sulit. Jika pengujian yang ada memiliki sensitifitas yang buruk kemungkinan juga akan sulit untuk mengidentifikasi hewan atau populasi yang memiliki risiko rendah sebagai sumber pengganti.

  1. Dukungan produsen dan masyarakat umum terhadap program dan ketaatan produsen untuk menjalankan persyaratan program

Jika tidak ada komitmen tingkat tinggi terhadap program diantara sesama produsen, hal ini akan mempengaruhi program baik secara kritikan, kerusuhan dan bahkan penolakan secara aktif yang akan menghambat pelaksanaan program dan berpotensi mengurangi keefektifan program. Untuk program-program yang dilaksanakan secara sukarela, pendidikan bagi peternak, dukungan, dan kesesuaian bahkan sangat penting untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan program.

  1. Justifikasi yang sesuai untuk pemberantasan atau pengendalian, didukung dengan analisis biaya manfaat

Program pemberantasan dan pengendalian penyakit yang dilaksanakan tanpa perencanaan yang jelas kurang mendapat dukungan dari produsen, pemimpin-pemimpin industri, dan pemerintah. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, alasan yang paling umum terkait dengan pelaksanaan program pemberantasan dan pengendalian penyakit adalah karena hal-hal yang mempengaruhi kesehatan masyarakat atau biaya yang akan dikeluarkan untuk pemberantasan dan pengendalian penyakit baik di tingkat industri maupun masyarakat. Jika program pemberantasan diusulkan, maka harus ada alasan yang jelas mengapa harus pemberantasan dan bukan pengendalian.

Analisis biaya manfaat harus dilakukan untuk program yang akan didukung, untuk menunjukkan bahwa program telah dipertimbangkan secara ekonomis dan hasil yang diharapkan (dalam hal penghematan anggaran biaya penyakit atau kerugian produktifits) melebihi biaya program untuk jangka panjang.

  1. Dukungan peraturan untuk memastikan bahwa program dapat dijalankan, termasuk pemenuhan kompensasi

Peraturan yang tepat diperlukan untuk mengimplementasikan pengendalian lalulintas, pemotongan qurban, kompensasi dan tindakan-tindakan lainnya termasuk jenis program yang diatur dengan undang-undang. Namun, meskipun program bersifat sukarela, dukungan legislatif kemungkinan diperlukan sebagai pondasi hukum bagi wilayah yang akan mendeklarasikan bebas penyakit dan pembatasan lalulintas serta penguatan persyaratan program.

  1. Konsekuensi ekologis dari program harus dinilai dan dibahas

Meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap isu-isu lingkungan dan ekologi juga harus menjadi pertimbangan penting di setiap program kesehatan hewan. Jika program yang diusulkan memiliki dampak lingkungan atau ekologis tentu pemerintah atau masyarakat tidak akan mendukung program ini. Namun, program-program yang memiliki dampak positif terhadap lingkungan (sebagai contoh dengan mengurangi populasi hewan liar) kemungkinan akan didukung.

  1. Pendanaan yang memadai untuk program

Setiap program kesehatan hewan dapat mengalami kegagalan tanpa pendanaan yang memadai. Dalam iklim ekonomi saat ini pemerintah enggan menyatakan kesanggupan menyediakan anggaran dalam jumlah besar kecuali ada hasil positif dan manfaat yang akan didapat oleh masyarakat dari program ini. Industri-industri peternakan merupakan penerima manfaat utama dari program pengendalian penyakit, mereka juga diharapkan dapat menjadi penyedia dana utama di beberapa negara. Persyaratan kontribusi industri juga telah meningkatkan isu tentang bagaimana mengumpulkan dana dari produsen-produsen di suatu negara atau di tingkat regional, biasanya dalam bentuk pajak penjualan atau pemotongan.

Aplikasi tindakan pengendalian berdasarkan status infeksi

Salah satu cara untuk dipikirkan tentang tindakan pengendalian dan pemberantasan adalah mempertimbangkan tindakan-tindakan yang dapat diaplikasikan berdasarkan status infeksi dari peternakan perseorangan atau desa (Toma, dkk, 1999).

Tindakan pengendalian yang dilakukan pada tempat yang tertular penyakit

Di Australia tempat yang paling sering dilakukan tindakan pengendalian adalah di peternakan. Sebuah peternakan biasanya merupakan satu tempat di satu lokasi walaupun bisa saja mencakup kawasan yang luas dan hewan dengan berbagai spesies dalam jumlah yang banyak. Dikawasan lain didunia mungkin lebih logis jika tempat pengendaliannya di sebuah desa atau beberapa tempat lainnya. Sebuah unit biasanya relatif lebih kecil dimana hewan-hewannya mudah digembala selama proses pemberian makan.

Untuk penyakit-penyakit yang menular, tahapan pertama yang paling penting dilakukan pada pengendalian adalah melakukan tindakan karantina yang biasanya diikuti dengan pembatasan lalulintas hewan kedalam dan keluar peternakan. Pada kebanyakan kasus semua lalulintas hewan dan produk hewani dan semua bahan-bahan yang terkait seperti (pakan ternak, peralatan, dll) dapat dihentikan dan bahkan lalulintas manusia kedalam dan keluar tempat-tempat yang tertular penyakit dapat dikendalikan secara hati-hati.

Langkah penting kedua untuk penanganan penyakit menular biasanya dengan memotong semua hewan yang diduga tertular penyakit pada peternakan yang tertular penyakit dan memusnahkannya untuk mengurangi risiko tertular (penguburan atau pembakaran) bersama dengan semua peralatan yang terinfeksi penyakit seperti tempat tidur atau peralatan lainnya. Untuk penyakit yang tidak begitu menular, mungkin dapat dilakukan pengujian hewan dan hanya memotong yang telah diketahui tertular penyakit. Sebagai alternatif, hewan bisa dikirimkan untuk di proses tapi tidak ditransfer ke properti lainnya.

Tindakan-tindakan yang dilakukan ini diikuti dengan disinfeksi peternakan untuk meminimalisir kemungkinan agen penular penyakit bertahan didalam lingkungan dan penerapan tindakan biosekuriti untuk mengurangi risiko penyakit yang secara tidak sengaja terbawa ke peternakan. Tindakan ini mencakup disinfeksi dan penggantian pakaian dan kendaraan pada saat masuk dan keluar ke/dari peternakan, pengendalian lalulintas manusia dan lain-lain yang masuk dan keluar peternakan.

Penelusuran maju dan penelusuran mundur harus dilakukan untuk mengidentifikasi setiap lalulintas kontak yang berisiko tinggi yang akan masuk dan keluar peternakan dalam periode waktu sebelum penyakit dideteksi. Tempat-tempat lainnya yang akan diidentifikasi melalui prosedur ini juga harus dikunjungi dan diperiksa untuk melihat apakah ada bukti penularan penyakit. Dengan mengetahui masa inkubasi penyakit, tanggal ketika peternakan tertular penyakit dan tanggal lalulintas yang masuk dan keluar peternakan juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi jendela yang paling memungkinkan untuk penelusuran. Jika tanggal ketika peternakan kemungkinan telah tertular penyakit dapat diidentifikasi maka semua lalulintas yang keluar dari peternakan pada waktu itu hingga masa karantina harus diperiksa.

Apabila infeksi telah dapat dihilangkan dari sebuah peternakan, biasanya peternakan tersebut akan dibiarkan kosong tanpa hewan ternak untuk periode waktu tertentu. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa apabila hewan ternak dibawa kembali ke peternakan (restocking) mereka tidak akan tertular kembali oleh agen penular penyakit yang mungkin saja masih bertahan didalam lingkungan peternakan. Jangka waktunya tergantung pada seberapa lama agen penular penyakit dapat bertahan didalam lingkungan peternakan.

Jika pemberantasan adalah tujuan dari kebijakan respons, maka perlu ditunjukkan bahwa pemberantasan telah dicapai sebelum suatu kawasan atau wilayah dapat mendeklarasikan dirinya bebas penyakit. Bukti bebas penyakit merupakan fungsi penting dari surveilans dan akan dibahas lebih lanjut didalam manual yang berbeda.

Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan pada peternakan yang bebas penyakit

Peternakan yang bebas penyakit dapat diibaratkan seperti sebuah kastil yang terletak didaerah terpencil dan terpisah dengan sungai kecil yang mengelilinginya. Prinsipnya adalah tindakan-tindakan ini haruslah dilakukan untuk mencegah penyakit masuk ke area peternakan.

Hewan dan setiap produk yang dapat menularkan penyakit hanya boleh diijinkan masuk peternakan jika mereka telah dinyatakan bebas penyakit. Hal ini mungkin sulit untuk dilakukan. Akan lebih aman jika tidak mengijinkan hewan-hewan ini masuk ke peternakan. Jika hewan-hewan ini harus masuk maka mereka harus diuji dan diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan bahwa mereka tidak tertular penyakit.

Tindakan biosekuriti yang ketat harus ditekankan termasuk pembatasan pengunjung dan disinfeksi serta tindakan-tindakan lainnya seperti (mengganti pakaian, kendaraan, dll) pada pintu masuk dan keluar.

Jika penyakit bisa menyebar melalui udara atau air (aliran sungai atau aliran air didarat), hewan-hewan liar, serangga, burung, dll maka setiap risiko ini harus dipertimbangkan dan tindakan-tindakan untuk mitigasi risiko harus dilakukan. Mungkin akan berguna untuk memindahkan hewan ternak jauh dari batas peternakan dan membangun penghalang disepanjang batas peternakan tersebut. Tindakan pengendalian lainnya untuk hewan pengerat atau hewan liar lainnya juga dapat dilakukan jika diperlukan.

Pada kebanyakan kasus khususnya dimana prevalensi penularan disekitar peternakan mungkin tinggi, peternakan bisa saja tertular penyakit meskipun semua tindakan-tindakan pengendalian yang ada dilakukan.

Sebagai contoh: Rabies di Bali

Ketika wabah rabies terjadi di Bali tahun 2008, wilayah ini tidak memiliki kebijakan terkait dengan perawatan profilaksis yang dimulai segera setelah eksposur terhadap penyakit untuk mencegah penyakit semakin parah (PEP), tidak ada surveilans gigitan anjing, tidak ada fasilitas diagnosis rabies dan tidak ada program vaksinasi anjing. Namun, pada tahun-tahun selanjutnya Pemerintah Indonesia telah menyediakan PEP untuk manusia dan vaksin untuk hewan, pengujian diagnosis dilakukan di BBvet Denpasar dan surveilans dilakuan terhadap anjing yang mati atau dibunuh sebagai bagian dari program pengafkiran hewan (culling) atau yang menunjukkan tanda-tanda neurologis. Culling terhadap anjing yang bebas penyakit ditempatkan di beberapa kawasan namun kelihatannya menurunkan tingkat produktifitas karena masyarakat bereaksi sangat keras dengan cara menyembunyikan atau memindahkan anjing-anjingnya untuk menghindari pengafkiran dan penggantian anjing yang telah diafkir.

Sebagian besar anjing memiliki pemilik, sebagian besar lainnya merupakan anjing liar. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memberikan vaksinasi booster sesering mungkin dengan menggunakan vaksin yang diproduksi secara lokal namun ada permasalahan serius dalam mencapai cakupan wilayah yang dapat diberikan vaksin secara efektif. Vaksin yang dapat bertahan lama diberikan sekitar tahun 2009 dan pertengahan tahun 2011, saat itu ada sekitar 250,000 anjing divaksinasi (cakupan wilayah >70%). Program vaksinasi kedua dengan cakupan wilayah yang lebih luas dilakukan pada akhir 2011.

Vaksinasi masal menunjukkan keefektifan terhadap pengurangan kasus rabies pada anjing, mengurangi paparan penyakit dan kasus rabies pada manusia. Vaksinasi masal harus dilanjutkan seiring dengan surveilans yang efektif serta pengendalian lalulintas anjing antarpulau jika pengendalian rabies akan dipertahankan dan penyebaran penyakit ke pulau lainnya akan dicegah.

Publikasi terbaru (Townsend, dkk 2013) menerapkan penggunaan pemodelan matematika untuk menjawab pertanyaan apakah vaksinasi masal akan berhasil memberantas rabies di pulau Bali.

Pengarang menyimpulkan bahwa satu program vaksinasi masal yang hanya mampu mencakup kurang dari 60% populasi anjing tidak akan berhasil melaksanakan pemberantasan penyakit, namun dua kampanye pemberantasan penyakit yang mampu mencakup 80% populasi anjing atau tiga kampanye yang berhasil mencakup 60% wilayah diprediksi mampu mencapai pemberantasan 90% contoh-contoh yang dijalankan.

Publikasi terkait (Agung Gde Putra, dkk, 2013) menunjukkan telah ada dua program vaksinasi masal yang berhasil mencapai ~70% dari jumlah anjing namun kasus rabies masih tetap ada dan kasus gigitan anjing pada manusia (kerentanan) masih tetap tinggi (lebih dari 4,000 per bulan). Townsend, dkk, (2013) menyampaikan bahwa meskipun keseluruhan cakupan pada program vaksinasi masal pertama masih tinggi (70%), dibutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan program dan hal ini bermakna bahwa cakupan wilayah mungkin sekitar 40% karena adanya pergantian hewan dan berkurangnya kekebalan.

Rabies incidence on Bali prior to island wide mass vaccination.jpg

Gambar 5.: Kasus Rabies di Bali sebelum vaksinasi masal. Dari Townsend, dkk (2013)

Townsend, Dkk, (2013) menyampaikan bahwa program pemberantasan penyakit dapat dicapai melalui tiga kampanye atau kampanye lanjutan vaksinasi masal, namun pengendalian dan surveilans yang dilakukan menjadi penting untuk mencegah kasus rabies terjadi kembali di masa yang akan datang walaupun jika pemberantasan telah tercapai. Pemberantasan akan menyelamatkan 55 kematian manusia per tahun namun tetap dibutuhkan surveilans dan pengendalian.

Pengendalian yang dilakukan berlanjut tanpa pemberantasan diprediksi dapat menyelamatkan sekitar 44 kematian manusia per tahun (beberapa kematian tetap terjadi) dan memerlukan pendanaan untuk program vaksinasi masal dan PEP pada manusia.


Merancang program kesehatan hewan yang sesuai

Tantangan untuk merancang program kesehatan hewan adalah bagaimana mengkombinasikan semua unsur agar dapat menghasilkan efektifitas biaya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Isu-isu utama dalam perencanaan dan rancangan program kesehatan hewan regional yang sesuai meliputi:

  • Bagaimana situasi terkini (seberapa umum penyakit tersebut, masukan dan alat-alat yang tersedia, dll)?
  • Seperti apakah situasi yang diharapkan?
  • Apakah program regional pendekatan yang tepat?
  • Apakah program regional ini akan berhasil?
  • Apakah program yang diusulkan akan menjadi program sukarela atau yang diatur dengan undang-undang?
  • Alat pengendalian apa yang tersedia dan dapat digunakan didalam program yang dapat mengefektifkan hal-hal yang menjadi fokus program?
  • Sumber daya apakah yang tersedia untuk melaksanakan program?
  • Apakah program yang diusulkan akan berhasil dilaksanakan?
  • Siapa penerima manfaat utama dari program ini?
  • Bagaimana program akan didanai?
  • Bagaimana program akan dikelola?

Pada sebagian besar kasus, setiap program terdiri atas satu atau beberapa strategi yang dibahas diatas. Apabila program dan strategi yang sesuai telah diidentifikasi, dan cara penerapannya telah ditetapkan, maka rencana bisnis dan operasional program secara terperinci dapat disusun.

Rencana program menjelaskan tentang manajemen dan operasi program dan harus mencakup:

  • Mendefinisikan tujuan atau sasaran program secara keseluruhan;
  • Mengidentifikasi sasaran khusus, perkembangan yang mana yang dapat diukur dan dilaporkan;
  • Memberikan penjelasan lengkap tentang bagaimana program akan dikelola;
  • Mendefinisikan peran dan tanggungjawab organisasi dan personil inti yang ikut serta dalam program;
  • Memasukkan anggaran rinci dan sumber-sumber pendanaan program;
  • Mengidentifikasi peraturan dan undang-undang yang diperlukan atau tersedia untuk mendukung program;
  • Mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan untuk mengimplementasikan program dan darimana sumber daya tersebut berasal;
  • Mendefinisikan acuan waktu, sasaran dan proses monitoring untuk mengevaluasi perkembangan program; dan
  • Memberikan poin-poin dan kriteria keputusan untuk keputusan penting seperti apakah program akan dilanjutkan, diubah atau ditinggalkan.

Pada beberapa kasus suatu perencanaan program dapat dibagi menjadi rencana bisnis yang mencakup tujuan-tujuan yang lebih luas, manajemen, tanggungjawab dan pendanaan; dan yang lainnya adalah rencana operasional (biasanya ditinjau secara tahunan) yang memberikan rincian program tentang sasaran khusus, sumber daya dan kegiatan operasional sehari-hari.

Pemantauan kinerja program

Keberhasilan suatu program kesehatan hewan sangat bervariasi, tergantung pada faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, jika kinerja program tidak dimonitor dan tidak ditinjau secara reguler, pemangku kepentingan tidak akan mengetahui apakah program berhasil atau tidak. Oleh karenanya, pemantauan terhadap kinerja program yang sedang dilakukan dan peninjauan kembali pencapaian-pencapaian berdasarkan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan penting bagi setiap program kesehatan hewan.

Penting untuk memantau kinerja baik secara finansial maupun berdasarkan sasaran-sasaran kesehatan hewan yang ingin dicapai. Sebuah program dapat dijalankan dengan sangat efisien dalam hal keuangannya dan tetap bagus dalam hal anggarannya, namun gagal mencapai sasaran-sasaran kesehatan hewan, dan sebaliknya, bisa saja menunjukkan kegagalan program secara signifikan.

Sebagai bagian dari proses perencanaan, milestone harus ditetapkan untuk meninjau kembali perkembangan sasaran yang ingin dicapai. Apabila pada tahap peninjauan kembali sasaran program belum dapat dicapai, hal ini harus menjadi pemicu respons untuk menidentifikasi mengapa sasaran-sasaran ini tidak dapat dicapai, dan selanjutnya agar dapat dilakukan tindakan untuk mengoreksi kekurangan-kekurangan ini. Pada beberapa kasus, rencana bisnis atau rencana operasional serta anggaran mungkin harus ditinjau kembali dan mungkin harus diubah. Pada beberapa kasus berat perombakan program secara menyeluruh mungkin perlu dilakukan.


Ekonomi pengendalian penyakit hewan

Penyakit hewan memiliki dampak yang beragam dan dapat dipresentasikan dengan istilah ekonomi yang berbeda-beda. Para ekonom menggunakan unit moneter (dolar) untuk menginformasikan pengambilan keputusan yang rasional tentang alokasi sumber daya yang sukar didapat dan diantara pilihat yang bersaing. Para ekonom biasanya memfokuskan pada penggunaan sumber daya (masukan) yang pada gilirannya akan menghasilkan barang (keluaran). Keluaran ini kemudian menghasilkan beberapa bentuk manfaat untuk manusia melalui pasar (produk yang digunakan atau dibeli konsumen).

Analisis ekonomi bisa saja rumit dan sulit untuk dipahami karena merefleksikan kerumitan sistem produksi hewan dan kesulitan dalam menggambarkan dan menilai dampak-dampak yang berpotensi terjadi di peternakan dan tingkat nasional.

Data yang diperlukan untuk evaluasi ekonomi

Untuk melakukan analisis ekonomi untuk membandingkan opsi-opsi pengendalian dan pemberantasan, adalah penting untuk mengumpulkan serangkaian data dan informasi yang meliputi (Rushton, dkk 2012):

  • Sistem produksi ternak atau sistem (jika ada beberapa sistem berbeda) secara rinci yang mampu memberikan gambaran tentang produksi dengan atau tanpa penyakit. Biasanya akan membutuhkan beberapa contoh untuk memberikan simulasi tentang sistem produksi (jumlah bibit betina, jumlah yang hamil, jumlah anak sapi yang lahir, angka kerugian tahunan, jumlah yang mati, dll).
  • Kasus dan dampak penyakit pada sistem produksi ternak (dampak mortalitas, morbiditas, produksi) dan faktor-faktor diluar sistem produksi.
  • Tindakan pengendalian yang mungkin dilakukan termasuk dampaknya pada kasus penyakit, produksi ternak dan harga pasar.
  • Rincian biaya yang berhubungan dengan pelaksanaan opsi-opsi pengendalian yang berbeda-beda.


  Products

(keluaran) Manfaat bagi manusia


 Resources

(masukan)

             
                 
                 
                 
  land     animals        
  labour     meat / milk / other      
  capital   manure        
  animals     work (traction)    
  feed     other      
  other            

Figure 7.: Livestock production system pathway showing effects of disease (from Otte and Chilonda, 2001)

Penyakit hewan berpotensi menghasilkan dampak yang merugikan pada setiap tahap di sepanjang jalur produksi ternak. Dampak penyakit dapat dikelompokkan menjadi kerugian langsung dan tidak langsung.

  • Kerugian langsung meliputi:
    • Mortalitas bibit atau hewan produksi
    • Efiensi produksi berkurang, sebagai contoh berkurangnya konversi pakan, tingkat kesuburan, tingkat pertumbuhan, dll. Hal ini dapat ditunjukkan sebagai tingkat masukan yang lebih tingkat untuk mempertahan keluaran yang diperlukan.
    • Berkurangnya jumlah produk (keturunan, susu, telur, daging, atau bulu, dll menjadi lebih sedikit), atau berkurangnya kualitas produk (kualitas kulit buruk karena kerusakan berat, susu terpaksa harus dibuang karena mastitis, dll)
    • Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk diagnosis dan mengobati hewan-hewan sakit (biaya dokter hewan dan obat).
  • Kerugian tidak langsung meliputi:
    • Biaya-biaya tambahan untuk tindakan-tindakan pengendalian atau pemberantasan penyakit
    • Biaya-biaya kesehatan manusia yang berhubungan dengan dampak-dampak kesehatan yang disebabkan oleh penyakit-penyakit zoonosis (BSE, HPAI, Salmonellosis) atau karena konsekuensi-konsekuensi tindakan pengendalian (residu bahan kimia dalam produk)
    • Dampak negatif bagi kesejahteraan hewan karena penyakit dan karena tindakan-tindakan pengendalian
    • Pembatasan perdagangan karena penyakit dan karena tindakan-tindakan pengendalian
    • Hilangnya kepercayaan konsumen di pasaran yang mengakibatkan berkurangnya permintaan atau mengubah tingkah laku konsumen
    • Sejumlah dampak negatif yang mungkin ditimbulkan seperti perubahan sistem produksi yang mungkin melawan penyakit namun hal ini bisa menjadi tidak efisien atau berpotensi menimbulkan dampak negatif lainnya (menggunakan resistensi genetif dengan berkurangnya efisiensi produksi).

Biaya langsung penyakit telah didefinisikan sebagai jumlah kerugian produksi dan pengeluaran yang terjadi karena penyakit. Komponen yang berkontribusi terhadap biaya langsung meliputi L + R + T + P ( ennett 2003):

  • L= nilai kerugian yang diakibatkan dari berkurangnya keluaran karena adanya penyakit dibandingkan ketika tidak ada penyakit;
  • R= meningkatnya pengeluaran untuk sumber daya non-veteriner yang diakibatkan karena adanya penyakit (bertambahnya tenaga kerja, pakan, biaya-biaya kendaraan, peralatan, dll);
  • T= pengeluaran untuk diagnosis dan pengobatan penyakit pada hewan-hewan yang terinfeksi penyakit;
  • P= pengeluaran luntuk angkah-langkah profilaksis untuk mencegah infeksi dan penyakit pada hewan-hewan yang sehat.

Metode-metode evaluasi ekonomi

Analisis ekonomi terkait dampak yang diakibatkan oleh suatu penyakit dapat dilakukan pada level ekonomi mikro (peternakan atau rumah tangga) atau pada level ekonomi makro (sektor industri atau negara). Ada istilah-istilah dan metode-metode yang sedikit membingungkan dalam analisis ekonomi sistem produksi serta dampak penyakit terhadap sistem-sistem ini.

Pada tingkat mikro-ekonomi pendekatan yang paling umum melibatkan anggaran parsial dan analisis margin kotor. Di sektor atau tingkat nasional lebih umum untuk melihat beberapa bentuk analisis biaya-manfaat (BCA). Istilah-istilah ini membutuhkan beberapa penjelasan singkat.

Istilah anggaran berarti estimasi pendapatan dan pengeluaran yang diharapkan.

Seluruh anggaran perusahaan atau peternakan memperhitungkan pendapatan (keluaran) dan biaya-biaya (pemasukan) untuk perusahaan atau peternakan. Biaya-biaya pemasukan meliputi biaya tetap dan biaya variabel.

Biaya tetap untuk peternakan atau perusahaan bervariasi hanya untuk jangka panjang dan jika masih terjadi walaupun jika keluarannya nol. Biaya tetap biasanya meliputi tenaga kerja permanen termasuk staf yang dibayar dan keluarga pemilik, penyusutan (infrastruktur, kendaraan, mesin, peralatan), pemeliharaan dan perbaikan, biaya bahan bakar (di mana mereka tidak dapat dengan mudah ditugaskan pada salah satu perusahaan), sewa, bunga.

Biaya variabel adalah biaya-biaya yang terkait langsung dengan jumlah keluaran yang diproduksi dan akan turun menjadi nol jika keluaran yang ditetapkan nol. Biaya variabel dapat dialokasikan untuk kegiatan tertentu perusahaan (misalnya produksi ternak vs tanam). Biaya Variabel meliputi pakan, jumlah hewan yang dimasukkan, benih, pupuk, biaya pemasaran dan tenaga kerja kasual yang dipekerjakan untuk pekerjaan tertentu seperti pengebirian anak sapi. Biaya operasional kendaraan umumnya tidak termasuk dalam biaya variabel kecuali mereka dapat dengan jelas dialokasikan untuk sebuah perusahaan tertentu. Jika jumlah sapi peternakan ganda, maka biaya variabel yang terkait dengan membawa stok tambahan, seperti biaya pakan dan biaya obat-obatan (dosis obat, vaksinasi) juga akan dua kali lipat.

Analisis margin kotor didefinisikan sebagai pendapatan kotor dari suatu perusahaan dikurangi biaya variabel yang dikeluarkan dalam mencapai pendapatan tersebut dan umumnya dihitung secara per-tahun namun tidak termasuk biaya-biaya tetap. Margin kotor untuk suatu perusahaan adalah penghasilan kotor dikurangi biaya variabel selama periode satu tahun. Margin kotor umumnya dihasilkan di unit seperti $ per hewan atau sejenis hewan atau per satuan luas lahan (ha). Margin kotor bukanlah ukuran keuntungan karena tidak termasuk biaya tetap yang harus dipenuhi terlepas dari ukuran suatu perusahaan. Margin kotor memungkinkan untuk membandingkan perusahaan sejenis dan memungkinkan penilaian terhadap dampak perubahan dalam praktik-praktik manajemen.

Anggaran parsial berarti hanya merangkum perubahan-perubahan dalam pengeluaran dan pendapatan ketika beberapa perubahan kecil yang dibuat untuk manajemen atau masukan lain dalam sistim produksi (menggunakan suplemen pakan baru atau vaksinasi/dosis obat hewan). Anggaran parsial umumnya mempertimbangkan empat komponen:

Tabel 7.: tabel ini menunjukkan komponen-komponen anggaran parsial untuk menilai dampak ekonomi dari perubahan kecik yang dilakukan dalam praktik-praktik manajemen.


Costs Benefits
biaya-biaya baru penghematan biaya
kerugian pendapatan pendapatan baru

Partial budgets are relatively simplistic and may not represent all the factors that might be relevant in a decision about investing in some change in management practices.

Tabel 7.: Tabel menunjukkan pendekatan estimasi anggaran parsial


Change Amount Unit price Gains Costs
Suplemen pakan baru S kg $s /kg S*$s
Pakan tambahan yang diperlukan F kg $f /kg F*$f
Tenaga kerja tambahan D hari $d /hari D*$d
Berat badan tambahan sapi W kg $w /kg W*$w
Pupuk tambahan yang terjual M kg $m /kg M*$m
Anggaran parsial [W*$w + M*$m] - [S*$s + F*$f + D*$d]

 

The example above shows a simple partial budget that attempts to assess the impact of a new feed supplement on weight gain and manure output in a cattle production enterprise. If the benefits are larger than the costs then the management change may be considered worthwhile on economic grounds.


File:Http://wiki.isikhnas.com/w/File:Production function showing budget impacts before change.jpg File:Http://wiki.isikhnas.com/w/File:Production function showing budget impacts after change.jpg

Gambar 7.: Fungsi produksi menunjukkan dampak anggaran sebelum dan sesudah dilakukan perubahan pada praktik-praktik manajemen. Sisi sebelah kiri menunjukkan tindakan-tindakan atau manfaat secara keseluruhan dan biaya-biaya terkait dan sisi sebelah kanan menunjukkan manfaat dan biaya-biaya marjinal (Rushton 2009).


Seringkali perubahan yang dilakukan untuk mengendalikan atau memberantas penyakit ternak dan manfaat tindakan produksi ternak menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pelaksanaan seutuhnya. Selain biaya mungkin lebih tinggi di awal dan kemudian berkurang dari waktu ke waktu dan manfaat mungkin lebih rendah di awal dan perlahan-lahan naik dari waktu ke waktu. Hal ini sangat sulit untuk menilai dampak dari perubahan menggunakan anggaran parsial atau analisis margin kotor saja, terutama karena perubahan waktu mengubah nilai uang. Satu dolar yang dihasilkan saat ini (atau yang dihabiskan) saat ini tidak sama dengan satu dolar yang dihasilkan atau dihabiskan dalam waktu lima tahun mendatang, terutama karena adanya dampak dari hal-hal seperti inflasi dan diskon.

Seringkali metode seperti analisis margin kotor diperluas menggunakan kriteria tambahan yang memungkinkan untuk memasukkan unsur waktu yang dapat mengubah nilai uang. Mengkonversi nilai-nilai masa depan (manfaat atau biaya) umumnya melibatkan penerapan tingkat diskon.

{\mathit  {Present}}{\mathit  {Value}}={\mathit  {PV}}={\frac  {{X}_{{t}}}{{\left(1+r\right)}^{{t}}}}

dimana PV=nilai saat ini

Xt= jumlah uang pada tahun t

R adalah nilai diskon yang ditunjukkan sebesar (5%=0.05)

T= jumlah tahun dari tanggal saat ini

Nilai diskon juga digambarkan sebagai peluang untuk memanfaatkan biaya-biaya yang dikeluarkan. Ada banyak pendekatan yang berbeda untuk menetapkan tingkat diskon. Sebuah pendekatan yang masuk akal adalah dengan menggunakan tingkat suku bunga riil yang dapat diperkirakan sebagai tingkat nominal bunga (biaya meminjam uang) dikurangi tingkat inflasi. Jika suku bunga pasar adalah 7% dan inflasi 1.5% maka tingkat suku bunga riil adalah 5.5%. Pendekatan alternatif adalah dengan menggunakan perkiraan tingkat pengembalian yang anda bisa dapatkan jika anda menginvestasikan uang dalam investasi alternatif dengan profil risiko yang sama (sebagai contoh investasi di bank atau di pasar modal).

Jika semua manfaat dan biaya ke depan telah disesuaikan sehingga semuanya dapat diukur dengan present value (PV), maka akan memungkinkan untuk melakukan perbandingan strategi-strategi berbeda yang mungkin memiliki pola manfaat dan biaya yang berbeda dari waktu ke waktu. Perbandingan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan salah satu dari tiga kriteria, yaitu: net present value, internal rate of return atau benefit-cost ratio.

Net present value (NPV) adalah perbedaan antara jumlah present value dari semua manfaat dan jumlah present value dari semua biaya. Jika NPV positif (present value manfaat lebih besar dari present value biaya) maka investasi layak untuk dipertimbangkan.

Internal rate of return (IRR) didefinisikan sebagai nilai diskon yang harus diterapkan untuk membuat NPV sama dengan nol. Apabila IRR lebih besar dari nilai diskon konvensional dari pada proyek perlu diperhitungkan karena temuan-temuan tersebut menyarankan investasi akan memberikan pengembalian yang lebih baik dibandingkan anda berinvestasi pada investasi alternatif.

Rasio Manfaat/Biaya (BCR) atau Analisis Manfaat/Biaya (BCA) atau Analisis Biaya/Manfaat (CBA) dihitung dengan membagi nilai manfaat saat ini dengan biaya-biaya nilai saat ini. Apabila rasio lebih besar dari pada 1 maka manfaat melebihi biaya dan investasi layak dipertimbangkan. Analisis Manfaat/Biaya sering kali adalah nilai-nilai terbanyak ketika melakukan pekerjaan di tingkat sektor atau nasional.

Rushton, dkk (2012) juga menggambarkan penggunaan analisis efektivitas biaya sebagai suatu aplikasi evaluasi ekonomis yang dapat diterapkan pada tahap awal tanggap wabah penyakit dan digunakan untuk mengarahkan keputusan terkait pelaksanaan kebijakan untuk mencapai hasil yang paling efektif per unit investasi. Prinsipnya adalah untuk mengidentifikasi potensi intervensi yang berhubungan dengan biaya dan dampak (hasil), dalam rangka untuk mencapai tujuan sebelum kebijakan dibuat. Evaluasi dapat dipresentasikan dalam hal biaya per hewan yang telah dideteksi atau biaya per hewan yang berhasil diselamatkan dan penerapan pendekatan ini dapat mengarahkan keputusan tentang strategi mana yang akan dilaksanakan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan dengan cara-cara yang dapat menghemat biaya.

Selain itu juga penting untuk diketahui bahwa keputusan di tingkat manapun juga hanya mengandalkan sebagian langkah-langkah ekonomis yang rasional. Peternak bisa memilih satu dari pilihan-pilihan yang ada karena persepsi risiko atau untuk alasan pribadi bukan semata mata berdasarkan perkiraan untuk keuntungan ekonomi. Hal tersebut mungkin menjelaskan mengapa orang memilih peternak perseorangan mungkin memilih pilihan yang tidak selalu terkait dengan penilaian NPV tertinggi atau BCR terbaik berdasarkan analisis ekonomi .

Makroekonomi vs mikroekonomi

Mikroekonomi mengacu pada perkiraan biaya dan manfaat di tingkat peternakan.

Makroekonomi mengacu pada analisis ekonomi yang dilakukan di tingkat agregat seperti di sektor industri (peternakan atau pertanian) atau pada ekonomi nasional secara keseluruhan. Makroekonomi adalah area yang sangat kompleks terutama ketika mencoba untuk menentukan pendekatan yang melibatkan interaksi antara penyakit hewan (termasuk dampak program pengendalian atau pemberantasan) di berbagai sektor perekonomian seperti konsumsi rumah tangga, perdagangan luar negeri, pariwisata, keanekaragaman hayati dan lain sebagainya.

Program penyakit hewan atau pengendaliannya yang menargetkan suatu penyakit yang berdampak pada area melewati pintu gerbang peternakan atau bahkan yang melampui sistem produksi ternak, maka kasus seperti ini perlu keterlibatan pemerintah dalam program pengendalian penyakit dalam mengatur manajemen risiko yang lebih baik untuk kepentingan seluruh penduduk negeri.

Countries may develop a shared responsibility for development and implementation of animal health and welfare policies including disease control programs. At one end of the scale where livestock producers are the primary beneficiaries of any improvement in outcomes, then the producers may be expected to pay for most or all of the costs associated with the program(s). At the other end of the scale where the benefits of any outcomes may be considered to mainly involve people or areas other than the livestock producer (public health, animal welfare, environmental benefit), then there is a stronger case for having government bear some or most of the costs (Bennett 2012).

References - economics of animal disease control

Gde Putra, A.A., Hampson, K., Girardi, J., Hiby, E., Knobel, D., Wayan Mardianna, I., Townsend, S. & Scott-Orr, H. (2013). Response to a Rabies Epidemic, Bali, Indonesia, 2008-2011. Emerging Infectious Diseases, 19(4):648-651.


Bennett, R. (2003). The 'Direct Costs' of livestock disease: The development of a system of models for the analysis of 30 endemic livestock diseases in Great Britain. Journal of Agricultural Economics, 54(1):55-71.


Bennett, R. (2012). Economic rationale for interventions to control livestock disease. EuroChoices, 11(2):5-11.


Chilonda, P. and Van Huylenbroeck, G. (2001). A conceptual framework for the economic analysis of factors influencing decision making of small-scale farmers in animal health management. Rev. sci. tech. Off. Int. Epiz. 20(3):687-700.


Dohoo, I., Martin, W. & Stryhn, H. 2010. Veterinary Epidemiologic Research, Charlottetown, Prince Edward Island, Canada, VER Inc.


Hanson, R. P. & Hanson, M. G. 1983. Animal Disease Control, Ames, Iowa, Iowa State University Press.


Hueston, W. D. 2003. Science, politics and animal health policy: Epidemiology in action. Preventive Veterinary Medicine., 60, 3-13.


Martin, S. W., Meek, A. H. & Willeberg, P. 1987. Veterinary Epidemiology, Ames, Iowa, Iowa State University Press.


Martin, S. W., Shoukri, M. & Thorburn, M. A. 1992. Evaluating the health status of herds based on tests applied to individuals. Preventive-Veterinary-Medicine, 14:33-43.


Otte, M.J. and Chilonda, P. (2001). Animal health economics: an introduction. Livestock Information Sector Analysis and Policy Branch, Animal Production and Health Division (AGA), FAO, Rome, Italy.


Rushton, J. The Economics of Animal Health and Production (2009). Wallingford, Oxfordshire, CAB International.


Rushton, J., Raboisson, D., Velthuis, A. & Bergevoet, R. (2012). Evaluating animal health investments. EuroChoices, 11(2):50-57.


Thrusfield, M. 2005. Veterinary Epidemiology 3rd edition, Oxford, UK, Blackwell Science.


Toma, B., Dufour, B., Sanaa, M., Benet, J.J., Ellis, P., Moutou, F. & Louza, A. (1999). Applied Veterinary Epidemiology and the Control of Disease in Populations. Paris, France, AEEMA.


Townsend, S.E., Sumantra I.P., Pudjiatmoko, B.G.N., Brum E., Cleaveland S., Crafter S., Dewi A.P., Dharma D.M., Dushoff J., Girardi J., Gunata I.K., Hiby E.F., Kalalo C., Knobel D.L., Mardiana I.W., Putra A.A., Schoonman L., Scott-Orr H., Shand M., Sukanadi I.W., Suseno P.P., Haydon D.T., Hampson K. (2013). Designing Programs for Eliminating Canine Rabies from Islands: Bali, Indonesia as a Case Study. PLoS Negl Trop Dis 7(8): e2372. doi:10.1371/journal.pntd.0002372.


Yekutiel, P. 1981. Lessons from the big eradication campaigns. World Health Forum, 2:465-490.